Pakar Bagikan Empat Langkah Antisipasi Perundungan di Dunia Maya

Lombok Timur  -Terkenal sopan dan ramah, siapa sangka ternyata Indonesia menjadi negara dengan kasus perundungan tertinggi di dunia. Dikatakan oleh Darwin Wu, Director Geltech, hampir 49 persen orang di Indonesia pernah mengalami perundungan. Angka tersebut hampir 50 persen, dan menjadi salah satu yang tertinggi di dunia.
“Bullying atau perundungan adalah perilaku yang ditujukan untuk menyakiti seseorang baik secara fisik maupun mental yang dilakukan secara disengaja. Biasanya kasus perundungan sudah ada dan mulai terjadi saat memasuki usia sekolah,” kata Darwin Wu saat mengisi acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Jumat (10/9/2021).
Ia melanjutkan, salah satu penyebab utama seseorang menjadi pelaku perundungan adalah karena adanya masalah keluarga, mengalami stres dan atau pernah menjadi korban kekerasan perundungan.
“Biasa jadi dulu pelaku pernah jadi korban, lalu dia ingin pengalamannya dialami juga pada orang lain agar terus berkelanjutan,” lanjut Darwin Wu.
Darwin kemudian mencatut survei yang disajikan majalah Femina di mana media perantara perundungan paling tinggi adalah media sosial. Tak maik-main, angkanya angkanya sampai 74 persen.
“Parahnya lagi ada survei di mana 90 persen dari 800 ribu remaja yang disurvei mengaku tidak melakukan apa-apa saat melihat temannya dirundung di media sosial. Mereka diam saja bahkan kadang memperkeruh suasana,” katanya.
Sementara untuk jumlah korban, Darwin Wu mengatakan bagaimana 36. 7 persen korban perundungan adalah perempuan dan 12. 7 persen adalah kelompok laki-laki. Melihat angka perundungan di media sosial yang tinggi, Darwin Wu kemudian menekankan pentingnya langkah-langkah antisipasi menjadi korban perundungan di media sosial seperti berikut ini:
Pertama, mengoptimalkan fitur keamanan seperti menggunakan akun private atau menggembok kunci dengan hanya mengikuti dan diikuti oleh teman dan kerabat terdekat. Kedua, menjaga etika dan menjauhi isu SARA maupun hoaks sebelum mengunggah konten atau memberikan komentar di media sosial.
Ketiga, sangat tidak dianjurkan curhat berlebihan di media sosial. Kata Darwin, hal itu dapat memancing orang lain memberikan komentar negatif. Keempat, lindungi data lengkap dan pastikan tidak mengunggah hal-hal sensitif seperti alamat rumah dan nomor telepon.
Selain Darwin Wu, hadir juga dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Lombok Timur NTB yaitu CEO Fintech P2P Lending Anggie Ariningsih, Kabid Organisasi dan Kaderisasi PGRI Kabupaten Lombok Timur Moh Subiardi, dan Wicha Riska.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*