Headlines

Nuraeni HG dan Durhaka Seni Rupa Indonesia

Setidaknya telah terkuak rahasia dalam karya-karya Hendra Gunawan melalui kisah hidup Nuraeni HG. Kenapa demikian? karena awalnya memang tidak ada maksud sama sekali untuk meluruskan kesimpangsiuran yang dialami masyarakat seni rupa Indonesia dalam memahami karya sang maestro Hendra Gunawan. Namun melalui sesi pertama artist talk “Hajat Riwayat Nuraeni HG (Merayakan Seni Sebagai Jalan Hidup)”, Kamis (15/6) di Energy Building SCBD Jakarta, saya benar-benar terkejut mendengarkan cerita istri (ke dua) almarhum Hendra Gunawan ini sangat semangat mengutarakan kisah hidupnya setelah beragam pertanyaan ditanyakan oleh moderator perihal dirinya dan Hendra Gunawan.

Menurut saya sangat keren, masuk akal dan sangat jelas kenapa Nuraeni selama ini diam tak mau berbicara. Seolah-olah dia memang menjadi pihak yang dipersalahkan, bahkan ada pihak yang menginginkan dirinya dihilangkan dari kisah-kisah kelahiran karya-karya Hendra Gunawan, yang dihasilkan saat sang maestro dipenjara di Kebon Waru maupun karya setelah bebas.

Demikian juga, saya sedang tidak menghubung-hubungkan atau mencari benang merah untuk dijadikan alat bukti melihat karya Hendra Gunawan yang sesungguhnya. Seperti yang saya katakan saat mengantarkan dimulainya artist talk sesi ke dua dengan pembicara Jean Couteau, Risa Permanadeli dan Rizki A. Zaelani, bahwa pengalaman hidup terasa ketika telah meninggalkan kita. Salah satu hal yang mencolok bilamana kehadirannya itu berkaitan dengan kesimpangsiuran atas jejak-jejak yang ditinggalkannya. Tak banyak orang yang yang menggap bahwa melalui pengalaman hidup seseorang, justru akan ditemukan kembali nilai dan kebenaran.

Seperti perumpamaan yang saya sampaikan, jikalau ada orang yang bertanya dan mau mengenal ayah saya yang sudah almarhum, atau memahami pekerjaan beliau, atau karya beliau atau sifat beliau, atau apapun itu tentang beliau maka semestinya orang tersebut bertanya kepada Ibu saya yang masih hidup! Ibu yang menemani ayah di dalam suka dan duka, yang melahirkan dan membesarkan anak beliau, yang membantu beliau di dalam pekerjaannya dan bahkan ada di sisi beliau ketika beliau sakit dan menghembuskan nafas terakhir. Sangatlah keliru kalau orang bertanya kepada orang pintar atau orang yang merasa dirinya pintar, atau tukang obat yang tidak pernah mengenal beliau namun pernah membaca cerita beliau di koran atau mendengar cerita tentang beliau di kedai kopi. Bisa durhaka bila bertanya justru pada yang salah, lebih-lebih menganggap sang ibu dikatakan sudah tiada atau tidak mengerti.

Saya tiba-tiba tidak terasa berusaha ingin menggeser posisi tempat duduk untuk lebih mendekat saat Nuraeni bilang “saya kan yang menyiapkan warna-warna yang diperlukan Pak Hendra, begitu Pak Hendra berteriak Nur siapkan cobalt blue, yellow orange, green, maka saya harus sigap untuk menyiapkannya”. Ditambah lagi, ketika beberapa bidang kosong dari hasil sket lukisan dibantu diisi warnanya oleh Nuraeni. Beliau berada di samping sang maestro ketika skets dibuat, komposisi diatur atau bahkan ketika Hendra Gunawan meminta Nuraeni menjadi bagian tim untuk memenuhi pesanan lukisan dalam jumlah yang banyak. Lantas Nuraeni dikatakan atau tepatnya diberikan stigma tidak memahami karya-karya Hendra Gunawan baik itu tentang komposisi, warna maupun merek cat yang digunakan.

