Sering Dianggap Sama, Ini Beda Hacker dan Cracker

Lombok Tengah  -Banyak orang mungkin sudah familiar dengan istilah hacker. Tapi, tidak sedikit juga yang sering salah mengartikan hacker dan cracker.
Dua istilah tersebut sering disalahartikan dan tertukar makanya, Meski keduanya punya kesamaan, tapi hacker dan cracker ternyata berbeda.
“Persamaannya itu keduanya sama sama melakukan aktivitas penyusupan ke jaringan. Keduanya berusaha untuk mendapatkan akses terhadap seua user di daalam jaringan komputer,” ujar Adji Srihandoyo, Business Development Director Koperasi Tri Capitaal Investama, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital Wilayah Lombok tengah, Nusa Tenggara Barat, Rabu, (8/9/2021).
Ia memaparkan bahwa hacker sendiri definisinya ialah orang yang mempelajarai, menganalisis, memodifikasi, menerobos masuk ke dalam komupter dan jaringan komputer.
Adji mengatakan bahwa hacker biasanya melakukan itu karena keuntungan atau dimotivasi tantangan. Sedangkan cracker sendiri lebih bersifat destruktif. Biasanya craceker masuk ke jaringan komputer, dan membypass password.
“Mereka secara sengaja melawan keamanan komputer mengubah halaman muka web milik orang lain, bahkan menghapus dan mencuri data dari sistem,” kata Adji.
Adji juga melanjutkan bahwa hacker sendiri biasanya memiliki komunitas yang jelas dan terbuka untuk memperdalam ilmu dan pemahaman mereka tentang sistem jaringan. Sedangkan cracker biasanya memiliki komunitas yang sangat tertutup dan tersembunyi dibandingkan hacker.
“Hal itu karena sifat hacker sudah jelas negatif, ” kata Adji.
Sementara itu dalam kesempatan yang sama, Rizky Rahmawati Pasaribu, Advokat dan Managing Partner Law Office Amali & Associates, memaparkan tentang risiko dan konsekuensi ujaran kebencian.
Ia memaparkan selain melanggar aturan perundangan, ujaran kebencian juga melanggar hak asasi manusia.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar ini juga menghadirkan Satriawan Amri, CEO Pelita Foundation Lombok, dan Nard Geisha sebagai Key Opinion Leader.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*