Gelar Metatah Nyurud Ayu Samani, Wujud Banjar Ubud Kaja sebagai Rumah Bersama
Kabardenpasar, 24 Mei 2026 -Banjar Adat Ubud Kaja kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kelestarian dresta, adat, budaya, dan nilai kebersamaan melalui pelaksanaan rangkaian Upacara Piodalan Pura Catur Buwana dan kegiatan Metatah Nyurud Ayu Samani yang digelar pada tanggal 23–24 Mei 2026.
Piodalan Pura Catur Buwana dilaksanakan pada Saniscara Kliwon Wariga, Sabtu (23/5), yang bertepatan dengan Hari Tumpek Uduh — hari pemuliaan terhadap tumbuhan dan alam semesta dalam tradisi Hindu Bali.
Puncak piodalan berlangsung menjelang petang sekitar pukul 17.00 WITA dan dihadiri oleh seluruh krama Banjar Adat Ubud Kaja.
Piodalan (pujawali) dipimpin oleh Ida Peranda Griya Peling Delodan Padangtegal Ubud.
Piodalan kali ini sangat istimewa, karena dirangkaikan dengan kegiatan Metatah Nyurud Ayu Samani, sebuah gagasan baru yang lahir dari semangat kebersamaan krama Banjar Adat Ubud Kaja.
Kegiatan Metatah Nyurud Ayu Samani dilaksanakan pada Minggu (24/5), Redite Umanis Warigadean. Upacara ini menjadi terobosan berani Angga Juru Banjar Adat Ubud Kaja sebagai respons terhadap kondisi masyarakat adat di tengah arus perubahan sosial dan tuntutan kehidupan modern yang dinamis.
Krama Banjar Adat cenderung berharap dapat melaksanakan upacara tradisi dengan praktis dan efisien.
Banjar Adat Ubud Kaja mencoba menunjukkan keberadaan banjar adat sebagai rumah bersama, yang memberikan pengayoman kepada krama dengan menyediakan format gelaran upacara Metatah Nyurud Ayu Samani yang efisien (baik dari segi waktu maupun biaya karena tidak dipungut biaya alias gratis).
Menurut sejumlah warga, kegiatan ini menjadi yang pertama kali dilaksanakan di lingkungan Desa Adat Ubud. Selama ini pelaksanaan Metatah biasanya dilakukan secara mandiri di lingkup keluarga dan secara masal yang dilakukan bersamaan dengan upacara Nyekah pada saat Ngaben masal.
Dalam ajaran Hindu Bali, upacara Metatah atau Mepandes dimaknai sebagai simbol pengendalian Sad Ripu, yakni enam musuh dalam diri manusia yang terdiri dari kama (nafsu), loba (rakus), kroda (amarah), mada (kemabukan/keangkuhan), moha (kebingungan), dan matsarya (iri hati).
Melalui prosesi ini, peserta diharapkan mampu memasuki fase kedewasaan dengan kesadaran moral, spiritual, dan sosial yang lebih baik.
Namun dalam konsep Metatah Samani, ritual ini tidak hanya dimaknai sebagai penyucian diri secara spiritual, tetapi juga sebagai upaya menyelaraskan hati dan meniadakan sekat sosial di tengah masyarakat.
Kelihan Banjar Adat Ubud Kaja, I Wayan ‘Putih’ Subadi, menjelaskan bahwa semangat utama dari Metatah Samani adalah membangun rasa persaudaraan dan kesetaraan di tengah kehidupan masyarakat adat. “Esensi metatah sebagai ritus penyucian diri dengan meratakan enam gigi sebagai simbol Sad Ripu. Dalam Metatah Samani, yang juga diratakan adalah ego sosial dan perbedaan status,” ungkapnya.
Gagasan ini lahir dari aspirasi masyarakat Banjar Adat Ubud Kaja yang menginginkan pelaksanaan upacara adat tetap dapat dijalankan secara bersama-sama dengan mengedepankan semangat gotong royong dan solidaritas sosial masyarakat banjar.
Setelah melalui paruman adat, seluruh krama banjar menyepakati pelaksanaan kegiatan tersebut dan memberikan dukungan penuh, baik secara moril maupun material. Dukungan krama banjar adat tampak dari tingginya partisipasi warga yang medana punia, menyumbangkan makanan dan minuman, hingga ngayah selama rangkaian acara berlangsung.
Panitia dan pemuda STT Santhi Graha Ubud Kaja bekerja (ngayah) dengan dedikasi yang sangat tinggi menyiapkan segala sarana dan prasarana acara. Koperasi Ubud Kaja hadir dengan tegas memberikan support pendanaan terhadap kegiatan ini.
Upacara Metatah Nyurud Ayu Samani diikuti oleh 22 peserta yang berasal dari krama Banjar Adat Ubud Kaja, beberapa banjar di sekitar Desa Adat Ubud, hingga peserta dari luar Desa Adat Ubud.
Prosesi upacara dipuput oleh Ida Peranda Griya Peling Delodan dan Ida Peranda Griya Peling Baleran Padangtegal Ubud.
Selain upacara metatah, kegiatan juga dirangkaikan dengan upacara Menek Kelih sebagai simbol peralihan anak menuju remaja, serta upacara Mepetik dan Meoton untuk anak-anak.
Rangkaian kegiatan ini turut dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat dan pemerintahan, di antaranya Camat Ubud, Lurah Ubud, Kepala BPD Cabang Ubud, Ketua LPM Kelurahan Ubud, Ketua Yayasan Bina Wisata Kelurahan Ubud, Panglingsir Puri Agung Ubud, Angga Sesari Puri, Panglingsir Desa Adat Ubud beserta pengabih, angga juru Desa Adat Ubud, para kelihan banjar se-Bale Agung Ubud, manggala LPD Desa Adat Ubud, Sabha Desa Adat Ubud, Pecalang Desa Adat Ubud, Sabha Yowana Desa Adat Ubud, hingga manajer Koperasi Banjar Adat Ubud Kaja.
Melalui pelaksanaan Piodalan dan Metatah Nyurud Ayu Samani ini, Banjar Adat Ubud Kaja ingin menegaskan bahwa banjar bukan hanya ruang administratif adat, melainkan rumah bersama yang merangkul seluruh masyarakat dalam semangat menyama braya, gotong royong, dan kebersamaan universal.