Dongkrak Quality Tourism, ITDC Hadirkan Pertunjukan Seni Visual Modern ‘Cipta Rwa Loka’ di The Nusa Dua
Kabardenpasar – Sebuah pertunjukan seni budaya Bali yang memadukan nilai tradisi dengan teknologi visual modern, Cipta Rwa Loka, resmi hadir di Taksu Art Stage, Peninsula Island, The Nusa Dua. Kehadiran atraksi baru ini melengkapi pertunjukan seni ikonik yang sudah ada sebelumnya di kawasan tersebut, yakni tari Kecak
Pertunjukan ini dijadwalkan digelar secara rutin setiap hari Sabtu pukul 19.00–20.00 WITA. Dengan harga tiket sebesar Rp250.000 per orang, Cipta Rwa Loka diharapkan mampu memberikan pengalaman baru yang berbeda bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, sekaligus memperkuat konsep quality tourism (pariwisata berkualitas) yang tengah dikembangkan oleh PT Pengembangan Pariwisata Indonesia atau ITDC.
Pementasan perdananya sukses digelar pada Sabtu (1/8/2026) malam. Acara tersebut mendapat respons yang sangat meriah dari para pengunjung, yang didominasi oleh wisatawan mancanegara dan domestik.
Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Utama ITDC, Ahmad Fajar, mengatakan bahwa kehadiran Cipta Rwa Loka merupakan langkah strategis dalam pengembangan atraksi budaya di Peninsula Island, yang sebelumnya hanya menghadirkan pertunjukan Tari Kecak setiap pekan.
Pementasan ini menjadi bagian dari strategi destination activation ITDC dalam mewujudkan konsep living destination. Melalui konsep ini, kawasan wisata tidak hanya menawarkan akomodasi hotel dan fasilitas premium, tetapi juga menyajikan aktivitas budaya, hiburan, olahraga, MICE, hingga gaya hidup sepanjang tahun.
“Sebelumnya di sini diadakan Kecak seminggu sekali dan sekarang kita kombinasikan dengan Cipta Rwa Loka. Kami berharap experience para turis domestik dan internasional sedikit berbeda, bahwa di Bali ada sesuatu yang beda bernama Cipta Rwa Loka, yang artinya dua dunia, hitam putih, yin dan yang, dan sebagainya,” ujar Ahmad Fajar saat ditemui di lokasi pementasan.
Menurut Ahmad Fajar, filosofi tersebut menjadi simbol keseimbangan sekaligus mencerminkan arah pengembangan kawasan The Nusa Dua yang mengedepankan perpaduan harmonis antara alam, budaya, dan fasilitas pariwisata berkelas dunia.
“Ini adalah perumpamaan bahwasanya ITDC mengembangkan bukan hanya wisata alamnya saja, bukan hanya hotel-hotelnya saja, tetapi lengkap dengan budaya. Jadi yang kita harap para turis datang, happy, kulinernya oke, alamnya indah, dan budayanya menjadi sesuatu yang indah sehingga mereka tinggal lebih lama di Bali dan spending-nya makin banyak, sehingga quality tourism akan tercipta,” jelasnya.
Ahmad Fajar menilai penyelenggaraan atraksi budaya secara rutin menjadi salah satu cara efektif untuk memperpanjang lama tinggal wisatawan (length of stay) sekaligus meningkatkan perputaran ekonomi melalui belanja wisatawan selama berada di Bali.
Ia mengungkapkan, memasuki musim liburan saat ini, tingkat hunian atau okupansi hotel di kawasan The Nusa Dua menunjukkan tren yang sangat positif.
“Apalagi sekarang menjelang liburan, okupansi dalam kondisi rata-rata 70 sampai 80 persen dan saat puncak liburan ini bisa lebih dari 90 persen. Itu patut disyukurilah bahwa di Bali ini ada tempat di Nusa Dua yang sedikit lebih premium untuk menyamankan wisatawan dan event-eventnya sudah mulai banyak,” ungkapnya.
Ke depan, ITDC berkomitmen untuk terus melakukan revitalisasi dan rejuvenasi kawasan Peninsula agar menjadi ruang publik sekaligus pusat aktivitas wisata yang semakin lengkap. “Ke depan dengan rejuvenasi Peninsula ini maka akan lebih banyak tempat kuliner dan event-event baru,” tambah Ahmad Fajar.
“Di sini bagaimana mengimplementasikan teknologi glow in the dark dalam sebuah komponen karya tradisional. Ini yang disebut dengan akselerasi transformasi budaya, baik itu tradisi maupun modern. Ini salah satu solusi menurut saya sebagai pencipta, bagaimana kita bisa memberikan tuntunan lewat tontonan,” ujarnya.
Ia berharap pertunjukan tersebut tidak hanya menjadi sekadar hiburan visual bagi penonton, tetapi juga menjadi media edukasi budaya yang bernilai bagi masyarakat maupun wisatawan. “Bukan hanya dari segi visual grafis saja, tetapi ada pesan makna yang tersirat betapa pentingnya kita menggali literasi-literasi yang ada melalui Cipta Rwa Loka ini yang di dalamnya juga bermuatan edukasi,” katanya.
Selain menghadirkan Cipta Rwa Loka setiap Sabtu malam, sepanjang bulan Agustus 2026 ini The Nusa Dua juga bersiap menjadi tuan rumah bagi sejumlah agenda internasional bergengsi. Beberapa di antaranya meliputi BRI Nusa Dua Eco Culture Market pada 8–9 Agustus 2026, turnamen tenis Amman Men’s World Tennis Championship (UTR) pada 17–23 Agustus 2026, serta dilanjutkan dengan Amman Men’s World Tennis Championship (M15) pada 31 Agustus hingga 6 September 2026.
Melalui rangkaian agenda komprehensif yang memadukan unsur budaya, olahraga, hiburan, hingga MICE tersebut, ITDC optimistis The Nusa Dua akan semakin memperkuat posisinya sebagai Bali’s Finest Family-Friendly Resort Haven, sekaligus mendukung penuh arah pengembangan pariwisata Indonesia yang berkualitas, inklusif, dan berkelanjutan.***