Manfaatkan Media Sosial untuk Promosikan Budaya Nusantara, Kenapa Tidak?

Ilustrasi media sosial/Dok. Istimewa

Lombok utara  -Media sosial menjadi bentuk interaksi online lewat dunia maya yang kini sudah dilakukan siapa saja. Masyarakat mulai dari yang tua hingga muda menggunakan media sosial dalam kesehariannya.
Interaksi sosial seperti mengunggah foto dan video hingga membagikan pengalaman lewat cerita bisa dilakukan lewat media sosial seperti Facebook, Instagram, maupun Twitter dan TikTok. Sri Rahma Dani, key opinion leader dalam webianr Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, Rabu (15/9/2021), mengatakan media sosial juga bisa dimanfaatkan untuk mempromosikan budaya nusantara.
“Sekarang kita lihat generasi muda lebih senang sama budaya asing, seperti Korea kan banyak penggemarnya. Tidak apa-apa menyenangi budaya asing, tapi budaya lokal dan asli Indonesia juga harus ya,” tutur Sri Rahma Dani.
Ia menyebut sejumlah kendala dalam pewarisan budaya memang tidak bisa dihindari. Misalnya, minat generasi muda pada budaya yang ada tidak sebesar dulu.
Kendala lainnya adalah budaya baru yang sudah masuk ke masyarakat serta perubahan zaman yang mengakibatkan budaya warisan tidak sesuai dengan dinamika masyarakat saat ini. Di sinilah peran media sosial diperlukan, untuk mempromosikan budaya nusantara kepada generasi yang lebih muda. Sri Rahma Dani mengatakan, konten-konten dengan budaya nusantara tetap bisa menarik ketika diunggah di media sosial.
Untuk melakukannya, ada tiga cara yang bisa dilakukan oleh generasi muda, yakni:

  1. Menggabungkan teknologi dengan budaya
    Pengemasan budaya tradisional yang digabungkan dengan efek teknologi dan media baru dapat menjadi pilihan dan diharapkan menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda.
  2. Pencitraan gaya baru
    Pencitraan budaya nusantara yang dikemas dengan teknologi dan penggunaan media sosial akan mengubah citra dan pandangan terhadap budaya itu sendiri.
  3. Modernisasi budaya
    Menghadirkan karya-karya budaya tradisional yang dikemas dengan unsur modern membuat budaya tradisional tetap relevan dengan generasi muda yang lebih modern.
    “Pemanfaatan media sosial untuk mempromosikan budaya nusantara merupakan salah satu bentuk literasi digital yang baik,” paparnya.
    Webinar kali ini juga menghadirkan Grace M. Moulina (Head of Marketing Communications Financial Company), Raden Winata Darmajaya (Konsultan PLUT-KUMKM KLU), dan Chris Jatender (Kaprodi Teknik Informatika STTI).
    Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
    Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*