3 Kekhawatiran Terbesar Orang Tua Terhadap Aktivitas Anak di Internet

Sikka NTT – Anak-anak masa kini sebagian besar sudah mengenal dunia internet di umur yang terbilang dini. Dalam sebuah riset Intras and safety dari Google terkait pendapat orang tua tentang keamanan online anak, ada tiga 3 kekhawatiran orang tua.

Hal itu dikatakan oleh Anggie Setia Ariningsing, CEO Fintech P2P Lending bahwa kekhawatiran ini dirasakan oleh 51% orang tua dari anak yang bersekolah online selama pandemi. “Mereka merasakan kekhawatiran meningkat tentang keamanan online anak-anak,” ujar Anggie dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Jumat 20 Agustus 2021.

Ada tiga kekhawatiran terbesar orang tua para ahli pada aktivitas anak di internet adalah, keamanan informasi anak, interaksi anak di ruang maya, serta konten yang dikonsumsi oleh anak di internet. Ketiga kekhawatiran itu meliputi siapa teman anak kita berkomunikasi di dunia maya, game apa yang dimainkan dan interaksi apa saja yang dilakukan anak di media sosial.

Soal interaksi dan komunikasi ini sangat dikhawatirkan terkait perilaku sejumlah warganet yang tidak sopan. Seperti hasil survei yang sempat heboh beberapa waktu lalu bahwa walaupun kita dikenal sebagai bangsa yang sangat ramah tapi kenapa jempol kita tidak ramah.

“Kita juga tidak boleh melakukan hal itu saat berulang kepada orang dan kita tidak boleh juga membiarkan anak-anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan usianya,” imbuhnya dalam webinar yang dipandu oleh Idfi Pancani ini.

Dikatakaknya juga bahwa orang tua harus mengajari anak untuk tidak menjawab telepon yang tidak dikenal di ponsel dan tidak membalas whatsApp yang tidak dikenal. Selain itu kita harus membiasakan anak untuk melaporkan apapun masalah yang tengah dihadapnya kepada orang tua.

Untuk itulah ada sejumlah cara untuk meningkatkan keamanan di dunia digital anak-anak kita yaitu gunakan pengaturan privasi dan keamanan, melindungi identitas anak,  belajar bersama anak, membuat kesepakatan bersama keluarga tetap dan tetap terlibat dan bersama dan juga instal Family Link.

Langkah yang disebut belakangan bsia dipakai orang tua maupun anak untuk membatasi waktu anak mengakses internet. Jika waktu yang telah orang tua tentukan telah habis maka ponsel akan mati.

“Selain itu family link juga yang mengontrol aplikasi yang anak-anak download apakah kita setuju atau tidak.”

Dijelaskannya juga bahwa fenomena ketergantungan ponsel anak ini juga karena disebabkan oleh peran orang tua. Untuk itulah agar anak selalu terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan, ada sejumlah cara untuk mencegahnya. Salah satunya adalah jangan berikan anak gadget paling tidak hingga usia 2 tahun.

Selain itu bisa dilakukan juga untuk  memberi batasan waktu screen, dampingi anak pada saat berinternet dan beri pemahaman konten yang positif pada anak  juga dorong anak untuk melapor jika melihat atau mengalami masalah di dunia maya.

“Semisal saya memberikan gadget pasa anak-anak saya hingga umur 10 tahun itupun karena ada pandemic yang memaksa anak sekolah online. Sebisanya kita dan anak berbagi sayu gadget karena kita orang tua bisa mengontrol lebih baik lagi.”

Yang juga penting adalah lakukan nonton bareng dengan anak karena pada saat kita nonton kita bisa memberitahu tokohnya begini-begini ada hal-hal yang kita bisa kasih tahu kepada anak-anak untuk mengarahkan ke hal yang positif. “Gadget bisa merekatkan hubungan orang tua dan anak jangan malah merenggangkann,” sarannya.

Yang juga harus diwaspadai dalam ruang digital agar anak terhindar dari masalah adalah berhati-hati dengan lagu-lagu. Karena ada lagu yang isinya tidak sesuai dengan umur anak. Dan karenanya kita sebagai orang tua juga harus tahu dan mendengarkan lagu yang disukai anak.

 Terkait peraturan terhadap anak terkait penggunaan gadget ini, baik ibu ataupun ayah harus satu suara. Jika ibu melarang maka ayah janga mengijzinkan.

Kita pun bisa menjadi kreatif tanpa gadget semisal menghafal Quran bersama atau kita bersama – bernyanyi.  Bisa ditanyakan pada anak bahwa sudah menonton apa saja hari ini atau pergi piknik bersama-sama.

Bisa juga dengan mengajarkan anak untuk lebih mandiri dengan belajar masak atau hobi lainnya. Selain itu orang tua juga harus bisa mencari alternative kegiatan untuk anaksaat menyuruh anak lepas gadget. Semisal menyediakan permainan tradisional semisal congkalk atau bekel agar anak punya kesibukan selain HP.

Selain Anggie, juga hadir para pembicara lain yaitu Gebryn Benjamin, Lead Creative Strategy Frente Indonesia, Rini Kartini, S.Sos, M.Med.Kom, Dosen Komunikasi Universitas Nusa Nipa dan Ichsan Colly sebagai Key Opinion Leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.**

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*