Headlines

Cegah Jejak Digital Bawa Dampak Buruk di Masa Depan, Ini yang Harus Anda Lakukan

Kota Tual – Jejak digital menjadi topik perbincangan yang sering muncul di media sosial. Sebab dengan berkembangnya teknologi, seluruh aktivitas seseorang di dunia maya kini bisa terekam dan diakses oleh siapapun.

Grace M. Moulina seorang manager marketing dan komunikasi, menjelaskan bahwa jejak digital yang buruk bisa merusak reputasi seseorang di masa depan.

“Jadi misalnya kita sekarang sering berkata-kata buruk, berkomentar SARA, lalu kita melamar pekerjaan dan calon perusahaan meng-googling nama kita, yang keluar jejak digital yang buruk-buruk, nggak dapat kerja deh jadinya,” tutur Grace, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital wilayah kota Tual, Maluku, Jumat (27/8/2021).

Untuk itu, Grace membagikan langkah-langkah untuk mencegah jejak digital Anda membawa dampak buruk di masa depan.

Pertama, hindari menyebarkan data-data penting seperti alamat rumah, nomor kartu kredit dan kartu debit, hingga nomor telepon di internet. Menyebarkan data-data ini berisiko membuat Anda mnejadi korban phising alias penipuan online.

Selanjutnya, jangan juga menggunakan password yang lemah untuk akun media sosial, dompet digital, maupunb mobile banking. Password yang lemah memperbesar kemungkinan Anda menjadi korban peretasan atau hacking.

Ketiga, gunakan layanan pelindung data pada perangkat pribadi. Misalnya di komputer atau laptop, selalu gunakan software antivirus. Sementara di smartphone, gunakan otentifikasi ganda dan aturan privarsi.

Terakhir adalah menghindari unggahan yang bersifat terlalu personal, mulai dari nama saudara kandung, ibu kandung, lokasi rumah, data diri, dan lain-lain.

“Bijaklah membagikan informasi. Jangan sembarangan menunggah apa yang Anda temukan di media sosial dan internet, karena itu bisa saja kabar bohong,” pesan Grace.

Dalam kesempatan yang sama, Nannette Jacobus seorang relawan kemanusiaan yang juga konten kreator membagikan etika penggunaan media sosial. Salah satunya yang paling penting adalah menggunakan bahasa yang sopan ketika menulis caption.

“Karena tulisan tidak bernada. Tapi salah baca tulisan bisa bikin orang tersinggung. Makanya selalu gunakan bahasa yang baik dan benar, meskipun saat menulis caption,” tuturnya.

Dalam kesempatan ini hadir juga Nihma, S.Sos, duta bahasa dan news anchor serta Ahmad Affandy key opinion leader.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *