FPST Unwar, UiTM Malaysia, dan Pampanga Filipina Rancang Pemberdayaan Berbasis Rosella

0

Kabardenpasar – Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa (FPST Unwar) Bali, bersama Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia dan Pampanga State Agricultural University Filipina, resmi merancang program pemberdayaan masyarakat berbasis inovasi komoditas rosella. Langkah strategis lintas negara ini diwujudkan melalui pembukaan kegiatan International Community Service atau Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Internasional yang digelar di Kabupaten Tabanan, Selasa (26/5/2026).

Program kolaborasi internasional ini mengusung tema “Community Empowerment through Cultivation and Rosella Product Innovation: Collaboration with Local Communities for Sustainable Development”. Fokus utamanya adalah menghulu-hilirkan potensi tanaman rosella agar memberikan dampak ekonomi langsung bagi kemandirian komunitas lokal.

Dekan FPST Universitas Warmadewa, Prof. Dr. Ir. Luh Suriati, M.Si., menegaskan bahwa tantangan pembangunan berkelanjutan saat ini memerlukan penguatan kapasitas masyarakat yang tumbuh dari aktivitas nyata, produktif, dan bernilai ekonomi tinggi. Melalui kultivasi yang terarah serta hilirisasi inovasi produk berbasis rosella, luaran akademis diharapkan tidak sekadar menjadi dokumen di atas meja.”Kita semua memahami bahwa pemberdayaan masyarakat memerlukan kolaborasi lintas pihak: kampus sebagai sumber ilmu dan teknologi, pemerintah sebagai fasilitator kebijakan, dunia usaha sebagai penggerak rantai nilai, serta masyarakat sebagai pelaku utama,” ujar Luh Suriati saat membuka acara.

Suriati menambahkan, tanaman rosella dipilih karena sifatnya yang adaptif, memiliki peluang pasar yang luas, dan dapat dikembangkan secara bertahap oleh kelompok tani. Inovasi produk turunannya—seperti minuman fungsional dan olahan pangan—akan mendorong terciptanya nilai tambah yang berujung pada peningkatan pendapatan masyarakat.”Di sinilah pemberdayaan menjadi nyata: ilmu bertransformasi menjadi usaha, dan usaha bertransformasi menjadi kesejahteraan,” tegasnya.

Senada dengan hal tersebut, perwakilan akademisi dari Pampanga State Agricultural University Filipina, Princes B. Torres, MSc., RAgr., mengungkapkan bahwa pengabdian masyarakat berskala internasional merupakan kerja kolektif yang menuntut komitmen besar lintas sektor. Kolaborasi ini memastikan bahwa tanggung jawab sosial universitas benar-benar berjalan secara menyeluruh sebagai jembatan pengetahuan bagi petani.

Menurut Torres, salah satu langkah konkret dalam program pendampingan ini adalah dengan menekan tingginya penggunaan pupuk kimia melalui introduksi pertanian organik yang lebih ramah lingkungan.”Para petani diberi dukungan nyata berupa *starter kit* yang berisi panduan pengomposan, pemilihan pupuk, serta teknik pengendalian hama. Kami membawa hasil riset universitas ke lapangan, seperti penggunaan agen pengendali hayati dan formula komposisi pengomposan yang lebih efektif untuk langsung diaplikasikan oleh petani di lahan mereka,” papar Torres.

Torres juga menguraikan bahwa pemberdayaan ini dirancang secara integratif dari hulu hingga hilir. Kampus tidak hanya melakukan transfer teknologi budidaya dan pengolahan untuk menciptakan nilai tambah produk—seperti mengolah komoditas lokal menjadi produk siap jual—tetapi juga mengawal aspek hilirisasinya.

“Kami juga membantu mempromosikan produk hasil komunitas ini melalui pemanfaatan media digital, YouTube, televisi, hingga radio demi memastikan akses pasar yang nyata. Tujuannya agar masyarakat mampu mengadaptasi teknologi baru secara mandiri dan memperoleh manfaat ekonomi jangka panjang,” tambahnya.Langkah sinergis lintas negara ini mendapat sambutan positif dari Pemerintah Kabupaten Tabanan. Kepala Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Kabupaten Tabanan, Irina Rosmala Dewi, menyatakan bahwa sektor pertanian saat ini tidak bisa lagi dikelola secara konvensional di tengah ancaman perubahan iklim ekstrem, penyusutan lahan produktif, dan lonjakan populasi.

Menurut Irina, kerja fisik yang berat di sektor pertanian kini membutuhkan sentuhan inovasi sains dan teknologi sebagai sebuah kebutuhan mutlak untuk menjaga ketahanan pangan global.”Kita butuh semangat modernisasi pertanian (precision farming), mulai dari penggunaan sensor tanah berbasis kecerdasan buatan (AI), penyemprotan presisi, hingga sistem manajemen rantai pasok yang terintegrasi. Inilah yang akan mengubah wajah pertanian kita menjadi efisien dan berkelanjutan,” kata Irina.

Ia mengingatkan agar kolaborasi riset antara akademisi Indonesia, Malaysia, dan Filipina ini memberikan solusi nyata di lapangan demi memastikan ketersediaan pangan bagi generasi masa depan. Pihaknya berharap forum internasional ini melahirkan implementasi konkret yang langsung menyentuh tanah hilir.”Saya sangat bangga melihat antusiasme yang luar biasa ini. Ini bukti kepedulian terhadap masa depan pertanian masih sangat menyala. Namun, jangan biarkan apa yang sudah baik ini hanya berhenti di atas kertas atau menjadi pajangan. Bawa ilmu ini ke sawah, ke ladang, dan ke perkebunan agar manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” pungkas Irina.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *