Waspadai ‘Pencuri Penglihatan’, JEC Group Ajak Masyarakat Deteksi Dini Glaukoma di World Glaucoma Week 2026

0


KABARDENPASAR – Menyambut Pekan Glaukoma Sedunia (World Glaucoma Week) yang jatuh pada 8–14 Maret 2026, JEC Group mempertegas komitmennya dalam memerangi kebutaan permanen. Mengusung tema global “Uniting for a Glaucoma-Free World,” JEC mengajak masyarakat untuk lebih waspada terhadap glaukoma yang sering kali berkembang tanpa gejala.

Glaukoma merupakan penyakit saraf mata progresif yang merusak saraf optik, biasanya akibat peningkatan tekanan bola mata di atas normal (10–21 mmHg). Penyakit ini menjadi penyebab kebutaan tertinggi kedua setelah katarak, namun bedanya, kerusakan akibat glaukoma bersifat permanen atau tidak dapat dipulihkan.

Ancaman Nyata di Indonesia dan Bali
Data menunjukkan tantangan besar di masa depan. Berdasarkan jurnal PubMed, penderita glaukoma dunia diprediksi melonjak dari 76 juta (2020) menjadi 111,8 juta orang pada 2040. Di Indonesia sendiri, prevalensinya mencapai 0,46%, atau sekitar 4-5 dari 1.000 penduduk.

Kondisi ini menjadi perhatian khusus di Bali. Survei Rapid Assessment of Avoidable Blindness (RAAB) menunjukkan prevalensi kebutaan pada warga Bali usia 50 tahun ke atas mencapai 2%. Dengan populasi lansia sekitar 1 juta orang, diperkirakan 18.016 orang di Bali mengalami kebutaan.

“Mayoritas kasus glaukoma tidak menunjukkan gejala awal, sehingga sering disebut sebagai silent thief of sight. Skrining rutin sangat krusial, terutama bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun atau memiliki faktor risiko,” ujar Prof. DR. Dr. Widya Artini Wiyogo, SpM(K), Ketua Glaukoma Service JEC Group.

Mengenal Jenis dan Penanganan Glaukoma
Glaukoma tidak hanya menyerang lansia, tetapi juga bisa terjadi pada bayi (glaukoma kongenital). Secara umum, terdapat beberapa tipe:

  1. Sudut Terbuka: Paling umum, berkembang perlahan tanpa nyeri.
  2. Sudut Tertutup: Terjadi mendadak dengan gejala nyeri hebat, mual, dan mata merah (darurat medis).
  3. Sekunder: Akibat cedera, penggunaan steroid jangka panjang, atau diabetes.

Dr. Luh Putu Intan Kartika Chandra Dewi, SpM dari JEC BALI @ Denpasar menjelaskan bahwa teknologi medis saat ini sudah sangat mumpuni untuk mengontrol tekanan bola mata. Pilihan terapi meliputi:

  • Medikamentosa: Obat tetes atau oral.
  • Laser: Prosedur minimal invasif seperti Selective Laser Trabeculoplasty (SLT).
  • Operasi: Teknik modern seperti Trabeculectomy hingga Minimally Invasive Glaucoma Surgery (MIGS) untuk pemulihan lebih cepat.

Layanan Gratis dan Pengembangan Wisata Kesehatan
Sebagai bentuk aksi nyata, JEC BALI @ Denpasar menggelar Free Glaucoma Screening. Program ini mencakup pemeriksaan tekanan bola mata (tonometri) dan kesehatan mata melalui layanan EyeCheck secara gratis bagi masyarakat.

Langkah ini juga sejalan dengan pengembangan Bali sebagai pusat wisata kesehatan dunia. JEC Group saat ini tengah membangun JEC BALI @ Sanur di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur dengan konsep “Blue Hospital”. Fasilitas berstandar internasional ini diharapkan mampu melayani warga lokal maupun wisatawan mancanegara dengan teknologi medis tercanggih.

“Kami berharap melalui edukasi dan pemeriksaan rutin, angka kebutaan akibat glaukoma di Bali dan Indonesia dapat ditekan secara signifikan,” tutup Dr. Intan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *