Diplomasi Seni Melalui Lensa: Film Dokumenter Fiksi Walter Spies Jembatani Kreativitas Bali dan Perth

0

Diinisiasi Yudha Bantono selaku project director, pemutaran film ROOTS di Perth ini bukan sekadar presentasi visual, melainkan upaya strategis untuk membuka ruang kolaborasi baru.

Pemutaran Film ROOTS One Hundred Years Walter Spies di Bali yang berlangsung di Underscore Gallery & Studio di Perth Western Australia (10/4)/dok.istimewa

PERTH – Sebuah momentum penting bagi diplomasi budaya antara Indonesia dan Australia tercipta di Underscore Gallery & Studio, Perth, pada Jumat (10/4/2026).

Pemutaran film dokumenter fiksi bertajuk ROOTS: One Hundred Years Walter Spies in Bali karya sutradara Michael Schindhelm menjadi katalisator bagi dialog lintas batas yang lebih mendalam.

Diinisiasi oleh Yudha Bantono selaku project director, pemutaran ini bukan sekadar presentasi visual, melainkan upaya strategis untuk membuka ruang kolaborasi baru.

Yudha, yang mendapatkan kepercayaan langsung dari Schindhelm untuk membawa karya ini, melihat antusiasme tinggi dari kalangan seniman di Perth sebagai sinyal positif bagi masa depan hubungan kreatif kedua wilayah.

“Pemutaran film ROOTS bukan sekadar memperlihatkan isi film, tetapi membuka peluang komunikasi dalam kerangka diplomasi seni dan budaya. Ini adalah kontribusi bagi kekayaan pemikiran dan kreativitas seniman Indonesia maupun Australia,” ujar Yudha.

Film ini menyoroti fragmen kehidupan Walter Spies, seniman legendaris asal Jerman yang menetap di Bali sejak 1925. Melalui arahan Schindhelm, penonton diajak menyelami keterlibatan Spies dalam sejarah awal pariwisata Bali serta interaksinya dengan tokoh dunia seperti Charlie Chaplin.

Narasi ini memberikan perspektif segar mengenai akar perkembangan seni rupa dan pertunjukan di Pulau Dewata.

Setelah sukses diputar di Bali, kehadiran film ini di Australia Barat menjadi langkah lanjutan untuk mempererat hubungan sosiokultural antara Perth dan Bali—dua lokasi yang secara historis memiliki ikatan emosional dan intensitas kunjungan yang tinggi.

Keberhasilan acara ini tidak lepas dari dukungan Underscore Gallery & Studio yang dikelola oleh Samuel Beilby dan Chandler. Ruang dialog yang tercipta di galeri tersebut diharapkan mampu memperkuat jejaring sosial-budaya melalui proyek seni yang berkelanjutan.

Perluasan Jejaring: Yudha dijadwalkan menetap sementara di Perth untuk melakukan audiensi dengan berbagai pemangku kepentingan dalam ekosistem seni lokal.

Realisasi Proyek: Fokus utama saat ini adalah mengubah dialog menjadi aksi nyata berupa kolaborasi berkelanjutan antara seniman Indonesia dan Australia.

Diplomasi Kreatif: Memanfaatkan seni sebagai instrumen soft power untuk memperkuat hubungan bilateral di tingkat akar rumput.

Dengan pengalaman panjang dalam membangun jejaring internasional, langkah Yudha di Perth menandai babak baru dalam upaya mengintegrasikan potensi kreatif seniman Indonesia ke panggung global yang lebih luas. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *