Headlines

Jenis -Jenis Penipuan yang Kerap Terjadi Belakangan Ini Melalui Internet

Jakarta – Penipuan melalui jaringan internet sudah bukan hal baru lagi di dunia ini. Secanggih apapun proteksi yang dipasang, tetap bisa dibobol oleh seorang hacker. Penipuan di internet pun beragam jenisnya. Mulai dari scam, phising, account take over, carding, dan masih banyak lagi yang lainnya. 

Jenis penipuan yang seringkali terjadi akhir-akhir ini adalah top up pulsa, menawarkan pekerjaan, hingga kode OTP dari kasir minimarket yang bertujuan menyadap smartphone pengguna untuk disalahgunakan. Menurut Abang Suluh Husudo, Managing Director PT Maxplus Indonesia Anugerah mengatakan penipan di internet berisiko membahayakan moril dan materil. 

Hal tersebut dia sampaikan dalam Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 di wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (11/6/2021). “Penipuan memang sudah marak dari zaman dulu kala, namun saat ini saat orang baru bangun tidur saja katakanlah, sudah bisa kena penipuan,” kata dia membuka sesi sharingnya. 

Para pelaku biasanya memperdaya korban, memanipulasi pikiran dan pandangan demi mendapatkan keuntungan berupa identitas pribadi. Untuk kemudian, dijelaskan lebih lanjut oleh Suluh setelah pelaku mendapatkan data atau berhasil menyadap smartphone mereka akan berpura-pura menjadi korban dan meminta uang kepada seluruh isi kontak yang ada. 

“Penipuan seperti itu saat ini sudah marak terjadi. Untuk itu jangan pernah mau memberikan kode OTP apapun kepada orang lain. Atau mengklik hal yang mencurigakan,” tambahnya. 

Menurut Suluh, taktik pelaku penipuan cenderung sama dan berpola. Yakni membuat korbannya merasa takut dan mempercayai segala bentuk ucapan mereka hingga akhirnya berempati dengan cerita bohong yang disampaikan. 

“Pelaku memanfaatkan rasa takut dari korban dengan menggiring ke alamat lain untuk mendapatkan username dan password. Korban yang legah akan lupa diri untuk mengecek segala kebenaran dari sebuah jebakan,” tambah Suluh. 

Bentuk penipuan di internet pun bermacam-macam. Penipuan di sosial media bentuknya pengambil alihan akun, pinjaman uang, beli pulsa maupun titip transfer. Sementara penipuan di pasar online biasanya jual beli barang palsu, harga yang ditawarkan sangat murah cenderung tidak masuk akal, barang fiktif hingga transfer uang muka. 

“Jika melakukan pembelian barang secara daring atau online, ada baiknya jangan pernah mau untuk mentransfer uang lebih dulu. Ada baiknya gunakan pihak ketiga agar transaksi lebih aman.”

Dia pun memberikan tips bagaimana bisa menghindari dan menangani penipuan online tersebut dengan cara; tidak asal mengklik link apapun di sosial media. Jangan mudah percaya dengan harga miring, ada baiknya Anda mencari tahu harga pasar yang sesungguhnya. Jangan mudah terpengaruh atau simpati dengan suatu cerita yang belum tentu benar. 

“Kemudian gunakan platform e-commerce terpercaya ketika akan belanja online. Agar ada pihak ketiga yang menampung dana sebelum barang tiba,” lanjutnya. 

Hal yang lebih penting dikatakan Suluh bahwa jangan pernah mengumbar data pribadi di sosial media sekecil apapun. Juga teliti sebelum bertindak lebih jauh agar bisa terhindar dari penipuan online. 

“Jangan pernah ragu untuk melaporkan segala tindakan penipuan yang terjadi di internet,” tutupnya. 

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital yang diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Siberkreasi di wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Jumat (11/6/2021) pagi ini juga menghadirkan pembicara lain yakni Josephine Brightnessa (Marketing Manager Digital APPS Transportation), Arief Hidayatullah, S.Ikom., M.Si. (Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi STISIP Mbojo Bima), Suaeb, S.Pd., M.Pd (Dosen Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan STKIP Bima, Sekretaris Lembaga Penjaminan Mutu STKIP Bima), dan Key Opinion Leader Marizka Juwita. 

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *