Generasi Digital Berpikiran Agresif dan Terbuka

Lombok Timur  -Saat ini masyarakat Indonesia berada pada era digital dimana aspek kehidupan tidak lepas dari penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Masyarakat digital ini adalah realitas hidup di abad 21 dimana manusia dalam berbagai sektor kehidupannya terpaut dengan teknologi digital.

Hal itu dikatakan oleh Astried Finnia Ayu Kirana, S.Sos, Managing Director PT Astrindo Sentosa Kusuma dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, Rabu 1 September 2021. Menurut Astried, saat ini telah terjadi pengesahan pola pikir sikap dan tindakan masyarakat dalam akses dan distribusikan informasi.

 “Masyarakat Indonesia akan semakin mudah dalam mengakses informasi melalui platform teknologi digital yang menawarkan inovasi fitur dan medium komunikasi yang kian interaktif. Dan aspek kehidupan ini tidak lepas dari teknologi informasi dan komunikasi. Untuk itu perlu upaya agar kita semua bisa menjadi masyarakat digital yang cakap akan perkembangan teknoogi,” ujar Astried dalam webinar yang dipandu oleh Claudia Lengkey ini.

Karenanya sejumlah ciri-ciri generasi digital adalah dengan membuat akun sosial media seperti Facebook, Instagram, YouTube, etc, menggunakan search engine (google,Bing,dan lainya). Selain itu generasi digital itu cenderung ingin memperoleh kebebasan dan ingin lebih bersih daripada generasi sebelumnya semisal generasi x.

Selain itu generasi digital biasanya ingin selalu memegang kendali dalam berkreasi dan tidak mau dikontrol serta berpikir agresif dan terbuka

Nah, untuk menjadi masyarakat yang cakap akan perkembangan teknologi  bisa dilakukan dengan cara semisal mengikuti pelatihan atau webiner atau informasi melalui search engine mengenai perkembangan teknologi. Juga cobalah mentaati aturan yang berlaku dalam UU ITE dan memperkuat nilai-nilai moral.

Juga harus diingat kalau kita mendapat informasi jangan langsung ditelan mentah-mentah, cari tahu dulu kebenarannya. Atau bisa diabaikan saja jangan langsung kita terpancing lalu kita menyebarluaskan yang belum tentu kebenarannya.

Untuk bisa teguh pendirian begitu kita harus kuat memegang nilai-nilai moral agar kita tidak terpecah-belah. Karena mungkin di saat jamannya Belanda menjajah Indonesia cukup lama tetapi sekarang kita dijajah melalui ekonomi. Dengan perkembangan teknologi kita juga harus bisa memperkuat nilai-nilai moral agar kita tetap bersatu tidak termakan berita-berita yang belum tentu benar dan valid.

Jika disebut generasi digital maka sepantasnya kita meningkatkan produktivitas karena dengan produktif maka dampaknya yang akan kita dapatkan banyak untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi kita juga.

Yang patut dicatat juga adalah jika kita aktif di media sosial, seharusnya isi media sosial dengan konten kreatif yang positif. Jika jadi youtuber maka masukkanlah konten-konten yang positive. Banyak alasan kenapa kita harus memasukkan konten positif ke dalam ruang digital.

Dan ada 5 tips menjadi masyarakat yang cakap bermedia sosial. Yaitu selalu menjaga privasi, jaga keamanan akun dengan membuat kata kunci yang sulit untuk ditebak. Juga sangat penting adalah menghindari hoax, tidak mudah percaya dengan berita yang diterima sebelum melakukan klarifikasi.

Tips lain adalah sebarkanlah hal-hal yang positif dan gunakan seperlunya atau gunakan media sosial untuk membantu meningkatkan produktivitas diri dan sadari diri jika telah mengalami ketergantungan. “Tetaplah menyebarkan informasi informasi positif sekalipun di media sosial yang sifatnya eksklusif.”

Selain Astried juga hadir pembicara lain yaitu Fendi, Founder of SuperStar Community Indonesia (Digital Entrepreneur Community), Sentosa Kusuma, Aris Sudianto, M.Kom, Dosen Fakultas Teknik Informatika Hamzanwadi Lombok Timur dan Wicha Riska sebagai Key Opinion Leader. 

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*