Sengketa Marina Bay City Lombok Memasuki Babak Baru, Keputusan Pengadilan Federal Australia Cabut Perintah Pembatasan Jamie McIntyre
KABARDENPASAR – Sengketa hukum proyek properti Marina Bay City (kini Nesara Bay City) di Lombok memasuki babak baru setelah kedua belah pihak saling lempar tuduhan terkait hilangnya dana investor sebesar jutaan dolar Australia.
Pendiri LUX Property Group, Jamie McIntyre, menuntut transparansi atas dana investor sekitar A$10 juta (dolar Australia) yang dihimpun untuk proyek tersebut.
Tuntutan tersebut disampaikan McIntyre dalam jumpa pers di Seminyak, Bali, Jumat (4/9/2026), didampingi penasihat hukumnya, Widya. Langkah ini menyusul keputusan Pengadilan Federal Australia pada 20 Agustus 2026 yang resmi mencabut perintah pembatasan sementara terhadap dirinya, serta menghukum pihak Adrian Campbell membayar 80% biaya perkara hukum.
McIntyre membeberkan, berdasarkan audit independen, LUX hanya menerima A$3,18 juta dari total A$10 juta dana yang dihimpun. “Pertanyaan utamanya sangat sederhana: di mana sisa dana A$6 hingga A$7 juta tersebut? Campbell dan Wood seharusnya segera membuka seluruh rekening koran,” tegas McIntyre.
Kasus ini pun telah dilaporkan LUX ke Kepolisian New South Wales, Australia. Di sisi lain, McIntyre memastikan proyek di Lombok tetap berjalan dan berganti nama menjadi Nesara Bay City dengan target perizinan rampung pada kuartal terakhir 2026.
Sementara itu pihak Adrian James Campbell bersama mitranya Hilton Wood melalui tim kuasa hukum Hendarman Law Firm (HLF) membantah tudingan adanya penggelapan dana dan menegaskan, Jamie McIntyre menjabat sebagai Komisaris PT Marina Bay Investments dan pengurus PT Bali Real Estate Investments. Sebagai figur utama, ia memiliki akses penuh terhadap pengelolaan keuangan proyek tersebut,” tulis tim hukum HLF dalam keterangan resminya.***