Headlines

Hindari Hoaks dengan Pahami Etika Digital

Seram Bagian Barat- Akhir-akhir ini hoaks banyak terjadi. Maraknya hoaks didasari faktor kecakapan digital individunya di media sosial. Menurut Muis Pikahuan, Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Keagamaan IAKN penyebaran hoaks termasuk ke dalam minimnya penerapan etika digital di media sosial.

“Etika merupakan suatu sikap bakti yang mana tidak bisa dibuat dan diintervensi orang lain, serta tidak bisa dilembagakan. Ini menjadi norma dan kaidah acuan individu sebagai makhluk sosial. Interaksi di media sosial ini harus mengedepankan nilai dan sikap bakti tadi,” tuturnya dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, Kamis (19/8/2022)

Ia menyampaikan, minimnya etika digital ini menghadirkan postingan negatif di media sosial, seperti menyerang nama baik, fitnah, caci maki, dan sebagainya. Bahkan sampai membawa persoalan ras dan suku. Dalam konteks bermedia sosial ini, sering kali kita menggunakannya tanpa didasari pertimbangan matang. Hal ini karena banyak orang yang belum mampu untuk membedakan mana hal baik dan buruk.

“Etika menjadi penting bagi kita dan nantinya akan diteruskan kepada lingkungan kita agar terhindar dari berita hoaks. Misalnya tentang hoaks vaksinasi yang membuat beberapa masyarakat kita pun mengalami keraguan untuk melakukan vaksinasi,” jelasnya.

Ia menuturkan, untuk mengatasi hoaks dan menghindarinya dimulai dari diri kita sendiri. Terkait bagaimana kita menerapkan etika dengan baik saat bermedia sosial. Caranya dengan tidak langsung membagikan suatu berita tanpa mengecek dan mengetahui kebenarannya.

Selain itu, selalu lihat situs yang kita terima atau bagikan. Apakah situs tersebut valid dan aman. Hal ini juga dilakukan dengan mengecek keseluruhan konten pada situs tersebut. Gunakan juga kemampuan dalam mempertimbangkan sesuatu secara rasional agar bisa membedakan informasi asli dan palsu. Muis menuturkan hal ini dijadikan modal dasar dalam bermain media sosial. Jangan sampai informasi yang kita sebarkan merugikan diri sendiri dan orang lain. 

Terapkan nilai-nilai kejujuran, keterbukaan, kebaikan sebagai sikap kita di media sosial. Muis mengatakan bahwa nilai-nilai ini tidak boleh dilupakan. Penerapan nilai yang baik di media sosial pun akan mengarahkan kita pada konten-konten positif. Ia mengimbau, untuk selalu mengingat juga peraturan UU ITE dalam menyebarkan informasi di media sosial.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, Kamis (19/8/2021) juga menghadirkan pembicara, Grace M. Moulina (Head of Communication & Event Dep), Dedy Triawan (CTO), dan Ahmad Affandy (Key Opinion Leader).

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *