Ketua AMSI Bali: Mahasiswa Bisa Manfaatkan Media Massa Sampaikan Ide Pembaharuan

0

Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali, I Nengah Muliarta mengatakan dalam menyampaikan ide pembaharuan atau menyuarakan aspirasi mahasiswa jangan hanya turun teriak di jalanan melainkan bisa memanfaatkan memanfaatkan media massa, baik cetak, elektronik dan siber.

Nengah Muliarta menyampaikan itu saat memberikan materi dalam Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM), Universitas Warmadewa di Denpasar pada Selasa (14/6/2022)./Dok. Unwar

Denpasar – Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Bali, I Nengah Muliarta mengatakan dalam menyampaikan ide pembaharuan atau menyuarakan aspirasi mahasiswa jangan hanya turun teriak di jalanan melainkan bisa memanfaatkan memanfaatkan media massa, baik cetak, elektronik dan siber.

Nengah Muliarta menyampaikan itu saat memberikan materi dalam Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa Tingkat Menengah (LKMM-TM), Universitas Warmadewa di Denpasar pada Selasa (14/6/2022).

MMedia massa menjadi salah satu saluran yang dapat dioptimalkan oleh mahasiswa dalam menyampaikan sikap kritis yang tentunya akan bermanfaat bagi publik.

Tentunya, mahasiswa dapat menyampaikan pendapatnya atau pernyataannya melalui rilis, atau bahkan menulis opini atau artikel. Tulisan atau sikap organisasi mahasiswa yang kritis tentu menjadi tambahan pengetahuan bagi pembaca, bahkan menjadi rujukan bagi pemegang kebijakan.

Ketua Dosen Penggerak Prestasi Mahasiswa (DPPM) Fakultas Pertanian, Universitas ini mengungkapkan dengan pemikiran kritis, mahasiswa dapat memberikan koreksi terhadap fenomena sosial ataupun kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada rakyat.

Hal ini tentu sejalan fungsi media massa sebagai alat kontrol sosial. Pers juga memiliki fungsi pendidikan. Melalui media mahasiswa dapat menyampaikan informasi yang mendidik dan bermanfaat bagi masyarakat.

Berdasar penelitian di perguruan tinggi, penting disampaikan ke masyarakat, jangan sampai berhenti di ruang arsip atau perpustakaan.

“Sudah saatnya gerakan mahasiswa mulai mengoptimalkan penyampaian pemikiran kritis melalui media massa dan tidak hanya melalui aksi demo,” tegasnya lagi.

Menulis pemikiran kritis yang dapat dengan mudah dipahami masyarakat adalah sebuah tantangan. Menulis kritis tidak sebatas menyampaikan isu, tetapi mesti disertai kajian teoritis, koreksi dan rekomendasi.

Mahasiswa mesti mampu menyampaikan ide-ide pembaharuan dalam sebuah tulisan dan bukan sekadar teriakan dijalanan. Penyampaian aspirasi oleh mahasiswa melalui turun ke jalan dalam bentuk aksi demo merupakan hal yang wajar dan bentuk penyaluran pendapat dalam iklim demokrasi.

Penyaluran pendapat atau aspirasi oleh kaum intelektual akan lebih elegan, apabila juga dilakukan dengan optimal melalui media massa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *