Ekonomi Digital Dapat Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Sumba Timur  – Saat ini kemajuan perekonomian Indonesia tak bisa terlepas dari kemajuan dunia digital yang mengimbanginya. Menurut Dr. Maklon Felipus Killa, SE, M. Si, Rektor Universitas Kristen Wira Wacana Sumba ada banyak tantangan yang harus kita lalui dalam proses transformasi digital bagi kemajuan perekonomian Indonesia.

“Ada sejumlah fakta terkait ekonomi digital. Contoh saja terkait kontribusinya terhadap PDB 2018 Indonesia berada di bawah Vietnam dan Singapura. Dan semasa pandemic dalam proyeksi nilai ekonomi digital di negara-negara Asia tenggara 2019 dan 2025, Indonesia meningkat sekali ada di paling atas termait potensi layanan digital di Indonesia pasca covid 19,” ujar Maklon dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur, Senin 26 Juli 2021.

Dengan melihat fakta di atas, lanjut Maklom, maka berdasarkan informasi tersebut dapat dikatakan bahwa ekonomi digital dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Kendati begitu, dikatakannya lagi bahwa ada sejumlah tantangan transformasi digital yang harus dicari solusianya yaitu soal keamanan cyber, tingkat persaingan yang ketat, kesiapan sumber daya manusia, ketersediaan akses internet dan penyesuaian regulasi dan perkembangan zaman.

Terkait hal ini, ada sejumlah fakta soal kondisi fasilitas penunjang di NTT yaitu 15,40 persen keluarga tidak terjangkau listrik PLN, 15,79 persen jalan tidak dapat dilalui kendaraan, jalan kabupaten dengan kondisi bagus sebanyak 30 persen dan jalan provinsi kondisi bagus sebanyak 41 persen.

Sementara itu jaringan telekomunikasi potensial sangat dibutuhkan para pelaku ekonomi kreatif di pedesaan yang jauh dari dari kota untuk terlibat dalam sektor ekonomi kreatif. Untuk itu ada beberapa hal yang bisa dilakukan. Yaitu mereduksi jarak dan waktu, memudahkan kolaborasi dengan mitra, memudahkan akses pengetahuan dan sumber daya dan secara langsung/real time mengikuti perkembangan ide, pengetahuan, dan peluang terkini.

Fakta lain adalah secara fasilitas penduduk di NTT yang memiliki fasilitas akses internet belum mencapai 50 persen. Padahal masyarakat di daerah juga perlu disiapkan untuk proses transformasi digital. Karenanya perlu sekali peningkatan skill dan kemampuan teknologi informasi agar melek teknologi bagi individu yang bersaing dalam era kompetisi yang ketat.

“Pemerintah juga meningkatkan akses ,cakupan ,dan kualitas fasilitas pendukung teknologi informasi. Disamping itu  perguruan tinggi juga perlu meningkatkan riset dan inovasi teknologi yang memudahkan industri, terutama industri kecil,” ujar Maklon dalam webinar yang dipandu oleh Eddie Bingky ini.

Dunia digital juga perlu untuk memasarkan produk lokal terutama di daerah NTT. Hal ini juga disinggung oleh Adji Srihandojo, pembicara lainnya di acara yang sama. Menurut Adji Indonesia memiliki banyak potensi yang bisa ditampilkan, misalkan: produk makanan, minuman, buah-buahan, batik atau songket atau ulos, produk pertanian ,pariwisata ,kerajinan ,tas,sepatu rempah-rempah ,ukirannya, anyaman dan lukisan.

Untuk memasarkannya dan agar produk kita bisa dikenal pembeli adalah dengan menjual produk dari mulut ke mulut. Bisa juga lewat pengumpul, pasar tradisional (pasar basah), pasar wilayah,  pasar modern, koperasi ,BUMDES, KuBe dan online.

“Untuk pemasaran biasany para pelaku dunia usaha terutama UMKM harus mencermati sisi kualitas, kontinuitas, kemasan, pengiriman,  harga bersaing,  perizinan,  komunikasi, pelayanan dan kemudahan menjual,” ujarnya.

Dan terkait digitalisasi agar pemasaran bisa berjalan sukses maka sperlu menekankan pada upaya promosi, kemudahan pembayaran, pemesanan dan pelayanan yang prima.

Selain Maklon dan Adji, pembicara lain yang juga hadir adalah Ane Djara, Pembina Yayasan Adjaramanu dan Bayu Eka Sari sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*