Ingat Selalu Bahwa Netizen Bersifat Heterogen

Manggarai Timur – Seperti juga kehidupan nyata yang penuh keragaman, dunia media sosial juga dipenuhi populasi masyarakat yang heterogen. Oleh karena itu, penting memiliki pemahaman pentingnya hidup damai di tengah perbedaan.

Menurut Yohanes Santoso Manubelu, Pegiat Sosial, dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Jumat 16 Juli 2021, penting sekali untuk memahami masyarakat digital yang heterogen.

“Masyarakat mempunyai karakteristik yang berbeda beda baik secara kultur, bahasa dan adat. Kita perlu menerapkan etika untuk memahami perbedaan ini agar bisa meminimalisir terjadinya kontroversi,” ujar Manubelu dalam webinar yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika bekerja sama dengan Siberkreasi.

Ia juga tak menepis akan fakta tentang masih banyaknya para pengguna media sosial yang kurang bijak dalam berinteraksi sosial di jagad maya. Menurutnya hal itu dikarenakan keterbatasan pengetahuan, kurangnya sikap kritis serta perilaku di dunia nyata yang tidak terlalu memperhatikan pentingnya nilai-nila etika.

Ada sejumlah cara bisa dipakai agar kita bisa menjadi bijak dalam berteknologi digital yaitu dengan memperkuat literais digital dan memahami bahwa netizen memiliki sifat heterogen.

“Hal ini bisa berjalan dengan baik jika ada kolaborasi peran antar banyak pihak yaitu diri sendiri, orang tua dan lingkungan. Selain itu peran serta pemerintah untuk mengedukasi publik juga diperlukan disamping peran kelompok keagamaan dan komunitas masyarakat,” katanya.

Selain itu juga dibutuhkan komunikasi yang nyambung antara komunikator dan komunikan. Sebab  komunikator yang sukses salah satunya ditandai dengan kemampuannya memahami atau mengidentifikasi.

Ketidakmampuan pengguna ruang digital untuk berlaku bijak dan cakap dalam beraktivitas di jagad maya juga bisa menimbulkan munculnya ancaman kejahatan digital.

Seperti yang dikatakan oleh Chris Jatender, Kaprodi Teknik Informatika STTI STIENI bahwa jika tidak bijak memakai media sosial maka masalah akan datang termasuk ancaman kejahatan seperti phing yang kerap terjadi.

Dikatakan oleh Chris phising adalah upaya untuk mendapatka informasi data seseorang dengan Teknik pengelabuan.

 “Data yang menjadi sasaran adalah data pribadi yaitu nama usia dan alamat, data akun seperti username dan password dan data finansial yaitu informasi kartu kredit dan rekening,” ujar Chris.

Dikatakannya juga ada banyak jenis penipuan ini diantaranya adalah email phising, web phing, smishing, voice phising, spear phising dan whale phising.

Untuk itu kita perlu berhati-hati agar bisa menghindari penipuan yang jenisnya banyak ini. Sejumlah cara yang bisa dilakukan adalah dengan selalu mengecek ciapa saja pengirim email, jangan asal klik link yang diterima dan pastikan keamanan website yang diakses.

Selain Chris dan Yohanes Manubelu, hadir sejumlah pembicara lain yaitu Bernardus Dian Adi Prasetyo, Account Director Weber Shandwick dan Tisa Caca sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.*

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*