Belum sampai disitu, Nuraeni melanjutkan saat dipenjara untuk mendapatkan warna-warna itu tidak mudah, adakalanya kiriman warna datang banyak, adakalanya pula datang terlambat, yang terjadi Hendra harus menghemat warna. Sebetulnya teka-teki warna muram sejatinya bukan karena kepedihan namun bisa diartikan memang warna terbatas. Sesekali tidak sadar saya mengercingkan mata ahaha jelaskan dari yang suka menebak-nebak itu?

Saya sependapat dengan Jean Couteau, bahwa baik karya Hendra Gunawan dan Nuraeni memang membahas tentang kerakyatan, namun tidak dihadirkan atas konflik tapi justru terlihat harmoni. Karya-karya Nuraeni dan Hendra Gunawan memang saya lihat telah menghadirkan karakter dimana keduanya terlihat halus, meskipun ketika ingin menyuarakan keras tiba-tiba sangat terkendali menjadi halus kembali. Bisa saja baik Hendra Gunawan maupun Nuraeni sangat mengerti apa yang terjadi dalam melihat masalah, mereka terlihat seperti sangat piawai dalam merasionalitaskan apa yang dihadirkan, bukan sekedar faktor politik yang dikedepankan namun lebih ke faktor kultural yang jernih dan damai. Seperti halnya pada kehadiran sosok perempuan yang hadir sebagai bagian yang normatif, semisal sosok keibuan, orang sederhana, dan orang yang mencerminkan kerakyatan. Dan ini semuanya tiba-tiba dipertegas melalui pernyataan Nuraeni, bahwa kepadanya telah disampaikan rahasia-rahasia yang diselipkan di dalam karya sang maestro.

Berikut pula yang disampaikan Risa Permanadeli sangat menarik, bahwa selama ini banyak orang masih mempersoalakan watak atau style dari lukisan Nuraeni serupa dengan suaminya Hendra Gunawan, sehingga orang selalu mengatakan ia meniru dan lain sebagainya. Karena sebetulnya apa masalahnya kalau ia meniru ?, menurut Risa alasan seorang Nuraeni karena memang ia disuruh melukis oleh Hendra Gunawan dan diajari. Dan dalam kontek belajar tersebut, harus dicatat bahwa selama lima tahun dirinya betul-betul di-drill dari pagi hari hingga sore hari. Dalam arti tertentu, sebetulnya kesemuanya adalah keinginan Hendra Gunawan untuk memproteksi Nuraeni, tetapi waktu lima tahun itu membuat Nuraeni memiliki kontak yang paling intensif bersama Hendra Gunawan.

Bila ada yang mengatakan karya Nuraeni kok mirip dengan Hendra Gunawan, tentu jawabnya sudah sangat jelas, bahwa selama kegiatan melukis dengan Hendra Gunawan, mau tidak mau pasti akan menurunkan seluruh pengetahuan yang dimiliki oleh Hendra Gunawan, misalnya entah itu cara menggerakkan atau menggoreskan kuas, cara mencampur warna, cara membikin anatomi, dan sebagainya. Sehingga dengan sendirinya ketika ia akan melukis, kebanyakan yang keluar adalah apa yang dia peroleh selama lima tahun bersama sang guru.

Lagi-lagi saya tersenyum kembali ketika Risa mengatakan bahwa jangan lupa Nuraeni bukan hanya seorang murid dari Hendra Gunawan, tetapi dia juga istri dan dia juga ibu dari anaknya yang dia lahirkan bersama Hendra Gunawan ketika menikah di penjara Kebon Waru. Jadi dalam arti tertentu, dia adalah sebagian dari diri Hendra Gunawan dan ketika bagian itu kemudian terwujud dalam lukisannya kita tidak punya hak untuk memprotes, bahwa lukisannya mirip dengan Hendra Gunawan.

Sementara pada proses penciptaan ternyata tidak kalah menarik, termasuk siapa yang memesan karya, kemana karya itu keluar ataupun karya yang pernah disimpan oleh keluarga Nuraeni. Lebih sangat menarik lagi bila kemudian muncul pertanyaan sejauh mana pengaruh Ibu Nuraeni terhadap karya-karya Hendra Gunawan yang dikerjakan di dalam penjara Kebon Waru maupun setelah kebebasannya. Lagi-lagi Nuraeni dengan lantang bilang, “saya sebagai asisten tahu benar mana yang diperintahkan Pak Hendra untuk mengisi pada ruang-ruang tertentu”. Maka jelasnya Nuraeni sangat paham ada ruang dimana ia hadir dalam lukisan Hendra Gunawan. Ruang dan elemen warna seperti apa?. Sekali lagi Nuraeni yang paham.

