Hati-Hati Kebebasan Kata-Kata di Medsos

Lombok Timur  -Derasnya arus informasi di era digital ini membuat terjadinya transformasidi segala bidang termasuk transformasi interaksi sosial. Ada banyak informasi yang beredar di masyarakat bersamaan yang mengalir deras di ruang digital dengan beragam maksud dan tujuan.
Tak jarang infromasi itu berisi informasi yang salah dan kadang menyesatkan dan mampu mengubah cara pandang maskarakat. Tentunya tidak dapat dipungkiri bahwa semakin banyak juga disinformasi yang beredar di masyarakay. Disinformasi ini dapat ditemui pada segala sektor, mulai dari politik, ekonomi, pendidikan, bahkan kesehatan seperti sekarang ini begitu banyaknya berita menyesatkan seputar covid.
Hal inilah yang dbahas oleh Dhan Geisha saat menjadi Key Opinion Leader dalam Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Senin 13 September 2021. Dikatakan Dhan, salah satu hal yang harus diingat terus untuk para pengguna media sosial adalah menghindari mengunggah konten-konten yang akan membuat disinformasi dan kebencian.
“Ada beberapa hal yang tidak pantas atau tidak boleh diunggah dalam ruang digital karena bisa berdampak negatif termasuk berdampak kepada orang lain yang membacanya menjadi terpancing emosi dan memicu perpecahan,” ujar Dhan dalam webinar yang dipandu oleh Tony Thamrin ini.
DItambahkannya juga, banyak lagi jenis konten atau unggahan yang tidak layak kita angkat di media sosial kita termasuk konten SARA. Karena SARA selalu menjadi isu yang sensitive khususnya di Indonesia. Banyak kasus-kasus yang akhirnya berujung pada kasus SARA. SARA adalah isu yang berpotensi memecah belah masyarakat yang bersifat majemuk seperti di Indonesia.
Selain itu, kata Dhan jangan pula terlalu mengumbar masalah pribadi di ruang digital. Kita sering menjumpai seseorang yang selalu mengunggah urusan pribadinya di media sosial. Sebetulnya dalam kapasitas yang wajar, menceritakan hal pribadi adalah hak kita ke siapapun juga.
Tetapi kadang persoalan pribadi ini juga menyangkut orang lain yang malah berujung pada pertengkaran. Selain itu dengan terlalu sering mengumbar masalah pribadi ke media sosial akan berpengaruh pada citra positif diri kita yang harus dijaga. Banyak hal yang merupakan ranah pribadi yang tak semestinya diketahui orang lain, apalagi oranglain dalam dunia medsos itu adalah orang lain seluruh Indonesia atau seluruh dunia.
Dhan juga mengingatkan untuk tidak memposting sembarangan di media sosial karena kita juga harus mempertingkan jejak digital yang akan terpaut terus selama kita hidup. “Bijaklah menggunggah konten di media sosial, jangan asal saja. Jangan juga kita bersembunyi di balik kata-kata, harus ada batasannya, Jangan karena kata-kata kebebasan pendapat kita jadi menjerumuskan diri sendiri dan orang-orang terdekat kita.
Webinar Literasi Digital untuk wilayah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi. Di webinar kali ini hadir pula nara sumber lainnya yaitu Gebryn Benjamin, Lead Creative & Marketing Strategy, Nurul Amalia, Pramugari Saudi Airlines, Digital Content Creator & Forex Trader, Abdul Azizul Hakim, Wakil Rektor 1 Bidang Akademik Institut Elkatarie Kabupaten Lombok Timur.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*