18 Tahun Berjuang Belum Bebas Rabies, PDHI Bali Soroti Keterbatasan Dana Operasional Lapangan
KABARDENPASAR – Peringatan Hari Rabies Sedunia (World Rabies Day) 2026 yang berpusat di Lapangan Bajra Sandhi, Renon, Denpasar, menjadi momentum krusial sekaligus refleksi mendalam bagi Pulau Dewata. Bagaimana tidak, setelah 18 tahun berjuang keras sejak kasus pertama kali merebak pada tahun 2008, Bali terbukti belum mampu sepenuhnya lepas dari bayang-bayang ancaman virus mematikan ini.
Menyikapi kondisi tersebut, Ketua Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) Cabang Bali, drh. Dewa Made Anom, memaparkan sejumlah langkah strategis yang wajib segera dibenahi. Ia menegaskan bahwa kunci keberhasilan eliminasi rabies sangat bergantung pada keakuratan data populasi hewan peliharaan serta penguatan penanganan di akar rumput.
Langkah ini mencakup peningkatan edukasi masyarakat, perluasan cakupan vaksinasi pada Hewan Penular Rabies (HPR), hingga pengendalian populasi hewan terlantar melalui program sterilisasi yang manusiawi. Melalui momentum ini, drh. Dewa Made Anom mengajak seluruh pihak untuk memperkuat sinergi demi menyukseskan target Bali bebas rabies, sejalan dengan jargon yang diusung tahun ini.
“Dengan adanya momen peringatan World Rabies Day ini, mari kita—pemerintah, elemen masyarakat, dan instansi terkait—bersama-sama mengatasi rabies sesuai tema acara kita hari ini, Stronger Together. Dengan kebersamaan, kita pasti bisa mengatasi rabies,” tegasnya.
Meski strategi telah dipetakan, tantangan riil di lapangan rupanya masih terganjal oleh masalah klasik. Wakil Ketua PDHI Bali, drh. Dewa Made Hartanaya, membeberkan bahwa keterbatasan dana operasional di tingkat lokal menjadi batu sandungan utama.
“Meskipun pasokan vaksin dari pemerintah pusat sebenarnya tersedia, minimnya dana operasional di tingkat daerah menghambat efektivitas sosialisasi dan pelaksanaan vaksinasi gratis secara masif langsung ke rumah-rumah warga (door-to-door),” ungkap drh. Dewa Hartanaya.
Keterbatasan anggaran ini membuat pergerakan tim vaksinator melambat, terutama saat harus menjangkau wilayah pelosok. Padahal, kesadaran masyarakat di daerah terpencil untuk membawa hewan peliharaannya ke posko vaksinasi mandiri terbilang masih sangat rendah. Oleh karena itu, PDHI Bali berharap peringatan World Rabies Day 2026 ini mampu mengetuk komitmen para pemangku kebijakan daerah agar bersedia mengalokasikan anggaran operasional yang memadai demi menuntaskan masalah rabies hingga ke akarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali (instansi yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan) Dr. I Wayan Sunada, SP., M.Agb., yang juga hadir dalam acara tersebut menyatakan komitmen penuh bahwa dengan segala cara dan upaya, Bali mutlak harus bersih dan bebas dari rabies pada tahun 2030. Target ini menjadi harga mati yang membutuhkan kerja keras luar biasa serta sinergi total dari hulu hingga ke hilir.
Di sisi lain, kemeriahan peringatan Hari Rabies Sedunia kali ini tetap diwarnai dengan berbagai aksi nyata dan hiburan. Acara diisi dengan program sterilisasi gratis untuk anjing liar, vaksinasi rabies gratis, Pet Fun Walk, Lomba Anjing Sehat, hingga Lomba Makan untuk Anjing. Rangkaian kegiatan edukatif dan interaktif ini pun sukses memikat antusiasme tinggi dari masyarakat Bali, khususnya para pencinta anjing dan kucing.***