Ratusan Paper Ahli Epidemiologi Dunia Dipresentasikan di Bali

DENPASAR– Sedikitnya 300 paper karya orang ahli epidemiologi dunia dipresentasikan dalam Acara The 13 SEA Regional Scientific Meeting of The Internasional Epidemiological Association and Internasional Conference on Public Health and Sustainable Development di Sanur Prime Hotel Denpasar Rabu 3 Oktober 2018.

Pertemuan tersebut membahas berbagai hal termasuk membahas munculnya berbagai penyakit baru agar bisa dkurangi.

Ketua Panitia, Defriman Djafri mengungkapkan, nantinya hasil pertemuan juga akan dilaporkan kepada pemerintah, agar bisa dicarikan solusi berikut diharapkan bisa mengurangi beban Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

“Masalah penyebaran penyakit merupakan salah satu fokus diskusi dan diharapkan bisa ditekan sedemikian rupa,” tutur Djafri.

Data – data akurat terkait indicator munculnya penyakit termasuk penyakit baru akan dibeberkan dalam pertemuan. Untuk itu, semuanya sudah dipersiapkan seiring pihaknya dipercaya oleh Universitas Udayana untuk menyelenggarakan acara di Bali.

“Kebetulan kita dipercaya oleh Universitas Udayana untuk menyelenggarakan acara ini, “ sambungnya.

Mestinya, masyarakat bisa mencegah munculnya penyakit dari dirinya sendiri, dan tidak perlu disembuhkan usai berkunjung ke dokter. Kebiasaan masyarakat melakukan upaya penyembuhan lewat doker sebaiknya dikurangi, sebab masyarakat pun bisa melakukan upaya dengan melakukan pencegahan diawal.

Sebut saja, penyakit yang lama diidap biasa akan muncul kembali dan bisa menjadi beban, sebab selain menyebabkan biaya cukup besar dalam penyembuhannya. Hal itu juga akan menjadi beban BPJS jika dirnurut lebih jauh.

Ditegaskan, harusnya penyakit yang muncul mustinya bisa dicegah dengan berbagai sikap termasuk diantaranya dengan pola hidup sehat dalam keseharian.

Para panelis dengan papar berjumlah 300 judul itu diantaranya berasal dari ahli-ahli kesehatan masyarakat Malaysia, Bhutan, Singapura, Australia hingga Argentina.

Hal penting lainnya yang mendapat perhatian menyangkut apa yang terjadi saat ini, fenomena bencana alam di berbagai daerah di Indonesia yang memerlukan penanganan serius tidak hanya bagaimana respon terhadap ketanggapdaruratan namun juga kesiapan tenaga medis, security atau tanggap darurat, recovery, dampak korban atau pengungsi seperti penyakit epidemik.

“Kita harus hati-hati dalam menangani bencana maupun pascbencana seperti mulai penyakit yang seharunsya tidak berhubungan dengan bencana, masalah sanitasi, trauma semua harus ditangani dengan baik,” sambungnya.

Salah satu tugas Epidemiological yakni melakukan pencegahan, karena fungsi ilmu ini mempelajari distribusi pencegahan penyakit dan mengambil kebijakan dalam pencegahan.

“Jika bisa dilakukan pencegahan dengan pola hidup sehat maka penyakit yang muncul bisa dikurangi,” demikian Djafri. (ful)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*