Laut Terancam Penuh Sampah Pelastik, 2050 Diprediksi Lebih Banyak Daripada Ikan

Denpasar – Polusi sampah plastic masih menjadi ancaman serius terhadap kerusakan trumbu karang yang terjadi di laut selain perubahan iklim dan penangkapan ikan dengan cara pengeboman dan obat bius. Esecutive Director Coral Triangle Center (CTC), Rilli Djohani mengatakan tahun 2050 sampah plastic di laut bisa lebih banyak daripada ikan, untuk itu penanganan masalah sampah plastic harus serius. Saat ini diperkirakan 80 persen trumbu karang laut tercemar dan terancam rusak kalau tidak ada kepedulian segera untuk pelestariannya. Rilli mengatakan hal ini sabtu (20/10) di acara workshop perikanan berkelanjutan dan konservasi perairan di Indonesia, di Coral Triangle Center (CTC) jalan Betngandang ll, Sanur Denpasar. Workshop yang diikuti sejumlah wartawan di bali tersebut digelar jelang pertemuan international “Our Ocean Conference” di Nusa Dua Bali, tanggal 29 -30 Oktober 2018 mendatang.

“Media bagi CTC punya peran sangat penting dalam meningkatkan kesadaran kita semua di Indonesia dan juga memberi informasi kepada public international yang akan hadir di acara Our Ocean Conference. Harapan besar kita nanti media juga bisa membantu untuk menonjolkan upaya- upaya konservasi laut di Indonesia dan juga bisa menjelaskan kepada public tantangan tapi juga apa yang bisa kita lakukan bersama- sama, tambah Rilli.

Our Ocean Conference kali ini mengambil tema “Our Ocean Our Legacy/Laut Kita Warisan Kita” akan membicarakan keberhasilan-keberhasilan yang telah dicapai dalam pengelolaan laut di dunia, termasuk di Indonesia, serta tantangan yang dihadapi dalam menciptakan keseimbangan laut. Ada enam topik yang akan dibicarakan selama dua hari konferensi tersebut yaitu: Kawasan Konservasi Perairan, Perubahan Iklim, Perikanan yang Berkelanjutan, Polusi Laut, Ekonomi Biru yang Berkelanjutan dan Konservasi Perairan.

Yang menarik, semua topik ini berhubungan langsung dengan hajat hidup orang banyak, khususnya untuk penduduk negara kelautan seperti Indonesia. Menurut Rili Djohani, konsep perikanan berkelanjutan harus mengacu kepada “triple bottom line” yaitu menciptakan potensi ekonomi, meningkatkan kesejahteraan sosial kehidupan masyarakat, Juga memastikan terciptanya keseimbangan lingkungan hidup.

Saat ini, sudah ada 165 kawasan konservasi perairan yang sangat potensial untuk mendukung tujuan dari perikanan yang berkelanjutan tersebut. Kawasan Konservasi memegang peranan penting dalam manajemen perikanan yang berkelanjutan. Pasalnya, kawasan ini mempunyai potensi untuk memastikan terciptanya ekosistem yang kondusif bagi ikan-ikan untuk berkembang baik. Hanya saja, dari jumlah itu, sekitar 60 persen dari total luas KKP di Indonesia itu baru pada tahap dicadangkan, sehingga belum dimanfaatkan sebagaimana seharusnya KKP sendiri. Untuk itu, salah satu hal penting yang dapat dilakukan adalah memastikan pengelolaan KKP yang efektif. CTC merupakan sebuah organisasi yang sangat memahami sehingga merancang program peningkatan kapasitas masyarakat, terutama di daerah konservasi.

Sementara, Kepala Pusat Ris et Perikanan, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, Dr.Ir.Toni Ruchimat mengingatkan, sumber daya ikan walaupun berkembang biak, namun bukan berarti tidak terbatas. Diperlukan pengelolaan perikanan yang tepat dan berkelanjutan, termasuk penangkapan ikan yang bertanggung jawab. Selain itu, dalam pemanfaatannya juga harus berdasarkan prinsip berkeadilan.Inilah yang selalu ditegaskan pemerintah, melalui regulasi- regulasi yang dikeluarkan.

Demikian juga, pengaturan aktifitas penangkapan ikan juga sangat penting mengingat aktifitas penangkapan tidak hanya berdampak kepada sasaran spesiesnya, tetapi juga berdampak kepada lingkungan dimana spesies itu berada. “Inilah mengapa pentingnya pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem (Ecosystem Approach to Fisheries Management/EAFM),” katanya.

Untuk melakukan pengelolaan perikanan yang baik, harus tahu kondisi populasi sumber daya ikan. Untuk mengetahui kondisi perikanan kita di Indonesia yang memiliki ketersediaan data yang terbatas, ada metoda yang bisa digunakan Metoda Pendugaan Rasio Potensi Pemijahan berdasarkan data panjang ikan. “Ini bisa lebih murah dan lebih mudah dilakukan,” kata Pakar Konservasi Sumber Daya Perikanan Abdul Halim. Ada tiga data penting bisa didapatkan dengan metode sederhana itu yakni bagaimana stok populasi ikan, mengetahui keberhasilan pengelolaan ikan dan intervensi pengelolaan. Berdasarkan penelitian bahwa saat ini ikan yang tertangkap kebanyakan memiliki panjang 30 cm hingga 38 cm. Padahal ikan tersebut dewasa saat berukuran 44 cm dan baru bisa memijah (bertelur) saat panjangnya 44 cm tersebut. “Panjang 30 cm dan 38 cm bawah belum bisa menghasilkan keturunan tertangkap, sehingga populasi perikanan kita belum sehat populasinya, nilai SPR atau indeks potensi kemampuan ikan memijah yang baik yaitu 40 persen sehingga populasi ikan bisa dikatakan sehat” tambahnya.

Cara untuk mengatasi hal itu yaitu dengan membentuk kawasan konservasi. Misal ikan kerapu saat kawin berkumpul di kawasan tertentu, sehingga bisa dengan menutup kawasan kawin tersebut, sementara nelayan hanya menangkap ikan di sekitarnya bukan pada tempat konservasi tersebut. Selain itu, sebelum ditangkap berikan ikan tersebut memijah minimal sekali saja.

Sementara itu, Senior Program Manager CTC, Hesti Widodo menambahkan, kerapu sebangsanya saat memiliki panjang 40 cm menghasilkan 350 ribu larva atau telur, saat panjang ikan 50 cm menghasilkan 1 juta larva, dan saat panjang 60 cm menghasilkan 3 juta telur.”Ini artinya kalau nangkap ikan kecil yang belum memijah akan memperkecil ketersediaan ikan,” katanya. (Nil)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*