Indonesia Adalah Negara Multikultural dan Multikulturalisme

Buleleng Bali  -digital yang saat ini menjadi salah satu dunia yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita sehari-hari berisi multikural. Multikultural adalah realitas masyarakat dengan beragam budaya.

Menurut Dr. I Gde Made Metera, M.Si, Rektor Universitas Panji Sakti dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Buleleng, Bali, Kamis 2 September 2021, multikulturalisme merupakan gagasan pandangan ideologi yang dianut oleh masyarakat.

“Dalam multikultural ini masyarakat di dalamnya menerima dan menghargai keberadaan masyarakat dengan beragam budaya,” ujar Made Metera dalam webinar yang dipandu oleh Yulian Noor ini.

Lebih lanjut dikatakannya juga dalam proses multikultural itu ada proses analisis sistem sosiokultural. Kebudayaan merupakan suatu sistem yang memiliki ranah suprastruktur, struktur sosial dan infrastruktur material.

Sementara itu ideologi multikulturalisme ada pada ranah suprastruktur yang bisa direalisasikan pada ranah struktur sosial dan infrastruktur material namun tidak selalu dapat direalisasikan.  Sementara multikultur ada pada ranah struktur sosial dan rana infrastruktur material. Masyarakat multikultur bisa juga memiliki gagasan pandangan ideologi multikulturalisme. Tetapi masyarakat dengan keragaman budaya tidak selalu memiliki gagasan pandangan ideologi.

Terkait hal itu, dikatakannya bahwa faktanya Indonesia adalah negara multikultural dan multikulturalisme. “Indonesia jelas adalah negara dengan masyarakat multikultur, karena masyarakat Indonesia terdiri dari beragam etnik dengan beragam budaya. Indonesia juga negara multikulturalisme karena selain memiliki ideologi Pancasila yang menghargai keanekaragaman, masyarakat Indonesia juga memiliki,” lanjutnya.

Terkait kondisi saat ini, ruang digital adalah juga sebagai ruang multikultur. Ruang digital merupakan ruang terbuka yang dapat diakses oleh semua orang dengan beragam latar belakang budaya. Asalkan bisa baca tulis dan memiliki perangkat teknologinya semua orang bisa membaca dan mengunduh konten yang ada di ruang digital. Demikian juga semua orang bisa menulis dan mengubah konten ke dalam ruang digital. Tak hanya itu orang akan gampang sekali mengunggah tulisan yang menjelekkan atau menghina budaya dan itu bisa memicu konflik di ruang digital  yang akhirnya bisa merambah ke dunia nyata.

“Kalau seperti itu maka ruang digital yang seharusnya bisa memberi manfaat kepada kehidupan kita seperti manfaat untuk bidang pendidikan, pekerjaa dan bisnis. Tapi justru ruang digital akan menimbulkan masalah di ruang kehidupan kita. Inilah yang perlu diupayakan bersama agar jangan sampai ruang digital itu diisi oleh konten-konten yang bisa menimbulkan konflik oleh konten-konten yang saling menjelekkan satu kultur terhadap kultur yang lainnya,” tandasnya.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Dalam webinar kali ini hadir juga Adinda Atika VP Business Development Fintech P2P Lending, Aditya Sani, Founder Briefer.id dan Putri Langi sebagai Key Opinion Leader.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*