Masyarakat Indonesia Lebih Kuat Budaya Mendengar dan Berbicara

0

Kupang NTT  -Banyak perubahan yang terjadi akibat pandemi virus Corona, pekerjaan tak seperti biasa bahkan banyak yang sudah ter PHK sehingga roda perekonomian melambat.

Pun begitu, banyak kredit macet terjadi di berbagai lembaga keuangan, pandemi membuktikan bahwa masalah keuangan bisa dialami siapa saja dan terjadi kapan saja. Sementara itu, keperluan rutin untuk kebutuhan hidup sehari-hari tidak bisa dihindari dan harus tetap dipenuhi bagaimanapun situasinya.

Agar roda perekonomian keluarga tetap berputar meski lambat, banyak pekerja yang membanting stir dari skill sebelumnya berubah di bidang baru semisal berjualan.

Menurut Fajar Sidik, Zinester & Podcaster, saat menjadi narasumber di Webinar Literasi Digital wilayah Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa 31 Agustus 2021, ada sejumlah pekerjaan yang banyak digeluti masyarakat selama pandemic yaitu kuliner, hortikultura, wiraswasta, konten creator dan hidroponik.

“Mungkin awal-awal pandemi orang-orang senang karena wah libur nih bisa di rumah aja tapi makin kelamaan orang-orang bingung nggak akan ngapain di rumah sehingga beralih ke banyak bidang pekerjaan ini,” ujar Fajar Sidik dalam webinar yang dipandu oleh Jhoni Chandra ini.

Mau tidak mau, banyak bidang pekerjaan yang bergantung dengan memanfaatkan dunia digital,. Karenanya setiap orang haruslah memahami dan menguasai aplikasi-aplikasi virtual yang ada untuk menambah ilmu, wawasan dan sebagai alat marketing bisnis dan pekerjaan di era digital.

“Jika tidak bisa memahami dan menguasai ini kita akan kesulitan dan media sosial pasti sudah tidak asing lagi dengan ini. Aplikasi-aplikasi ini harus dimanfaatkan untuk mengembangkan diri kita,” imbuhnya.

Semisal saja aplikasi dompet digital yang sangat penting untuk membantu program pemerintah menurunkan angka penyebaran covid-19 karena dapat mengurangi interaksi penjual beli.

Untuk berinteraksi di dunia digital dan pesan yang kita ingin sampaikan bisa diterima sesuai dengan yang kita inginkan.  Juga harus dipertimbangkan hal-hal berikut ini yaitu awali dengan pengantaran ide dengan merencanakan, tulis dan kita harus tahu juga kita ini untuk apa sih tujuannya untuk apa.

Setelah mengemukakan ide barulah memilih gaya bahasa dengan siapa ide itu akan disampaikan.  Misal menyampaikan ke dosen kita berarti pakai yang bahasa yang sopan. Setelah menyampaikan ide lewat bahasa yang sopan. Penting juga untuk mendapatkan feedback atau ulasan dari orang-orang yang sangat penting buat kita.

Yang juga tengah tren saat ini adalah penggunaan Podcast yang bisa digunakan untuk menyampaikan pesan dengan mudah dengan biaya produksi murah. Podcast juga memiliki pendengar premium dan ada potensi komersialnya. “Untuk orang-orang atau anak-anak jaman sekarang rela membayar bulanan bahkan tahunan untuk mendengarkan layanan premium termasuk pemutar podcast,” bebernya.

Dikatakannya juga bahwa saat ini podcast sudah menjadi trend dengan topik yang bisa dibicarakan tentang komedi, pengalaman pribadi ataupun soal religius. Podcast juga sangat fleksibel dan bisa di dengarkan dimana saja kapan saja. “Podcast juga dirasa sangat cocok di Indonesia. Seperti diketahui bahwa masyarakat Indonesia lebih kuat budaya berbicara dan mendengar daripada menulis dan membaca. Karenanya hal ini kita bisa optimalkan,” ungkapnya.

Selain Fajar Sidik, juga hadir sejumlah pembicara yaitu Chris Jatender Kaprodi Teknik Informatika, STTI STIENI, Yoseph Andreas Gual, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) dan Chika Mailoa sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *