Perempuan Petani Kopi Desa Catur Mulai Mengungkap Nilai Karbon dari Kebun Mereka

0

Kabardenpasar — Nilai Ekonomi Karbon (NEK) selama ini sering dipahami sebagai isu lingkungan yang jauh dari kehidupan sehari-hari petani.

Namun bagi perempuan petani kopi di Desa Catur, Kintamani, karbon mulai diperkenalkan sebagai bagian penting dari nilai yang tersimpan di dalam kebun kopi mereka, oleh pelatihan pemberdayaan yang diadakan oleh Coop Coffee Foundation sebagai bentuk kelanjutan dari edukasi tentang potensi karbon di desa Catur sejak tahun 2023.

Melalui kegiatan “COFFEE CARBON, THE HIDDEN VALUE”, Coop Coffee Foundationmemberikan edukasi dasar mengenai karbon kepada perempuan petani kopi Desa Catur, termasuk pengenalan mengenai apa itu NEK, mengapa karbon penting bagi pertanian, serta bagaimana melakukan perhitungan karbon secara manual dari area kebun kopi.

Coop Coffee Foundation sebagai mitra atau pendamping perdagangan karbon bidang perhutanan sosial melaksanakan kegiatan pendampingan hari ini 21 Agustus 2026 bagi persiapan pelaku usaha perdagangan karbon yang dalam hal ini adalah petani pemegang hak hutan kopi sebagaimana petunjuk yang didapatkan dari Direktorat Jenderal Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan dihari Senin, 27 Juli 2026 yang lalu lewat audiensi terbuka Ibu Dirjen terkait dan Coop Coffee Foundation.

Sebagaimana persyaratan administratif dilengkapi oleh CoopCoffee Foundation sebagai mitra atau pendamping karbon, begitu juga kegiatan hari ini adalah komitmen Coop Coffee Foundation untuk persyaratan teknis dengan menyiapkan pelatih atau tutor yang mumpuni di bidang pemahaman nilai ekonomi karbon (NEK) dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk Kepala Desa Catur dan Ibu Kepala Desa Catur selaku ketua PKK desa Catur yang juga dihadiri online oleh perwakilan dari Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk daya saing produk perkebunan& hortikultura, Kementerian Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup, dan Kementerian Koperasi.

Dari Pohon Kopi Menjadi Data Karbon Salah satu fokus utama kegiatan adalah memperkenalkan kepada petani bahwa pohon, tanaman penaung, vegetasi, dan sistem agroforestri di dalam kebun bukan hanya memiliki nilai bagi produksi kopi dan ekosistem, tetapi juga memiliki peran dalam menyerap dan menyimpan karbon.

Para peserta diperkenalkan pada pendekatan sederhana untuk memahami dan menghitung karbon secara manual. Dengan demikian, petani tidak hanya mengetahui bahwa kebunnya memiliki potensi menyerap karbon, tetapi juga mulai memahami bagaimana potensi tersebut dapat diukur dan dicatat berdasarkan kondisi nyata di lapangan.

Bagi Coop Coffee Foundation, kemampuan petani untuk memahami dan menghasilkan data karbon dari kebunnya sendiri merupakan langkah awal menuju tata kelola karbon yang lebih transparan, terukur, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Perempuan sebagai Penjaga Kebun dan Penjaga Nilai Karbon

Keterlibatan perempuan menjadi bagian penting dalam kegiatan ini. Perempuan petani memiliki peran besar dalam aktivitas pertanian, mulai dari pemeliharaan tanaman, pengelolaan kebun, pengolahan hasil, hingga pengambilan keputusan di tingkat keluarga dan komunitas.

Karena itu, literasi karbon tidak seharusnya hanya diberikan kepada pengelola program atau lembaga pendamping, tetapi juga harus sampai kepada perempuan yang sehari-hari berinteraksi langsung dengan ekosistem pertanian.

“Karbon bukan sesuatu yang jauh dari petani. Karbon ada di kebun mereka, di pohon yang mereka tanam, di tanah yang mereka jaga, dan di sistem agroforestri yang mereka rawat. Karena itu, perempuan petani harus memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk memahami serta menghitung nilai karbon tersebut.”

Edukasi karbon harus dimulai dari tingkat paling dasar agar petani tidak hanya menjadi objek dalam perdagangan karbon, tetapi dapat memahami prosesnya dan memiliki posisi yang lebih kuat dalam rantai nilai karbon di masa depan.“

Kami ingin perempuan petani bukan hanya menjadi penjaga kebun, tetapi juga menjadi penjaga nilai. Ketika mereka mampu memahami data karbon dari kebunnya sendiri, mereka memiliki dasar yang lebih kuat untuk berbicara tentang keberlanjutan, nilai lingkungan, dan peluang ekonomi dari karbon.

Perdagangan Karbon Harus Berangkat dari Kebun dan PetaniCoop Coffee Foundation melihat bahwa pengembangan ekonomi karbon di sektor kopi harus dibangun melalui proses yang transparan dan berbasis data.

Karena itu, edukasi mengenai pengukuran karbon menjadi tahap penting sebelum berbicara lebih jauh mengenai perdagangan karbon. Petani perlu memahami apa yang dihitung, bagaimana cara menghitungnya, dari mana datanya berasal, serta bagaimana data tersebut dapat diverifikasi.

Pendekatan ini diharapkan dapat mendorong terbentuknya model pertanian kopi yang tidak hanya menghasilkan komoditas berkualitas, tetapi juga menghasilkan nilai ekologis yang dapat diukur.

Dengan demikian, konsep “hidden value” dalam COFFEE CARBON, THE HIDDEN VALUE merujuk pada nilai lingkungan yang selama ini berada di balik produksi kopi—khususnya kemampuan ekosistem kebun dalam menyerap dan menyimpan karbon.

Dari Edukasi Menuju Aksi Kegiatan di Desa Catur merupakan bagian dari upaya membangun literasi dan kapasitas masyarakat petani dalam menghadapi perubahan ekonomi dan lingkungan yang semakin menempatkan karbon sebagai salah satu indikator penting keberlanjutan.

Coop Coffee Foundation menilai bahwa masa depan kopi tidak hanya berbicara mengenai harga dan kualitas biji kopi, tetapi juga mengenai bagaimana sebuah wilayah mampu menjaga tanah, air, pohon, biodiversitas, dan kemampuan ekosistemnya dalam menyerap karbon.

Melalui keterlibatan perempuan petani sejak tahap awal pengukuran, Desa Catur diharapkan dapat membangun fondasi menuju model coffee economy yang lebih hijau, terukur, inklusif, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat di tingkat kebun, Kalau kita ingin membangun ekonomi karbon yang adil, kita harus mulai dari orang yang menjaga lahannya.

Dan di banyak kebun kopi, perempuan adalah bagian penting dari penjaga tersebut. Mereka harus ikut menghitung, memahami, dan menentukan nilai dari karbon yang mereka rawat.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *