Pakar Ungkap Tantangan Transformasi UMKM di era Digital

Mataram  -Pandemi Covid-19 berdampak pada banyak sektor tidak terkecuali, Usaha Kecil Mikro dan Menengah. Meski terdampak, UMKM terbukti paling bertahan di tengah pandemi.
Tidak hanya itu, sejarah juga mencatat bahwa UMKM juga menjadi model usaha yang mampu bertahan dan cepat bangkit kala krisis moneter pada tahun 1998 lalu. Namun, UMKM sendiri sebenarnya punya tantangan tersendiri untuk bisa berjalan dan berkembang.
Hal itu diungkapkan oleh Azizah Zuhriyah, Head Division Finance TC Invest, dalam webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Rabu, (16/9/2021).
“Pertama itu untuk mencari sumber daya. Untuk bisa mencari sumber daya yang cocok itu sangat-sangat sulit mungkin dalam satu tahun tahun atau dalam sekian bulan orang bisa berganti. Karena itu mencari karyawan sangat sulit,” kata Azizah.
Selain itu, untuk bisa mendapatkan modal, UMKM juga kerap mendapat tantangan tersenidiri. Salah satunya ketika ingin mengembangkan usaha dan membutuhkan modal namun tidak bisa mendapatkan cicilan.
“Banyak pebisnis yang mengalami kekurangan modal dan ketika dia ingin menambah kapastias usaha dia butuh modal, butuh jaminan, jadi modal bisnisnya juga masih terbatas dan sulit,” kata Azizah.
Selanjutnya yang juga jadi tantangan ialah untuk menjaring dan mempertahankan pelanggan. Lebih lanjut, Azizah juga mengatakan butuh strategi marketing yang tepat agar usaha yang dijalankan bisa berkelanjutan.
Oleh sebab itu, Azizah mengatakan bahwa transformasi online bagi UMKM menjadi suatu keharusan. Ia menjelaskan bahwa transformasi ke UMKKM membuat jangkauaan lebih luas dan bisa terus menjaga kedekatan dengan pelanggan.
Dalam kesempatan yang sama, juga hadir Ketua Bidang Koperasi dan UMKM HAPI Dedi Gunawan, yang menjelasan bahwa tentang bahayanya cyberbullying. Bahkan, dampaknya bukan hanya pada korban, tapi pada pelaku dan pemesanan online.
Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10 juta orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 provinsi dan 514 kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*