Hoaks Layaknya Virus, Menginfeksi dengan Cepat

Kupang – Penyebaran berita hoax di tengah semakin meningkatnya penggunaan internet di tengah masyarakat semakin meluas saja. Apalagi banyak orang sangat percaya dengan isi kabar tersebut tanpa melakukan cek kebenarannya. Dan diperparah dengan tak hanya asal percaya tetapi juga ikut menyebarkan.

Menurut Maria Via Dolorosa Pabha Swan, dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Nusa Cendana, dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Jumat 16 Juli 2021, warganet wajib mengenali berita palsu atau hoax dengan memverifikasinya terlebih dahulu.

Ia juga menyitir survei yang menyatakan bahwa 63.30 persen mengira berita hoax bukan hoax karena mendapatkan berita dari orang yang dapat dipercaya.

Sedangkan 47.10 persen meneruskan berita heboh karena mendapat dari seorang dari orang yang dipercaya dan 56.40 persen tidak selalu mengetahui itu hoax pada saat menerima berita heboh. Hoax sendiri adalah rangkaian informasi yang sengaja disebar untuk menyebar permusuhan dan kebendian di tengah masyarakat.

“Ciri-ciri verita hoax salah satunya adalah begitu disebar ia dapat mengakibatkan kecemasan, permusuhan dan kebencian pada diri masyarakat yang terpapar,” ujar Maria dalam webinar yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Padahal, lanjutnya, berita hoax berasal dari sumber yang tidak jelas dan isi pemberitaannya tidak berimbang. Ada banyak macam informasi hoax, diantaranya berupa tulisan, foto dengan editan, foto dengan caption palsu atau video editan (dubbing palsu).

Sementara itu biasanya isi hoax yang sering diterima biasanya berkaitan dengan isu sosial politik, kesehatan, makanan, dan minuman. “Selain itu kerap juga berita tentang bencana alam, info pekerjaan, penipuan keuangan, kecelakaan lalu lintas, dan berita duka.”

Saat ini juga banyak beredar infodemic yang artinya adalah informasi yang berlimpah dan sebagian besar tidak benar sehingga membuat orang sulit menemukan informasi yang benar dan dapat dipercaya. Hal ini diperparah dengan kehadiran media sosial yang mempercepat sebuah informasi layaknya sebuah virus yang menginfeksi orang dengan sangat cepat dan jauh.

Selain Maria, juga hadir pembicara lain yaitu Ody Waji,  CEO Waji Travest, Novita Ayu Matoneng Oilsana, Pegiat Pariwisata,  Dila Resky sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*