Petani Rosela Hadapi Tantangan Berlapis dari Masalah Inovasi hingga Strategi Pasar

0

Kabardenpasar— Pengembangan budidaya tanaman rosela di tingkat petani masih membentur tembok tebal. Masalah kerentanan terhadap cuaca ekstrem, minimnya teknologi pemupukan, hingga keterbatasan akses pasar global menjadi potret buram yang harus segera diurai dari hulu ke hilir.

Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Mekar Wijaya Kusuma, Baturiti, Tabanan, Ni Luh Gede Santi Dewi, mengungkapkan bahwa petani rosela saat ini dihadapkan pada situasi yang tidak menentu. Komoditas ini sejatinya memiliki potensi ekonomi tinggi, namun risiko kegagalan panen akibat anomali cuaca masih sangat membayangi.

“Kami sangat membutuhkan inovasi dalam budidaya rosela. Salah satu yang sempat kami coba dan berhasil adalah sistem tumpangsari rosela dengan tanaman sayur seperti bayam dan sayur hijau lainnya. Permasalahan pelik muncul ketika cuaca mulai tidak bersahabat,” ujar Santi Dewi di sela-sela kegiatan pelatihan serangkaian International Community Service di Tabanan, Selasa (26/5/2026).

Program pengabdian masyarakat internasional tersebut merupakan hasil kerja sama strategis antara Program Studi Agroteknologi Universitas Warmadewa (Unwar) Bali dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM), Malaysia.

Santi Dewi menjelaskan, tanaman rosela menjadi sangat rentan terhadap serangan penyakit dan penurunan kualitas hasil panen saat iklim tidak menentu. Kehadiran para akademisi dan peneliti, khususnya dari Prodi Agroteknologi Unwar, sangat dinantikan untuk membawa formula baru yang aplikatif di lapangan.

Keterbatasan pengetahuan teknis mengenai pemeliharaan tanaman juga menjadi ganjalan serius di luar masalah adaptasi cuaca. Petani di pedesaan masih kerap meraba-raba terkait efisiensi pemupukan yang ideal.

“Permasalahan kami lainnya adalah inovasi dalam melakukan pemupukan, serta bagaimana teknik membuat kompos dengan cepat dan mudah menggunakan bahan baku lokal yang ada di sekitar kami,” imbuhnya.

Tantangan bagi KWT Mekar Wijaya Kusuma tidak berhenti pada urusan dapur produksi di kebun. Tantangan baru yang tidak kalah rumit sudah menghadang di depan mata saat panen berhasil melimpah, yakni kepastian serapan pasar.

Santi Dewi mengakui, tata niaga rosela selama ini masih bersifat konvensional dan terbatas. Petani kerap menjadi pihak yang paling dirugikan saat harga tidak stabil akibat ketiadaan jaringan distribusi yang mandiri.

“Memang pada sisi lain, kami juga sangat membutuhkan strategi pemasaran yang modern. Inovasi budidaya saja tidak akan cukup kalau kami tidak tahu harus menjual produk olahan rosela ini ke mana dengan harga yang adil,” tutur Santi Dewi.

Para petani di Baturiti berharap ada peta jalan (roadmap) yang konkret melalui kolaborasi lintas negara antara Universitas Warmadewa dan Universiti Teknologi MARA ini. Transfer teknologi dan ilmu pengetahuan dari meja perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi pemutus rantai persoalan berlapis yang selama ini mengikat produktivitas petani rosela di Bali.

Keluhan dan harapan para petani tersebut mendapat respons positif dari pihak akademisi. Ketua Program Studi Agroteknologi Universitas Warmadewa, Dr. Ir. I Gusti Bagus Udayana, M.Si., menyatakan bahwa seluruh persoalan yang dihadapi oleh KWT Mekar Wijaya Kusuma menjadi fokus utama dalam program kemitraan ini.

“Kami di Prodi Agroteknologi Unwar sangat memahami kecemasan petani, terutama terkait fluktuasi cuaca yang mengganggu sistem tumpangsari rosela. Kami sedang menyiapkan formula teknologi adaptif, termasuk introduksi mikroorganisme pengurai untuk pembuatan kompos kilat agar petani bisa mandiri dalam menyediakan nutrisi tanaman yang tangguh,” kata I Gusti Bagus Udayana.

Pihaknya menambahkan, kerja sama internasional dengan Universiti Teknologi MARA Malaysia ini sengaja dirancang untuk mempercepat transfer teknologi tersebut. Penanganan dari sisi hulu saja tidak akan menyelesaikan masalah tanpa adanya perbaikan di sisi hilir.

Gayung bersambut, perwakilan Fakulti Sains Gunaan Universiti Teknologi MARA, Siti Khairiyah Mohd Hatta, memberikan paparan ilmiah yang memperkuat langkah para petani. Menurutnya, kombinasi antara rosela dan bayam brazil merupakan strategi pertanian yang sangat menjanjikan karena menggabungkan keberlanjutan lingkungan, efisiensi lahan, dan manfaat ekonomi.

“Kombinasi rosela dan bayam brazil ini sangat sesuai karena kedua tanaman memiliki struktur pertumbuhan dan kebutuhan sumber daya yang berbeda. Rosela tumbuh secara vertikal ke atas, sedangkan bayam brazil tumbuh secara horizontal sebagai penutup tanah sehingga penggunaan ruang menjadi jauh lebih efisien ,” papar Siti Khairiyah.

Siti Khairiyah juga memaparkan solusi konkret atas kekhawatiran petani mengenai persaingan nutrisi dan air akibat cuaca yang tidak menentu. Ketika rosela yang berakar dalam dan bayam brazil yang berakar dangkal berada di satu lahan, tantangan perebutan nutrisi bisa diatasi dengan penambahan kompos organik serta pengaturan jarak tanam yang ideal.

“Mengenai perbedaan kebutuhan air, di mana rosela lebih tahan kering sedangkan bayam brazil memerlukan air yang kerap, petani bisa menerapkan sistem penyiraman tetes (water drip) serta penggunaan sungkupan untuk menjaga kelembapan tanah. Langkah ini sekaligus meminimalkan risiko kegagalan tanaman saat cuaca buruk ,” tambahnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *