Jejak Digital Bertebaran di Dunia Maya, Jangan Sembarangan Beri Komentar Buruk Ya!

0

Dompu NTB – Jejak digital menjadi kata kunci tentang keamanan berselancar di dunia maya. Dengan jejak digital, segala aktivitas kita yang menggunakan internet bisa dilacak dengan mudah.

Grace Moulina, Direktur Utama PT Andara Lintas Indonesia, mengatakan jejak digital adalah tapak data yang tertinggal setelah beraktivitas di internet, baik secara sengaja maupun tidak sengaja.

“Contohnya adalah menonton video di youtube, kan terlihat history tontonan, itu jejak digital. Keyword yang kita cari di google, itu jejak digital. Termasuk juga postingan di media sosial, itu juga jejak digital,” paparnya, dalam Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat, Senin (16/8/2021).

Grace menjelaskan ada dua jenis jejak digital. Yang pertama adalah jejak digital aktif, yakni data yang secara sengaja ditinggalkan oleh pengguna.

Contoh dari jejak digital aktif ini adalah postingan konten di media sosial, memberikan komentar atau reaksi di postingan orang lain, atau bertukar pesan melalui messenger atau aplikasi perpesanan.

“Nah komentar buruk ini termasuk jejak digital aktif kan, karena kita dengan sadar dan sengaja meninggalkan komentar di postingan orang lain,” terangnya.

Kedua adalah jejak digital pasif. Ini adalah data yang secara tidak sengaja ditinggalkan atau data yang tidak diambil namun tidak disadari oleh pengguna. Contoh jejak digital pasif antara lain history pencarian, cookies, IP address, termasuk pula foto KTP dan kartu kredit yang disimpan di browser.

“Nah IP Address ini yang jadi alat melacak komentar buruk, meskipun sudah pakai akun palsu, tapi tetap terlacak karena datanya tertinggal,” terang Grace.

Ia menuturkan dengan banyaknya pengguna internet di Indonesia saat ini, adanya UU ITE penting untuk mencegah dampak buruk penggunaan internet. Termasuk mencegah komentar buruk yang bisa merugikan diri sendiri di masa depan.

“Hati-hati saat memberikan komentar, ingat ada UU ITE yang bisa menjerat jika ada komentar buruk,” tutupnya.

Selain Grace, dalam webinar hari ini hadir juga Rio Mulyono, Virtual Assistant dan Digital Content Creator, Nurhaida, pemerhati budaya, dan Ahmad Affandy, key opinion leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *