Mendidik Anak Generasi Alpha, Guru dan Orangtua Wajib Paham Literasi Digital

0

Kepulauan Aru, Maluku  -Generasi alpha alias anak yang lahir di atas tahun 2010 sudah mengenal internet sejak lahir. Itu tandanya, orangtua dan guru sebagai orang dewasa di sekitarnya tidak boleh ketinggalan.

Bahkan menurut Nico Oliver, seorang pegiat digital dan konten kreator, literasi digital penting dalam mendidik anak generasi alpha. Dengan adanya internet, mendidik anak generasi alpha tidak bisa dilakukan dengan metode seperti saat orangtua kecil dahulu.

“Jika dulu pendidikan dilakukan hanya satu arah, misalnya dari orangtua ke anak, dari guru ke murid, apa yang dikatakan orangtua dan guru itu wajib dilakukan. Sekarang tidak bisa,” papar Nico dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kepulauan Aru, Maluku, Jumat (3/9/2021).

“Sekarang komunikasi harus dilakukan dua arah. Orangtua juga wajib mendengar input dari anak, karena akses informasi terbuka lebar dengan adanya internet, memungkinkan ia menyerap dari sumber-sumber lain,” urainya lagi.

Nico mengatakan sebagai generasi yang berpikiran terbuka dan kritis terhadap infomasi, generasi alpha memiliki metode pembelajaran yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Ada tiga prinsip utama yang wajib diketahui orangtua dan guru untuk memberikan pendidikan pada generasi alpha, yakni visual yang menarik, dekat dengan teknologi, dan interaktif. Pertama, dekat dengan teknologi menandakan pembelajaran wajib dilakukan menggunakan internet. Dalam artian, penggunaan media digital harus dimaksimalkan.

“Sekarang ada google classroom, yang memang disediakan oleh Google sebagai moda pengajaran berbasis digital. Ini perlu diketahui oleh guru,” tambah Nico.

Selanjutnya adalah visual yang menarik. Dengan desain unik serta menggunakan gambar dan video sebagai contoh, generasi alpha akan lebih mudah memberikan perhatian, daripada hanya menggunakan buku teks saja.

Terakhir dan tidak kalah penting adalah pengajaran wajib dilakukan secara interaktif. Dalam artian, komunikasi harus dilakukan dua arah antara guru dan orangtua, terhadap anak.

Nico menganjurkan untuk menyisipkan permainan dan eksperimen dalam kegiatan belajar dan mengajar untuk memancing interaksi dari anak.

“Karena itu guru dan orangtua wajib memiliki kemampuan komunikasi yang benar, termasuk cara berbicara dan kemampuan story telling,” paparnya.

Pada kesempatan yang sama, Yulia Dian, seorang content creator dan juga manager artis mengatakan, selain memperhatikan aspek pendidikan, orangtua dan guru juga wajib memerhatikan penggunaan internet lainnya oleh anak.

Tidak bisa dipungkiri, generasi alpha kini menggunakan media sosial untuk berinteraksi dengan teman sebaya. Namun ingat, orangtua tetap perlu membatasi penggunaan internet agar anak tidak kecanduan.

Dalam webinar kali ini hadir juga Nihma, Founder Taman Baca AKSARA dan Relawan Mafindo Maluku dan Denny Abal sebagai key opinion leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *