E-commerce Memberi Dampak Kepada Ekonomi Digital

0

Badung Bali – Urusan belanja online ternyata bukan hanya didominasi kaum ibu-ibu saja. Buktinya dari data konsumsi belanja online sebuah survei terungkap bahwa pada belanja di ecommerce, transaksi paling banyak dilakukan anak muda di umur 18 hingga 25.

Dikatakan oleh Bandiyah, S.Fil, MA, Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Badung, Bali, Selasa 24 Agustus 2021, bahwa konsumen yang  memanfaatkan fitur belanja online di  e-commerce paling banyak dilakukan memang oleh anak muda.

“Dari data konsumsi belanja online 2021 Indonesia menempati posisi teratas negara dengan persentase penggunaan e-commerce tertinggi di dunia dari data April 2021 atau dengan kata lain  Indonesia terbanyak,” ujar Bandiyah dalam webinar yang dipandu oleh Claudia Lengkey ini.

Lebih lanjut dikatakannya, dari survei katadata bulan Juni 2021 untuk tingkat konsumsinya ternyata Indonesia juga paling tinggi. Tingkat konsumsi atau responden penggunaan e-commerce dalam enam bulan mendatang mendapatkan rating tinggi sekitar 52,4.

Sementara itu dari survei tentang perilaku belanja online masyarakat di Asia tenggara (2019), lagi-lagi Indonesia mendapatkan rangking pertama. “Apakah masyarakat Indonesia ketika ingin membeli itu membeli langsung atau kemudian menunggu promo atau menunggu musim diskon, ternyata hasilnya adalah langsung beli,” imbuhnya.

Terkait metode pembayaran, konsumen digital di Indonesia lebih banyak yang memakai dompet digital. Diketahui juga bahwa gaji generasi Z (kaum yang lahir tahun 1995-2010) dan kamu milenial yang lahir tahun 80 dan 90-an banyak dibelanjakan di ecommerce. “Nilai transaksi e-commerce mencapai 266,3 triliun pada 2020. Survei ini menunjukkan bahwa e-commerce memberi dampak kepada ekonomi digital,” katanya.

Djelaskannya juga bahwa Generasi Z merupakan generasi pengguna teknologi digital dengan ciri kreatif  dan inovatif. Selain itu generasi ini juga mempunyai tingkat konsumsi yang tinggi dan sangat mudah melakukan pembelian bahkan untuk produk yang kurang dibutuhkan atau bahkan tidak dibutuhkan.

Sejumlah alasan dikemukakan generasi ini untuk keputusan pembelian yang dilakukan yaitu pengenalan, kebutuhan, pencarian informasi, kepuasan rasa membeli dan tingkah laku pasca pembelian. Dan Generasi Z ini memiliki konsumsi yang tinggi terutama pada belanja online. Dan alasan paling banyak generasi Z dalam melakukan pembelian karena Generasi Z suka pada sesuatu yang membuat dia penasaran dan keinginan mengenal.

Untuk itulah literasi keuangan sangat perlu dipahami oleh Generasi Z. Menurut Osaefuah (2010) ada 3 indikator literasi keuangan yaitu pengelolaan konsep keuangan yang tepat, kemampuan menggunakan sumber informasi keuangan dalam proses membuat keputusan dan memiliki orientasi menabung dan mengeluarkan uang.

Soal menabung ini harus diketahui banyak manfaatnya diantaranya belajar hidup hemat, memiliki cadangan keuangan dalam keadaan mendesak, mencegah berutang, melatih hidup sederhana dan sebagai investasi jangka Panjang.

Bandiyah juga menyarankan untuk lebih bijak menentukan memilih menabung atau belanja online. Untuk itu kita harus bijak mengorganisasikan kebutuhan belanja online dan menabung. “Membagi pendapatan setelah pajak dan mengalokasikannya untuk di belanjakan 50% untuk kebutuhan, 30% untuk keinginan, dan menyisihkan 20% untuk tabungan (Elisabeth Warren),” ungkapnya.

Menabung sangat perlu tetapi belanja online sesuai kebutuhan juga penting. Agar keduanya bisa berjalan beriringan ada cara untuk mengelolanya. Yaitu membeli sesuai kebutuhan bukan keinginan, sisakan uang gaji atau belanja untuk menabung,manfaatkan teknologi informasi untuk kebermanfaatan dan bergaul dan mencari inspirasi kehidupan orang yang sukses.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Selain Bandiyah, para pembicara lainnya adalah Grace M Moulina, Head of Marketing Communication Financila Company, Gebryn Benjamin, Lead Creative Strategy Frente Indonesia dan Marizka Juwita sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *