Lewat Puisi Bunga Merah, Bunda Putri Bius Penonton di Kampus ISI Denpasar

DENPASAR– Saat pusi berjudul “Bunga Merah” dibacakan seniman Ni Putu Putri Suastini seisi ruangan di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar terasa bergetar larut dalam suasana.
Kehadiran perempan yang disapa Bunda Putri, istri calon gubernur Bali nomor urut 1, Wayan Koster, memberikan warna tersendiri dalam perayaan Hari Kartini.

Dalam rangka mengapresiasi ketokohan Bunda Putri sebagai salah satu Kartini Bali masa kini, sebanyak 21 deklamator puisi membacakan puisi karya Bunda Putri yang terangkum dalam antologi puisi “Bunga Merah”.

Mereka adalah perempuan muda yang masih berstatus siswi SMP, SMA hingga mahasiswi. Acara bertajuk “Satu Ruang dalam Antologi Bunga Merah” ini dilaksanakan di kampus Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar, Minggu (22/4/2018) malam.

Sang suami, Wayan Koster, tampak hadir menemani Bunda Putri. Ia duduk di barisan penonton bersama Rektor ISI Denpasar Prof Dr I Gede Arya Sugiartha, Ketua Kaukus Perempuan Politik Indonesia (KPPI) Bali DAP Sri Wigunawati, sejumlah pegiat seni dan ratusan penonton.

Diiringi musik dan temaram cahaya lilin, puluhan perempuan muda ini membacakan puisi dengan segenap penghayatan, yang mampu memberi kesan mendalam bagi penonton.

Judul-judul puisi yang dibacakan para deklamator itu antara lain: Kutitip Satu Hati, Topeng, Perjalanan Sang Jiwa, dan sejumlah puisi lain yang mengangkat realitas di masyarakat, berdasarkan perspektif mata batin Bunda Putri.

Usai mereka membacakan puisi, giliran Bunda Putri diminta untuk membacakan puisi. Dengan gaya khasnya, Bunda Putri yang dikenal sebagai penyair mantra ini membacakan puisi “Sumpah Kumbakarna” karya Dhenok Kristianti. Penampilan Bunda Putri mengundang decak kagum penonton. Sesekali, sang suami terlihat mengangguk-anggukan kepalanya.

Perempuan yang dikenal ramah dan murah senyum ini menjelaskan makna puisi yang dibacakannya. Puisi tersebut, jelas Bunda Putri, hendak menggugah siapa saja agar senantiasa membela tanah air dengan rela mempertaruhkan jiwa dan raga.

Dalam puisi itu mengisahkan, Kumbakarna jelas mencela sikap kakaknya Rahwana yang menculik Dewi Sinta. Namun, Kumbakarna tidak pernah beranjak dari Kerajaan Alengka karena tidak ingin tanah kelahirannya terkoyak-koyak dan dikuasai orang lain.

“Maka, bersumpahlah Kumbakarna untuk membela tanah air dengan kepala sebagai taruhannya,” jelasnya usai pembacaan puisi.

Kemudianm mengungkapkan kekaguman atas kreasi dan kepiawaian 21 deklamator puisi muda yang membacakan karyanya. Bunda Putri berpesan agar penyair muda ini lebih mendapat dukungan sehingga pelestarian seni budaya di Bali tetap terjaga.

“Terlebih lagi, supaya seni tradisi serta seni masa kini sama-sama dapat berkembang di Pulau Dewata ini,” tegasnya lagi.

Dia berharap ke depan dapat mengembalikan kejayaan seni dan teater Bali supaya bisa gemilang seperti zaman dulu. Saya dulu ketika masih muda, sejak SD sudah menggeluti bidang seni. Berlanjut berkecimpung di bidang drama klasik Bali.

“Saya memiliki keinginan agar drama klasik ini bangkit dan meraih kejayaan lagi seperti dahulu,” lanjut Bunda Putri.

Di penghujung acara, Bunda Putri diserbu penggemarnya. Selain foto bersama, mereka juga minta Bunda Putri tanda tangan buku antologi Puisi “Bunga Merah”.(*)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*