Hati-Hati Posting Foto Anak di Media Sosial

Merauke – Salah satu manfaat berkembanganya dunia digital di masyarakat adalah sebagai ladang berbagi informasi. Untuk para kaum ibu berbagi informasi tentang anak menjadi aktivitas mengasyikkan dan memang dirasa sebagai sesuatu hal yang wajar saja.

Menurut Yulia Dian, seorang Social Media Specialist dalam Webinar Literasi Digital wilayah Merauke, Papua, Kamis 15 Juli 2021, dari penelitian The Wall Street Journal 2012 diketahui bahwa praktik membagiakn informasi mendetil tentang anak dilakukan orang tua secara regular di medsos.

“Sebenarnya dipandang sebagai sesuatu yang wajar membagikan tips-tips dan update seputar perkembangan anaknya. Sesuatu yang positif memang baik untuk dibagikan tetapi ada batasan-batasannya,” ujar Yulia dalam webinar yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Ia juga melanjutkan, apalagi mama milenia yang kerap berbagi segala aktivitas tentang anak-anak mereka karena membagikan momen tidak pernah salah. Bahkan di Amerika lebih dari 80 persen anak anak telah memiliki sosial media sejak berumur dua tahun yang dibikinkan orang tuanya.

“Sebanyak 92 persen bayi di Amerika Serikat ada di media sosial dalam waktu 24 jam pertama kehidupannya dengan data-data yang detil,” imbuh Yulia. Ia menambahkan bahwa kebiasaan baik dalam ruang digital yang perlu diwaspadai juga karena jika tak berhati-hati juga akan membawa dampak buruk bagi pengguna medsos.

Contoh saja adalah sharenting yang merupakan praktek membagikan informasi mendetail tentang anak yang dilakukan orangtua secara regular di media sosial. Meski sebetulnya kebiasaan ini ada baiknya tapi ada beberapa rambu yang tidak harus dicermati agar terhindari dari kejahatan dunia digital.

“Kita harus mengenali sendiri apakah sharenting ini baik atau buruk untuk keluarga kita. Biasanya seorang ibu butuh apresiasi yg dilakukan di dunia nyata atau lewat medsos. Selain itu kadang memposting konten anak karena butuh feedback serta nasihat orang lain,” jelas Dian.

Lebih lanjut ia mengungkapkan bahwa ada fakta menarik, dibanding ayah. Ibu lebih semangat untuk sharenting. Dan rata-rata orang tua memposting 1.500 foto anak mereka sebelum berumur 5 tahun.

Meski terlihat sebagai suatu hal yang biasa dan wajar, ada sejumlah dampak buruk terlalu banyak sharenting yaitu orang tua biasanya lebih emosional, tidak ada lagi ruang privasi. Selain itu efek lain adalah orang tua bisa terlibat dalam persaingan dengan orang lain dan timbul rasa iri.

Selain itu beberapa informasi kecil yang kita post di medsos bisa mengundang kejahatan. Juga akan terkena risiko penculikan karena penjahat tau nama detil anak sementara biasanya anak kecil lebih percaya pada hal kecil, semisal penjahat memanggil anak dengan panggilang yang biasa di post orang tua di medsos.

Jika pun memang sharenting perlu dilakukan di medsos tanpa mengundang kejahatan, ada sejumlah upaya preventif bisa dilakukan. Yaitu jangan memakai lokasi dan tag, bagikan foto anak hanya pada keluarga.

“Jika posting, pikirkan dari sisi anak, apakah anak akan malu atau tidak. Jika kita melihat teman posting anak, anjurkan untuk berhati-hati. Dan jangan sekali-kali memposting anak tengah mandi telanjang karena bisa mengundang kejahatan. Dan kita harus memberitahu teman untuk berhati-hati dengan cara yang baik.

Pembicara lain, Aryo Hendarto, CEO PT Mandalika Wasita Sajiwa, mengatakan kecakapan digital memang dibutuhkan masyarakat di tengah semakin meningkatnya penggunaan internet masyarakat.

“Ruang digital menjadi solusi untuk kondisi masyarakat saat ini dengan banyak kelebihan dunia digital termasuk untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Bermacam kelebihan yaitu jangkauan pasar yang luas, pilihan breagam, tujuannya jangka Panjang, skalable, serta memberikan kenyamanan kepada pelanggan,” ujar Aryo.

Iya juga mengatakan dengan pertumbuhan dunia digital kesempatan pasar kerja juga berubah trennya. Untuk itu ia memberikan tipsnya kepada para pengguna internet mempersiapkan diri beradaptasi dengan dunia digital, khususnya di bidang pekerjaan.

Menurut Aryo, tren pekerjaan yang banyak diminati dan menjadi tren adalah yang terkait digital seperti content writer, website development, blogger, instagram influencer, mengajar online juga youtuber.

“Selain itu jenis pekerjaan lain yang tengah dan akan masih tren adalah pebisnis toko onlie, podcaster dan develop mobile apps.”

Selain Aryo dan Yulia, juga hadir sejumlah pembicara lain yaitu MArsujitullah Aldy Marwan, Dosen dan Sri Rahma seorang Publik Figur sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*