Perkuat Kolaborasi Industri, BTEA Gelar Halal Bihalal dan Dorong Transformasi Pariwisata Berkualitas di Bali
Kabardenpasar – Bali Tourism Ecosystem Association (BTEA) kembali mempererat sinergi antar pelaku industri pariwisata melalui acara Halal Bihalal yang digelar di Hotel Nirmala Heritage, Jimbaran, pada Jumat (10/4).
Mengusung semangat kolaborasi, acara ini menjadi momentum penting untuk membahas tantangan pariwisata Bali di tengah dinamika global 2026.Ketua BTEA, I Made Terimayasa, mengungkapkan bahwa pertemuan ini merupakan gelaran ketiga yang terus mendapat antusiasme tinggi.
Saat ini, keanggotaan BTEA telah mencakup berbagai sektor mulai dari hotel, restoran, agen perjalanan, hingga UMKM. “Anggota yang terdata resmi sekitar 50-an, namun di grup WhatsApp sudah mencapai seribu lebih anggota. Semua yang bergerak di bidang pariwisata, baik perorangan maupun badan hukum dari seluruh Bali, bisa bergabung,” ujar Terimayasa di sela acara.
Fokus pada Pariwisata Berkualitas
Hadir dalam acara tersebut, Plt Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Badung, Ni Kadek Ari Armaeni, menekankan pentingnya ekosistem yang solid untuk beralih dari pariwisata kuantitas ke kualitas. Menurutnya, pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dalam membangun pariwisata yang berkelanjutan.
“Kita perlu saling berpegangan tangan untuk maju bersama. Untuk membangun kualitas, kita perlu kerja sama yang baik, mulai dari desa wisata hingga green tourism,” jelas Ari Armaeni.
Ia juga memaparkan data kunjungan wisatawan di Badung pada semester pertama tahun 2026 yang mengalami kenaikan sekitar 2 persen. Meski okupansi pada bulan April menunjukkan sedikit penurunan, ia optimis Bali tetap menjadi pilihan utama.
Tantangan Geopolitik dan Isu Lokal
Sektor pariwisata Bali pada periode 2025–2026 diprediksi menghadapi tantangan besar, mulai dari dampak konflik geopolitik di Timur Tengah hingga isu domestik seperti infrastruktur, pengelolaan sampah, banjir, dan kemacetan.
Meski demikian, kondisi pariwisata awal 2026 terpantau stabil dengan tingkat hunian hotel di angka 60–65%. Menariknya, krisis global justru berpotensi menggeser arah liburan wisatawan ke Bali yang dinilai sebagai destinasi aman, sehingga terjadi lonjakan turis asing sejak April 2026.
Dampak Positif bagi Pelaku Usaha
Sementara itu, General Manager Hotel Nirmala Heritage, Ketut Sukarya, menyambut baik terpilihnya hotel mereka sebagai tuan rumah. Baginya, acara ini menjadi ajang promosi yang efektif.
“Tamu kami saat ini didominasi 70 persen domestik dan 25 persen asing, kebanyakan berasal dari grup studi tur atau acara sosial seperti arisan,” kata Sukarya.
Ia menambahkan, daya tarik utama hotelnya terletak pada fasilitas di lantai 4 yang memiliki infinity pool dengan pemandangan matahari terbenam (sunset) serta kamar tamu yang luas.
Acara Halal Bihalal ini diharapkan menjadi pemantik kolaborasi lintas sektor yang melibatkan pemerintah, akademisi, industri, media, hingga masyarakat demi menjaga keberlanjutan pariwisata Bali di masa depan.***