Mengatasi Kesenjangan Literasi Digital secara Inklusif di Wilayah 3T

0

Yahukimo -Indonesia memiliki beragam budaya di dalamnya. Seperti pada kabupaten Yahukimo yang juga perpaduan dari beberapa suku. Fajar Sidik seorang podcaster dan zinister mengatakan, perpaduan suku di Yahukimo menggambarkan bahwa keragaman tidak bisa dipisahkan di kehidupan kita.
Saat ini, semuanya sudah dituntut berubah yang sebelumnya hanya bisa dilakukan secara terpusat, seperti sekolah dan perkuliahan. Dalam artian, sekarang sekolah bisa dilakukan tanpa tatap muka karena adanya digitalisasi. Untuk berkomunikasi secara intens pun tidak perlu dilakukan secara langsung, tetapi bisa dilakukan melalui telepon atau video call.
Namun, ketika keragaman dipertemukan dengan dunia serba digital akan menimbulkan kesenjangan terkait literasi digital. Di tengah masyarakat digital, kesenjangan digital menjadi sebuah masalah yang harus diatasi bersama.
Menurut data Kementerian Desa mengacu pada Peraturan Presiden nomor 63 tahun 2020, terdapat 62 kabupaten yang termasuk ke dalam golongan masyarakat 3T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal) dan 22 kabupaten di antaranya berada di Papua.
“Sangat banyak wilayah di Indonesia bagian Timur khususnya Papua yang masih termasuk ke dalam masyarakat 3T. Hal ini menyebabkan terjadinya kesenjangan digital yang mana saat ini semua orang sudah membutuhkan internet untuk berkomunikasi, bekerja, dan belajar karena perbedaan kultur, budaya, dan geografis. Semuanya termasuk ke dalam kesenjangan digital,” jelas Fajar dalam Webinar Literasi Digital di Kabupaten Yahukimo, Papua, Senin (11/10/2021).
Kesenjangan digital juga dipengaruhi beragam faktor, seperti gaya hidup, kondisi georafis, ekonomi, pengetahuan, SDM, akses komunikasi, dan lainnya. Saat ini peradaban masyarakat di era informasi, di mana semuanya butuh informasi bahkan untuk berkomunikasi kita perlu informasi.
Kesenjangan ini bisa diatasi bersama-sama secara masif. Ia menganalogikan, sebagai upaya mengatasi kesenjangan layaknya sebuah puzzle. Untuk membentuk gambar secara utuh kita memerlukan beberapa kepingan secara bersamaan.
“Untuk mengatasi puzzle kesenjangan digital bisa dilakukan secara inklusif. Dari pemerintah bisa mulai perlahan-lahan mengembangkan dan mengubah daerah yang belum tersentuh ranah digital, seperti website pemerintahan daerah secara online,” ungkapnya.
Kemudian, perlu juga dibuat pusat data yang mengintegrasikan seluruh data penduduk yang terhubung ke pemerintah daerah.
Di samping peran pemerintah, masyarakat juga perlu turut andil di dalamnya. Ketika infrastruktur telah masuk ke suatu daerah, masyarakat perlu mengembangkan diri dan mampu mengolah segala informasi yang ada. Selain itu, sumber daya manusianya perlu dilatih agar cakap berdigital. Misalnya, keterampilan minat baca masyarakat yang rendah mempengaruhi tingkat literasi digital masyarakat itu sendiri.
Meski infrastruktur belum memadai dan jaringan internet yang belum merata, Fajar menuturkan masyarakat 3T bisa memulainya dengan rajin membaca. Sebab membaca membuat orang bisa mengembangkan dirinya sendiri serta paham akan suatu hal.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kabupaten Yahukimo, Papua, Senin (11/10/2021) juga menghadirkan pembicara, Alex Iskandar (Managing Director IMFocus Digital Consultant), Indah Sari Zulfiana (Dosen), dan Ichsan Colly (Key Opinion Leader).
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *