Cegah Perpecahan dan Adu Domba, Ini 5 Cara Menyikapi Perbedaan di Dunia Maya

Sumbawa Barat -Kabar bohong dan hoaks kerap dijadikan senjata oleh oknum-oknum tidak bertanggung jawab, yang melakukan provokasi dan adu domba.
Alaika Abdullah, virtual assistant & digital content creator mengatakan, munculnya oknum-oknum yang suka mengadu domba dan memancing perpecahan tak bisa dihindari di dunia maya, karena koneksi digital membuka akses informasi dan komunikasi yang luas.
“Perbedaan pasti ada. Karena digital connection membuka peluang bagi banyak orang dari beragam latar belakang untuk bertemu di ranah virtual, berinteraksi, hingga berjejaring dan saling memberikan manfaat dan keuntungan,” tutur Alaikan, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Kamis (9/9/2021).
Alaika mengatakan ada 5 upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah kita menjadi orang tidak bisa menerima perbedaan, yang berujung pada perpecahan.
Pertama menurut Alika, kita harus mneyadari bahwa perbedaan kultur dan budaya di Indonesia adalah sebuah keindahan yang harus dihormati dan diapresiasi.
“Menghormati dan menghargai perbedaan kultural akan melancarkan berbagai hal yang sedang kita jalankan bersama orang tersebut,” tutur Alaika.
Kedua adalah menjadi orang yang suportif dan tidak suka menghakimi. Kungkin saja perbedaan kebudayaan membuat perilaku orang terlihat kasar di mata kita, tapi itu adalah hal yang biasa menurut mereka.
“Dengan kepribadian yang apresiatif, di mana pun kita berada, akan lebih mudah menjalin komunikasi,” tuturnya lagi.
Ketiga adalah menjaga etika yang baik, termasuk dalam memandang perbedaan. Perbedaan haruslah disikapi secara positif, agar tidak menjadi bahan adu domba dan provokasi.
Keempat adalah menghindari bergunjing dan meremehkan budaya orang lain. Perbedaan adalah hal yang biasa. Justru dengan adanya perbedaan, kita bisa belajar hal baru yang sebelumnya tidak kita ketahui.
Terakhir dan tidak kalah penting adalah memperlakukan orang lain, sebagaimana kita ingin diperlakukan. Sebab, cerminan diri kita bisa terlihat langsung oleh jejak digital yang kita tinggalkan.
“Ingat, perilaku yang baik akan mengundang kebaikan, begitu juga sebaliknya. Kebaikan yang kita lakukan akan bersama kita, begitu juga keburukan,” tuturnya lagi.
Webinar ini juga menghadirkan Agus Jamiatul, General Manager TC Invest, Agus Jayadi, S.Kom., MM Ketua Prodi Teknik Informatika Universitas Cordova, dan Tisa sebagai key opinion leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*