Headlines

Dr. Ni Komang Anik Sugiani, Dosen Politeknik Undiksha Diapresiasi Astra SATU Indonesia Awards Sebagai Tokoh Muda Menginspirasi

Kabardenpasar – Program pemberian apresiasi untuk generasi muda Indonesia yang berprestasi dan mempunyai kontribusi positif untuk masyarakat dan lingkungan sekitarnya, Astra SATU Indonesia Awards tahun 2023 ini memasuki tahun ke 14 sejak mulai tahun 2010 lalu.

Sudah banyak tokoh yang mendapat apresiasi di program Astra SATU Indonesia Award, salah satunya Dr. Ni Komang Anik Sugiani, seorang dosen di Politeknik Undiksha, asal desa Mengening di Kecamatan Kubutambahan Kabupaten Buleleng Bali.

Ni Komang Anik Sugiani mendapat apresiasi sebagai tokoh muda desa yang menginspirasi, pada Astra SATU Indonesia award 2021 dan 2022 untuk tingkat Provinsi. Dr. Ni Komang Anik Sugiani, membuka ruang pembelajaran gratis bagi anak -anak putus sekolah di lingkungannya di Kabupaten Buleleng Bali.

Ni Komang menyebut apa yang dilakuakan tersebut sebagai perjalanan hati “cinta” karena dengan ketulusan hati itulah, semua bisa dilakukan dalam mewujudkan cita-citanya yakni tidak ingin melihat ada anak-anak di Bali putus sekolah.

Dr. Ni Komang Anik Sugiani aktif dan rela mengorbankan waktu, tenaga dan pikiran untuk pendidikan informal anak-anak desa. “Pendidikan itu bukan basa basi, bukan pencitraan, tetapi harus ada tindakan nyata dan dilakukan secara berkesinambungan secara terus menerus,” kata Ni Komang Anik, terangnya saat bincang santai dengan wartawan peserta Anugerah Pewarta Astra 2023 melalui zoom belum lama ini.

Komang Anik Sugiani menceritakan awal mula merancang program pendidikan informal di kampung halaman, bersama teman-teman, berawal saat pandemi Covid-19, sekitar tiga tahun silam.

Meski dengan keterbatasan kekurangan sumber daya, program pendampingan anak-anak putus sekolah di desa terus berjalan. Beruntung tokoh masyarakat lainnya perlahan memberi dukungan kepada upaya Komang Anik Sugiani dan teman-temannya.

Memulai dengan Program Taman Pintar yakni pendidikan gratis bagi anak-anak putus sekolah yang terbentur biaya sekolah. Ni Komang Anik punya idea biaya pendidikan anak-anak diganti dengan penukaran hasil pengumpulan sampah-sampah. Menurutnya program ini juga untuk mengajarkan anak-anak untuk peduli terhadap lingkungan. “Anak-anak dilatih gratis, hanya membayar dengan sampah plastik yang berhasil dikumpulkan,dikelola Bank Sampah “ ungkap Komang Anik Sugiani.

Dibawah bendera Yayasan Project Jyoti Bali (YPJB) yang merupakan komunitas anak SMA atau yang tidak mampu sekolah SD dan SMP. Mereka yang diasuh YPJB diberikan pelajaran mengolah sampah, membuat Bata, ramah lingkungan, Eco Enzyme hingga bantal alas duduk.

Mereka para siswa mendapatkan ilmu pengetahuan melalui pembelajaran pelatihan dan mendapatkan uang saku, perlengkapan sekolah serta sembako. Ni Komang Anik Sugiani terus menggalang dukungan, walau tidak sedikit orangtua yang belum percaya dengan kegiatan-kegiatan yang masih sebatas digerakkan komunitas.

Setelah aktif memalui platform media sosial, barulah kendala demi kendala bisa teratasi, terutama terkait kekurangan tenaga relawan atau volunter. “Ketika sudah aktif di sosial media, kendala kami terpenuhi anak muda beberapa kampus jadi tutor,” terang Ni Komang.

Lewat kesungguhannya, Komang Anik Sugiani mampu meyakinkan banyak pihak hingga bersedia mengucurkan dana CSR untuk program pendidikan gratis di desanya melalui Yayasan Project Jyoti Bali (YPJB) yang didirikannya.

Berkat dukungan dari berbagai pihak itulah anak-anak putus sekolah yang diasuh sebanyak awalnya pada tahun 2019 tercata hanya 124, dan 32 diantaranya berasal dari keluarga kurang mampu di tiga desa sekitar yakni Desa Mengening, Bila dan Tajun.

Umumnya mereka yang lulus dari YPJB dan sekolah formal melanjutkan ke perguruan tinggi. Yang membanggakan, anak-anak asuhnya yang mengikuti pembelajaran gratis cukup banyak yang berprestasi di sekolahnya.

Meski semua pengorbanan waktu, tenaga, materi sudah didedikasikan untuk masa depan anak-anak di desa, namun Komang Anik Sugiani, merasa belum cukup. Dia ingin mengajak semua lebih peduli terhadap pendidikan anak-anak khususnya yang putus sekolah.

“Perjuangan tidak boleh berhenti, semua karena “cinta” saya tidak ingin melihat ada anak-anak di Bali putus sekolah”, kata Ni Komang semangat. Minat Komang Anik di pendidikan ditunjukkan dengan disiplin ilmu yang digeluti di bidang pembelajaran. “Dari S1 sampai S3, saya mengambil teknologi pembelajaran, agar tetap linier,” urainya.

Dijelaskan Ni Komang Anik Sugiani, teknologi pembelajaran akan terus berkembang sehingga jurusan dipilih merupakan satu paket kesatuan yang nantinya akan bisa dilaksanakannya.

Tidak bosan untuk terus bersemangat menginspirasi masyarakat, membuat Ni Komang Anik Sugiani meraih nominasi penerima anugerah SATU Indonesia Award 2021 dan 2022 untuk tingkat provinsi. Memiliki keyakinan bahwa membantu orang lain, tidak hanya cukup berwacana namun harus lewat aksi nyata.

Banyak kesulitan dialami orang lain, tidak harus menunggu memiliki banyak materi dulu baru membantu, namun membantu sesama bisa melalui tenaga, pikiran dan apa saja, tutupnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *