Novel Memoar Karya Putu Setia Diluncurkan

Denpasar- Putu Setia, yang kini menyandang nama pendeta Ida Pandita Mpu Jaya Prema Ananda, baru saja merilis buku terkininya berjudul “Lentera Batukaru”.

Novel memoar yang diterbitkan oleh penerbit KPG (2019) ini diluncurkan di Bentara Budaya Bali (BBB), Rabu (29/5/2019)..

Tampil sebagai pembahas yakni Widminarko (77) dan Wayan Westa (54), serta dimoderatori oleh I Made Sujaya, S.S., M.Hum.

Diskusi menjadi lebih menarik karena narasumbernya, Widminarko, adalah pelaku sejarah pada era 1960-an, sekaligus juga seorang jurnalis yang meraih puncak karir sebagai pimpinan redaksi di Bali Post dan Ketua PWI Bali selama dua periode (1983-1991).

Selain itu, Westa merupakan budayawan yang juga menekuni dunia jurnalistik.

Novel memoar “Lentera Batukaru” bertutur tentang keluarga-keluarga sederhana di lereng Gunung Batukaru, Bali.

Sebagaimana situasi zaman itu, tahun 1960-an, keluarga miskin tanpa pendidikan memadai ini terbawa pusaran arus sejarah dan diwarnai sederetan kisah kemanusiaan yang pilu.

Putu Setia menuturkan cerita pedih ini dengan memilih pendekatan jurnalistik, mengedepankan reportase dan teknik jurnalistik yang berimbang dan tidak sepenuhnya menggunakan bahasa sastra, dengan demikian tragedi dituturkan tanpa kemarahan, bahkan tanpa nada benci.

Pesan dikedepankan adalah bagaimana seseorang pasrah menerima takdir namun tetap beritikad memperbaiki diri lewat pendekatan kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selain bahwa kajian sejarah selalu berlandaskan pada data atau fakta yang obyektif, ada pula persepsi dalam masyarakat, bahwa hanya ‘tokoh’ dan bukan orang biasalah yang layak diabadikan dalam buku-buku biografi.

“Lentera Batukaru” adalah buku yang kesekian dari Putu Setia, kelahiran Desa Pujungan, Kabupaten Tabanan, 4 April 1951. Setelah pensiun sebagai jurnalis di Tempo Media Grup 2006, Putu Setia sudah menulis otobiografi “Wartawan Menjadi Pendeta” serta buku-buku budaya dan buku agama.

Cerita-cerita pendek Putu Setia terkumpul dalam sebuah buku antologi berjudul Intel dari Comberan (1994). Dua cerita pendeknya juga pernah dimuat dalam sebuah antologi berjudul Bali Behind The Seen (1996), yang disunting oleh Vern Cork.

Ia juga menulis esai tentang kehidupan di Bali, yang dikompilasikan ke dalam buku berjudul Menggugat Bali (1986), edisi revisi terbit tahun 2014 dengan judul Bali Menggugat. Buku ini pun memiliki sekuel berjudul Mendebat Bali (2002) dan Bali yang Meradang (2006). (zal)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*