Headlines

Cita-cita DC ‘Dulur Cedhak’, Gemah Ripah Loh Jinawi

Kami lahir, tumbuh dan berkembang dalam sebuah keluarga kecil, orang tua kami mempunyai 3 (tiga) orang anak, 2 laki-laki (saya yang sulung), adik laki-laki saya (tengah) dan seorang perempuan (bungsu).

Dalam bahasa sederhana keluarga ini merupakan saudara sekandung. Ya, tentu semua orang sudah paham kami adalah dulur cedhak atau saudara dekat dari orang tua yang sama.

Orang tua kami mengajarkan dan mendidik anak anaknya dengan disiplin yang keras dan tegas, mungkin orang yang baru kenal bisa beranggapan kasar dan pemarah, tapi itulah wujudnya amanah dan pertanda kasih sayang orang tua pada anak anaknya.

Kalau menjelang senja (saat adzan maghrib berkumandang) tak ada di rumah, tunggu saja hukuman! Tapi, dulur cedhak tidak hanya keluarga secara umum dalam bahasa orang ambon kitorang samua basudara artinya selain keluarga inti ada lingkungan dimana tempat tinggal kita berada. Tidan hanya itu, kita juga punya teman sejak Taman Kanak Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) dan seterusnya apabila terus sekolah ke jenjang selanjutnya.

Di ranah Minang tempat kami ber se-dulur cedhak, bertetangga, punya teman di sekolah, bermain dan bersenda gurau bersama, sudah seperti keluarga. Orang luar minang mengenal suku bangsa ini kental adat istiadatnya dan melekat dengan agama Islam yang dianut sebagian besar atau mayoritas penduduknya, yaitu dikenal dengan semboyan adat basandi syara’, syara’ basandi kitabullah. Ungkapan ini seolah-olah urang minang tidak bisa ber sedulur cedhak dengan orang berbeda agama.

Terkadang inilah yang banyak disalahpahami banyak orang, termasuk oleh elite politik bangsa ini yang juga mantan Presiden Republik Indonesia dan anaknya, mencap Minangkabau telah berubah, tidak seperti dulu, radikal dan intoleran.

Tak apa-apa biasa saja anggapan itu, dalam berkeluarga saja kakak beradik bisa berbeda-beda sifat dan karakternya, apalagi kalau merasa diperlakukan berbeda oleh orang tuanya soal jatah jajan.

Padahal, bagi urang minang tentu termasuk kami yang telah merantau ke tanah jawa melihat tidak ada yang berubah dari urang dan ranah minang. Tetap sebagai minang yang gemah ripah loh jinawi, aman tenteram kertoraharjo, bersedulur an cedhak alias badunsanak. Setelah Indonesia merdeka dikenal ulet sebagai pedagang apa saja di pasar, terutama yang dikenal masakan padang, baik yang sederhana namanya maupun yang mewah tempatnya.

Dulu, saat kami SD pernah diajarkan sebuah istilah gemah ripah loh jinawi oleh para guru, dan merupakan ungkapan dalam bahasa jawa. Ungkapan ini memiliki arti perjuangan masyarakat sebagai bagian bangsa Indonesia bercita-cita menciptakan ketentraman/perdamaian, kesuburan, keadilan, kemakmuran, tata raharja serta mulia abad.

Di sekolah tempat kami dididik oleh guru guru yang memang bisa digugu dan ditiru itulah saya punya teman beragama kristen protestan, berasal dari suku batak, Provinsi Sumatera Utara, Kami saling berbagi kisah tentang kampung halaman, sepulang sekolah bermain bersama, main gundu, petak umpet dan lain-lain di pekarangan rumah saya.

Jadi, cita-cita gemah ripah loh jinawi itu kami terapkan karena memang diajarkan dalam buku pelajaran Pendidikan Moral Pancasila atau PMP. Di dalam buku pelajaran PMP itu terdapat sebuah cerita tentang kecelakaan lalu lintas yang menimpa Pak Silalahi, beragama Kristen tapi ditolong oleh orang beragama lain.

Bahkan, teman kami ini saat ada pelajaran agama Islam guru mempersilahkan untuk keluar kelas atau ikut mendengarkan. Begitulah saat itu, pendidikan toleransi diajarkan kepada kami, tenggang rasa, tepa selira.

Begitu juga persahabatan kami berdua, saat perayaan Natal tiba, saya diundang ke rumahnya (kebetulan Ayahnya pejabat di Kota Solok) untuk sekedar makan bersama. Dan, saat sampai di rumahnya Ibunya pun menyediakan makanan khusus untuk saya, ini untuk dulur cedhak anak kami, masakan halal.

Sebegitu dekat persahabatan kami, saat ayahnya pindah tugas ke daerah lain kami satu kelas merasa kehilangan dan sebelum pindahpun kami bersama adakan acara perpisahan, makan-makan demi keselamatan dan tanda syukur.

Inilah potret sederhana penerapan gemah ripah loh jinawi yang saat ini telah dibumbui oleh kepentingan-kepentingan yang tidak jelas arahnya, entah apa maksudnya dibentur-benturkan, tidak ada orang lain yang tahu, ya hanya dia yang menyatakan kata-kata intoleran dan radikal itu sendiri tahu. Sementara itu, kini justru rakyat dipertontonkan oleh para tokoh politik yang seharusnya bisa digugu dan ditiru bukan ke arah gemah ripah loh jinawi serta dulur cedhak.

Mungkin, istilah-istilah ilmu ekonomi kini seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, produk domestik bruto, net zero emission (kata asing), transisi energi sampai ke pendapatan per kapita masyarakat umumnya tak paham, terlalu njlimet bagi mereka.

Yang jelas, kehidupan mereka sehari-hari bukanlah soal angka pertumbuhan 4 persen kek…5 persen kok atau pada tiga bulan yang ke-3 dalam masa satu tahun (triwulan III) angkanya 5,72 persen. Apa artinya bagi mereka…tak ada, atau bahasa kerennya menurut teman saya nothing, hanya Ibu Menteri Keuangan terbaik di dunia yang paham dan sebagian ekonom yang sok kebarat-baratan!

Harapan rakyat kecil, kalau memang anda dan kelompok anda menyatakan pro rakyat dan teriakan merdeka, ber Pancasila, NKRI harga mati paling kencang, tolong tunjukkan arah masa depan kami yang gemah ripah loh jinawi seperti yang diajarkan bapak anda dan para pendiri bangsa, diterapkan dalam masa Orde Baru disekolah sekolah.

Jangan sampai NKRI harga mati dan telah merdeka ini menjadi negara yang gemah ripah loh tjinawi! Mari bersama sedulur cedhak kita membangkitkan batang tarandam (istilah minang yang berarti mengangkat yang tenggelam) melalui usaha bersama berdasar azas kekeluargaan, jangan anda makan kue semua, berbagilah agar bahagia.(*)

* Defiyan Cori, Ekonom Konstitusi Alumnus Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *