Bisa Multi Tafsir, Hati-Hati Gunakan Bahasa di Media Sosial

Gianyar  – Internet menjadi kebutuhan pokok bagi setiap umat manusia. Faktanya kondisi saat ini sebagian besar masyarakat tidak bisa lepas dari internet termasuk dunia media sosial atau medsos.

Bahkan banyak orang memiliki lebih dari satu gawai hanya untuk terhubung dengan orang lain di dunia maya. “Dengan satu alat saja, orang sudah bisa mendapatkan  akses informasi dengan begitu cepatnya,” ujar Ni Nyoman Clara, director of communication BASABali Wiku dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Gianyar, Bali, Jumat 23 Juli 2021.

Lebih lanjut dikatakannya bahwa teknologi berbasis internet hampir digunakan dalam segala hal.  Apalagi di masa pandemi, kehidupan manusia sangat erat dengan dunia internet. Bahkan medsos yang awalnya hanya untuk hiburan dak aktualisasi diri sudah merambah juga untuk dunia pekerjaan dan bisnis.

Terkait medsos ini, Clara mengatakan bahwa media sosial dan bahasa ada hubungan erat. “Dunia digital tak lepas dari media sosial (medsos), sedangkan  dan medsos tak lepas dari bahasa. Media bahasa lisan kita jadi bahasa tulis di internet dan menjadi bahasa yang lebih friendly,” imbuh Clara dalam webinar yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerjasama dengan Siberkreasi.

Contohnya kata Clara, bahasa sapaan hi sis, hi bro menjadi bahasa di medsos yang diterima untuk suasana yang nonformal agar komunikasi terkesan lebih ramah. Kata kata ini menjadi sesuatu yang lumrah karena ada transfromasi kebahasaan. “Tapi bahasa friendly ini tidak bisa digunakan untuk konteks formal karena kurang etis,” jelas Clara yang sempat menjadi Duta Wisata di Bali ini.

Hal ini, lanjut Clara menjadi sapaan-sapaan yang lumrah digunakan dan tidak salah tapi harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Dikatakannya juga bahwa bahasa tulis di media sosial diusahakan agar tidak multi tafsir.

Sering juga tanda tanda baca tidak diperhatikan atau kesalahan grammar dan salah penggunaannya. Selain itu diperhatikan juga untuk jangan menyingkat nyingkat karena bisa multi tafsir. 

“Untuk konteks formal harus semua berbahasa Indonesia karena semua kata bahasa Inggris ada padanannya dalam bahasa Indonesia,” katanya. 

Kendari begitu memang tidak bisa terelakkan bahwa bahasa yang kita pergunakan bertranformasi dan beradaptasi terhadap keperluan penggunanya. Tidak bisa terelakkan. Penguna medsos dari seluruh dunia masing masing membawa budaya latar belakang masing-masing yang berbeda sehingga  menimbulkan variasi penggunaan bahasa.

Sementara itu pembicara lain Dewa Angga mengatakan bahwa sikap hati-hati harus ditanamkan sebelum memulai berselancar apalagi di dunia medsos. Termasuk dalam mengunggah profil bio di medsoso semisal Facebook.

“Berbahaya menuliskan data pribadi kita di status bio medsos tu bahaya meletakkan itu gak pada tempatnya kecuali di linked untuk bekerja kalau di FB buat apa, hal itu akan membuat orang mudah sekali untuk profiling yang bisa berdampak penyalahgunaan data pribadi untuk kejahatan,” ujar Dewa Angga.

Untuk menghindari ancama digital (data leaks) ada sejumlah cara diantaranya adalah jangan mengupdate data pribadi. Dan  sebelum share pastikan tidak ada data lain yang ikut tercapture. Selain itu hindari penyebaran melalu medsos yang tidak terkonfirmasi karena kita bisa mengotrol siapa saja yang bisa melihat. Jika ingin mengirim sesuatu pesan sebaiknya kirimi japri meski agak repot. Jika ada kesalahan maka impactnya tidak terlalu besar.

Dampak dari data leaks ini akan menimbukan ancaman doxing yaitu seolah-olah orang lain bisa impersonate atau berpura-pura menjadi diri kita. Teman kita bisa mengetahui aktivitas kita dan orang lain bisa mempergunakan data kita tanpa kita ketahui.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*