Menurut Nuraeni, bukan itu saja bahwa Hendra Gunawan juga telah menghadirkan karya yang memiliki kemiripan, terlihat nemang seperti duplikasi. Termasuk, figur-figur yang dihadirkan secara berulang. Meskipun seperti mengulang Hendra Gunawan telah menandai adanya perbedaan, dimana tanda itu?, lagi-lagi Nuraeni tangannya menunjuk seolah ada lukisan Hendra Gunawan di hadapan peserta artis talk.

Sambil menggeser kembali posisi duduk, saya menangkap apa yang dikatakan Nuraeni, seperti ada perubahan peran dengan mengganti atau tetap tokohnya tergantung pada kebutuhan jalan cerita yang ingin disampaikan. Karena pada dasarnya baik Nuraeni dan Hendra Gunawan sama-sama ingin menyuarakan, bukan sekedar memperagakan dari tokoh-tokoh yang dihadirkan.

Saya jadi teringat, ketika almarhum Eddy Soetriyono seorang penulis dan kurator seni rupa yang telah lama mengikuti perjalanan kekaryaan Hendra Gunawan pernah mengatakan kepada saya, bahwa pada dasarnya karya-karya Hendra Gunawan memiliki beberapa ciri khas, dimana ciri khas itu hadir sekaligus sebagai penanda. Dan semakin memperkuat, pendapat Eddy Soetriyono ini sudah pernah didiskusikan dengan Nuraeni. Kala itu menurut Eddy bahwa Nuraeni membenarkan hasil pengamatannya. Maka, bukan semakin mempertajam pendapat Eddy Soetriyono, saya pun akhirnya meyakini Nuraeni memang pemegang kunci untuk membuka pintu, masuk ke dalam lebih jauh untuk memahami karya Hendra Gunawan yang sebenarnya.

Secara kekaryaan menurut Rizki A. Zaelani, karya-karya Nuraeni adalah imajinasi tentang bidang lukisan sebagai jendela, dipahami secara jelas dan langsung sebagai ruang dan dinding penjara yang memisahkan dirinya dengan realitas hidup yang dipahami oleh masyarat secara umum. Sehingga melalui karya Nuraeni dapat dipakai acuan melihat Karya Hendra Gunawan, pun sebaliknya.

Pameran tunggal Nuraeni HG Penjara Hati yang diikuti dengan artist talk, saya kira adalah bagian penting bagi perjalanan kesenimanan dan pencapaian karya-karyanya, berikut pula dalam memahami karya-karya Hendra Gunawan melalui pengalaman hidupnya. Memang, masuk ke wilayah konflik kepentingan terhadap keberadaan karya-karya Hendra Gunawan yang benar dan sebenarnya adalah rumit. Jelasnya sekarang saya kira mulai terang bahwa peran keluarga sebagai saksi hidup sekaligus pelaku adalah sangat penting untuk menelusuri kebenaran karya-karya Hendra Gunawan.

Begitu keluarga Hendra Gunawan membuat Yayasan Nuraeni Hendra Gunawan, maka ini merupakan keseriusan yang patut diapresiasi, bahwasannya keluarga Hendra Gunawan telah membuka diri dan menyiapkan waktu untuk meluruskan kesimpangsiuran yang terjadi selama ini.

Mestinya seni rupa Indonesia sangat berterimakasih atas niat baik yang disampaikan oleh keluarga Hendra Gunawan. Tetapi, bila seni rupa Indonesia justru turut larut ikut-ikutan dengan tidak menelusuri dan menggali lebih jauh tentang kekaryaan Hendra Gunawan melalui Nuraeni yang selama ini masih ada, maka siap-siaplah nanti bila ada yang mengatakan “durhakalah seni rupa Indonesia”. (*)

(*) Daniel Ginting, Pecinta karya dan sejarah hidup Hendra Gunawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *