Hati-hati di Internet, Ini Ciri-ciri Umum Hoaks atau Berita Palsu

Bima NTB -Hoaks atau berita bohong dan atau keliru, menjadi bahaya laten warga internet. Meski nampak sepele, hoaks yang menyebar pesat dapat menyebabkan banyak masalah mulai dari kegaduhan di dunia maya hingga kerusuhan di dunia nyata.
Dikatakan Bidan Desa Sondosia di Kabupaten Bima, Nurul Khatimah dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (4/10/2021), hoaks adalah berita bohong atau kabar palsu.
“Dalam KBBI hoaks adalah informasi yang sesungguhnya tidak benar tapi dibuat seolah-olah benar adanya dan diverifikasi kebenarannya. Dengan kata lain digunakan sebagai upaya memutarbalikkan fakta,” kata Nurul.
Untuk itu ia mengimbau pentingnya masyarakat untuk mengenali ciri-ciri hoaks agar tidak tersesat di dunia digital. Lebih lanjut dikatakan Nurul, setidaknya ada empat ciri-ciri hoaks, sebagai berikut:

  1. Hoaks biasanya mengandung unsur politik atau SARA dan menggunakan kalimat provokatif.
  2. Hoaks biasanya bersumber dari berita atau laman yang kurang dipercaya.
  3. Hoaks umunya sering mendapat komentar negatif. Namun di sisi lain juga ada banyak yang percaya berita tersebut.
  4. Foto dan video dalam berita tersebut merupakan rekayasa, atau foto tidak sesuai dengan isi berita.
    “Mungkin sudah menjadi tabiat manusia saat sudah tahu berita salah, tapi kalau sudah bermedia sosial, masih saja dipercaya. Hoaks juga mengandung berita foto tidak sesuai,” tambahnya.
    Selain mengetahui ciri-ciri berita hoaks, Nurul juga mengatakan masyarakat pengguna media internet untuk memahami cara mengenali berita hoaks. Pertama, kata Nurul, perhatikan apakah ada kalimat seperti “Kirimkan pesan ini ke setiap orang yang Anda kenal!”
    “Semakin mendesak permintaannya, semakin mencurigakan pesan tersebut.”
    Kedua, perhatikan bahasanya apakah terlalu berempati atau memiliki struktur huruf yang kapital semua. Ketiga, jika isi pesan ingin memberikan informasi yang sangat penting, cek dulu di media resmi apakah isi pesan tersebut valid atau tidak. Jika tidak ada di media resmi, sebaiknya curiga itu adalah hoaks.
    Lebih lanjut, Nurul meminta masyarakat untuk tidak terjebak memercayai dan juga membagikan informasi simpang siur. Terlebih dengan adanya Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik atau UU ITE.
    “Saat ini bisa jadi modal melaporkan oknum yang memfitnah ke yang berwajib. Jadi hati-hati pelaku penyebaran hoaks bisa terjerat hukum.”
    “Saya mengajak teman-teman untuk menyampaikan berita yang bermanfaat saja di media sosial. Jika menemukan konten tidak benar, lewati saja. Jika Anda merasa dirugikan, laporkan ke pihak berwenang,” pungkasnya.
    Selain Nurul, hadir pula dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin (4/10/2021), yaitu Alek Iskandar, Managing Director IMFocus Digital Consultant, Ika Febriana Habiba, CX Manager dan Denny Abal sebagai key opinion leader.
    Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
    Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*