Kunci Adaptasi di Era Pandemi: Punya Keterampilan Digital

Lombok Timur  – Adaptasi merupakan kata kunci mengatasi beragam persoalan yang melanda segala bidang kehidupan manusia di masa pandemi. Yang sering kita jumpai di masa pandemi adalah banyak pekerja kehilangan mata pencaharian dan susah untuk mencari pekerjaan.

Kendati begitu, apapun yan terjadi hidup ini harus berjalan terus. Hal itu dikatakan oleh DR. Suparlan, SE, M.Sc.A, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan UGR Lombok Timur saat menjadi pembicara di Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Kamis 29 Juli 2021.

“Meski kita sedang PPKM atau pembatasan apapun di masa pandemi tapi hidup harus berjalan dan kita harus mampu beradaptasi kalau kita tidak bisa beradaptasi akan sulit untuk bertahan,” kata Suparlan.  

Untuk beradaptasi itu lanjut Suparlan, yang harus dipersiapkan adalah keterampilan atau soft skill digital yang harus dimiliki oleh siapapun yang hidup di era digitalisasi seperti sekarang ini. Selain itu yang juga harus dipersiapkan adalah semangat untuk mempelajari hal-hal yang baru.

“Pelajari hal-hal baru mungkin di kampus, kurikulumnya harus diperbaiki atau di SMK, kurikulum harus juga memasukkan tentang digital skill dan entrepreneur,” ujarnya.

Ia juga mengatakan baru-baru ini Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat membuat program memberikan pelatihan kepada mahasiswa dan umum untuk siap bekerja di era pandemi. Selain itu perlu juga ketrampilan membangun jaringan karena sangat diperlukan ketika terjun di dunia kerja setelah selesai sekolah.

 “Latih kemampuan mengelola jaringan dengan mengikuti kegiatan organisasi kemahasiswaan misalnya karena membangun networking akan berguna di kemudian hari. Mahasiswa juga harus berorganisasi soft skill yang kita dapat di organisasi sangat banyak seperti komunikasi skill, management skill, social skill, teknologi skill, semuanya bisa didapatkan di organisasi kemahasiswaan

Di samping itu, tambahnya ada sejumlah tantangan perubahan di era digital yaitu tantang di gaya hidup hybrid, hybrid Jobs juga soft skill dan hard skill hingga work from home. “Kehadiran dunia digital sebagai tantangan hidup manusia dan kita harus beradaptasi juga dengan hal ini. Di samping tantangan, ada juga peluang bagus yang bisa jadi acuan.”

Peluang itu adalah melakukan bisnis start-up yaitu rintisan bisnis yang mengandalkan teknologi untuk membantu pertumbuhan bisnis. Start-up digital adalah perusahaan teknologi website internet yang mengandalkan lebih banyak teknologi. Model bisnis ini sangat adaptif sesuai kebutuhan pasar.

Ia juga memberikan tipsnya bagi para mahasiswa yang ingin memulai membangun stratup. Yaitu sikap ulet dan tak takut gagal bahkan berkali-kali gagal pun jangan dijasdikan alasan untuk menyerah.

“Bentuk tim yang solid dan jaga konsistensi dan jangan berpuas diri. Perlu juga untuk terus bertanya dari investor yang dapat menguntungkan bisnis Anda. Idealisme penting tetapi mental lebih penting selalu buat ritme usaha digital marketing dan percaya diri,” sarannya.

Ia juga mengatakan banyak produk lokal dan destinasi wisata di NTB yang mampu bersaing di pentas nasional jika dipromosikan secara massif di ruang digital yang jangkauannya nanti akan mendunia.

Di antaranya adalah Mutiara, kain tenun pringgasela, anyaman, kendi maling, kerajinan cukli, selendang tenun ikat songket di Desa Sukarara, pendakian Gunung Rinjani, sejum; paket wisata Gunung Rinjani, Senggigi, Kuta Mandalika, Pantai pink, Pantai Kura-Kura, gunung Tambora Danau Toba.

Disamping banyak manfaat yang bisa diambil dari ruang digital untuk meningkatkan kapasitas diri dan pendapatan, sejumlah ancaman kejahatan terhadap akun digital kita yang perlu diwaspadai.

Seperti yang dikatakan oleh Dion Mario, Defensive Security Manager DANA Indonesia, sedikitnya ada delapan poin dasar ini sebagai dasar untuk kita mengamankan akun kita di dunia digital.

Diantaranya adalah amankan password hanya untuk diri sendiri dan buat yang kuat dan unik yang mengandung tanda baca huruf besar dan angka. Selain itu jangan pernah mencatatkan password di kertas dan jangan pernah bagikan kepada siapapun. Juga jangan pernah download aplikasi dari sumber yang tidak terpercaya dan sebaiknya gunakan anti-virus yang berbayar.

“Untuk mengamankan akun dan data kita berhati-hati membuka link dari seseorang yang tidak dikenal dan sebagai bentuk perlindungan terakhir adalah gunakan two factor authentification,” jelas Dion.

Ia juga mengatakan alasan kenapa sebaiknya memakai anti virus berbayar sebab fiturnya lebih lengkap. Sementara anti-virus yang gratis selalu ada beberapa fitur yang tidak aktif contohnya ada 10 fitur yang versi gratis itu cuman 4 fitur yang dioperasikan.

“Anti-virus yang berbayar itu jelas update database antivirusnya lebih lengkap dan lebih cepat updatenya dibandingkan dengan yang gratis. Jika ada virus baru maka yang anti-virus berbayar mendahulukan mengupdate untuk menangkal virus yang baru.”

Selain Dion dan Suparlan, pembicara lain yang ikur sharing wawasan dalam webinar kali ini adalah Suriadi, SS,SY, ME, Ketua Lakpesdam NU Lombok Timur dan Ari Lesmana sebagai Key Opinion Leader. 

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*