Suara Warga Celukan Bawang Lahirkan Film Dokumenter ‘Zona Pengorbanan’

0

KABARDENPASAR — Jeritan hati masyarakat pesisir Bali Utara yang ruang hidupnya terancam proyek energi berskala besar didokumentasikan kedalam sebuah film dokumenter pendek berjudul “Celukan Bawang: Zona Pengorbanan Energi Bali”. Film tersebut dipertontonkan kepada sejumlah wartawan dalam agenda pemutaran khusus di Warung Kubu Kopi, Denpasar, Bali, pada Sabtu (10/10/2026).

Film berdurasi 25 menit garapan sutradara Rai Astrawan bersama lembaga masyarakat sipil Rhizoma Indonesia ini mengangkat potret pilu Desa Celukan Bawang, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Sebuah desa pesisir yang sejatinya memiliki ikatan sangat kuat dengan laut, kini berada di persimpangan jalan akibat dampak masif pembangunan infrastruktur energi global.

Usai pemutaran film, dalam sesi tanya jawab, terungkap bahwa proyek pembangkitan energi di Bali Utara selama beberapa tahun terakhir telah membawa perubahan sosial-ekologis yang merugikan warga lokal.

Belum usai dampak dari PLTU Celukan Bawang I diselesaikan, masyarakat setempat kini kembali dihadapkan pada ambisi megaproyek “Bali Mandiri Energi” yang mengampanyekan transisi ke gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG).

Dalam struktur pembangunan industri ekstraktif pariwisata di Bali, pasokan energi memang menjadi elemen fundamental. Namun, kemandirian energi tersebut dinilai egois karena kembali menjadikan ruang hidup nelayan Celukan Bawang sebagai korban demi menerangi wilayah Bali lainnya.

Di balik visualisasi film yang menggugah, terdapat kerja keras para aktivis lingkungan dan peneliti yang berkolaborasi mengumpulkan data lapangan agar persoalan ini dipahami secara utuh oleh para pengambil kebijakan.

Hadir mendampingi sutradara dalam diskusi tersebut, Roberto Hutabarat, aktivis lingkungan senior sekaligus Koordinator Jaringan Don’t Gas Indonesia (DGI). Roberto, yang dikenal vokal mengkritisi kebijakan energi berbasis fosil, menegaskan bahwa pembangunan di Bali sudah sepatutnya menyentuh persoalan riil dan melindungi hak-hak masyarakat adat, petani, serta nelayan pesisir.

Suara kritis Roberto diperkuat oleh data berbasis sains yang disusun oleh tim Rhizoma Indonesia, yakni Wahyu Widianto dan Amanda Faramerta. Keduanya merupakan otak di balik riset mendalam bertajuk “Merekam Celukan Bawang (Pt. 1): Ruang Hidup dan Rencana-Rencana”. Riset ini secara presisi memetakan bagaimana proyek energi tersebut secara nyata mengancam wilayah tangkap nelayan lokal dan merusak ekosistem laut Bali Utara. Kolaborasi riset ilmiah inilah yang menjadi pelengkap narasi kritis dan basis argumen kuat di dalam film.

Sutradara Rai Astrawan berharap film dokumenter ini dapat menjadi media efektif untuk menggedor kesadaran publik maupun pihak-pihak terkait mengenai realitas di tingkat tapak. “Kami ingin penonton tidak hanya menerima pembangunan begitu saja sebagai proses untuk memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga bersikap kritis terhadap dampak serta konsekuensi logis bagi kehidupan warga lokal,” ujar Rai.

Melalui film bertema desa, pesisir, energi, dan sosial-ekologis ini, seluruh pihak diajak untuk membuka ruang diskusi yang lebih luas dan adil. Pembangunan tidak boleh lagi berjalan searah dengan mengorbankan mata pencaharian masyarakat kecil, melainkan harus mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan dan hak atas ruang hidup yang bersih serta transparan bagi warga Celukan Bawang.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *