Hadirkan 15 Musisi Global, UVJF 2026 Jadi ‘Vitamin’ Segar Pecinta Jazz
KABARDENPASAR – Ubud Village Jazz Festival (UVJF) kembali menyapa para pecinta musik jazz untuk ke-13 kalinya. Event tahunan bergengsi ini siap digelar selama dua hari, mulai 7 hingga 8 Agustus 2026, dengan memilih lokasi baru di Athala Ubud Bali, A Tribute Portfolio Hotel.
Mengusung suasana alam yang intim khas Ubud, festival tahun ini akan menghadirkan 15 musisi jazz ternama dari Indonesia dan 10 negara mancanegara. Para penonton akan dimanjakan dengan penampilan para musisi yang tersebar di tiga panggung berbeda.
Salah satu penampil yang paling ditunggu adalah drummer asal Italia, Simone Pratico. Pada edisi kali ini, Simone membawa proyek kolaborasi spesial bersama dua musisi berbakat Indonesia, yakni Kris Harinaga (piano) dan Kevin Yosua (bass).
“Menurut saya sangat penting bagi kalian semua untuk menyadari betapa hebatnya talenta-talenta musik yang dimiliki Indonesia. Festival seperti ini memiliki peran yang sangat penting untuk memperkenalkan sekaligus mengembangkan potensi tersebut,” ujar Simone saat konferensi pers di Sanur, Denpasar, Kamis (30/7/2026). Ini menjadi penampilan ketiga bagi Simone di Indonesia, di mana dua di antaranya di panggung UVJF.
Kemeriahan panggung juga akan diramaikan oleh Salamander Big Band yang dipimpin oleh Devy Ferdianto. Membawa rombongan besar berisi lebih dari 30 orang, penampilan ini menjadi momen ikonik ketiga mereka di UVJF setelah tahun 2016 dan 2021.
“Tentu tidak mudah untuk mendatangkan rombongan orkes sebanyak ini ke sini. Namun, tampil di event besar ini selalu menjadi kerinduan bagi kami,” ungkap Devy.
Sementara itu, musisi senior sekaligus penggerak UVJF, Yuri Mahatma, menekankan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam mencetak musisi jazz kelas dunia. Ia menyebut dunia jazz tanah air tidak hanya memiliki Joey Alexander.
“Saya percaya masih banyak ‘Joey-Joey’ lain di Indonesia yang sampai hari ini belum mendapatkan ruang yang layak,” kata Yuri.
Ia mencontohkan Rayson, seorang gitaris belia berusia 14 tahun dengan kemampuan mengagumkan, serta JZKA Trio yang seluruh personelnya masih berusia belasan tahun namun sudah memiliki kualitas permainan layaknya prodigy (anak jenius).
Menurut Yuri, seluruh ekosistem jazz memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan regenerasi ini terus berjalan melalui panggung berstandar internasional seperti UVJF.
Penyelenggaraan UVJF ke-13 ini diakui menjadi salah satu edisi yang paling menantang. Co-founder UVJF, Anom Darsana, blak-blakan mengenai perjuangan berat dari sisi finansial demi mempertahankan festival ini agar tetap eksis. Beruntung, komitmen ini mendapat dukungan kuat dari dunia internasional.
“Banyak musisi internasional dapat hadir karena memperoleh dukungan dari pemerintah dan lembaga kebudayaan di negara masing-masing. Mereka percaya pada kualitas festival ini,” jelas Anom.
Anom menegaskan bahwa UVJF akan tetap mempertahankan identitasnya sebagai festival yang intim dan dekat dengan penonton, alih-alih mengejar skala acara yang masif.
“Memang festival ini mungkin tidak sebesar festival-festival lain di Indonesia. Kami memilih tetap menjadi festival yang intim dan menjaga kualitas pengalaman yang kami tawarkan. Justru di situlah identitas kami, dan identitas itu akan terus kami pertahankan,” pungkasnya.***