Perubahan Transformasi Digital yang Cepat Perlu Diimbangi dengan Budaya Digital

Bima NTB  -Percepatan transformasi digital tidak hanya terkait aspek teknis soal teknologi digital saja, tetapi  budayanya juga. Pasalnya, budaya digital merupakan prasyarat dalam melakukan transformasi digital karena penerapan budaya digital lebih kepada mengubah pola pikir (mindset) agar dapat beradaptasi dengan perkembangan digital.

Lubis Hermanto, S.Sos, M.Ikom, Ilmu Komunikasi STISIP Mbojo Bima, mengatakan untuk sampai ke budaya digital, harus dipahami dulu pemahaman tentang budaya yaitu bagaimana melihat yang terjadi saat . “Pada hakekatnya budaya itu tercipta dari hasil karya kita sebagai manusia yang juga terkait dengan keyakinan akan perubahan,” ujar Lubis dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, Senin 30 Agustus 2021.

Lubis juga membandingkan dengan periode dahulu, dimana seseorang harus menimba ilmu dengan menempuh jarak ribuan kilometer. Sementara saat ini ilmu apapun bisa dengan mudah didapatkan dari sumber mana saja dengan bantuan teknologi digital.

“Karena masyarakat semakin kompleks, apakah digital sebagai kebutuhan atau memang digitalisasi  sebagai budaya untuk sebuah perubahan yang memang harus kita ikuti. Ini pertanyaan yang harus kita jawab,” ujarnya dalam webinar yang dipandu oleh Claudia Lengkey ini.

Untuk itu pengguna gadget harus memilah dulu, kebutuhannya apa kalau hanya untuk sekadar bermain dan mencari hiburan, harus diwaspadai apakah perubahan ini akan merusak pola pikirnya. Khususnya anak muda juga dipertimbangkan apakah perkembangan otaknya, karena kita tidak tahu apa yang anak-anak lakukan di dunia digital. “Kalau kita tidak siap dengan perubahan yang begitu cepat yang harus juga diimbangi dengan penerapan budaya, takutnya nanti kita tidak bisa mengcovernya,”katanya.

Terkait dengan fenomena pendidikan pada Januari 2020 jumlah tenaga pustakawan 3596 orang dan dengan teknologi yang lebih canggih e-learning dan digital sudah ada 164, 610 perpustakaan. Juga saat ini ada banyak sekali metode pembelajaran dan media pembelajaran-seperti ruang guru.

Dibutuhkan peran orang tua yang besar karena bisa menjadi penghubungnya adalah orang tua. Selain itu komunitas perlu dimaksimalkan, sumber daya maksimal ini emang harus dimaksimalkan.  Kita membutuhkan sarana yang memadai.

“Susah sekali mendapatkan akses, jaringan atau internet. Memang di daerah ini mau seperti itu kondisinya, biar pembelajaran itu me rata, harus ada komunitas yang berperan aktif,” ujarnya.

Ditambahkannya juga di era disrupsi covid seperti sekarang ini perubahan-perubahan yang sangat luar dengan pembatasan mobilitas. Setelah era covid nanti kita harus siap untuk menghadapinya agar ilmu itu tetap berjalan berkesinambungan.

Di era digital penting sekali menerapkan literasi digital yang terkait dengan critical thinking and problem solving untuk berpikir kritis, benar-benar berpikir dan ingin mengetahui problem solving apa yang harus kami ambil.

Juga terkait dengan creativity and innovation semisal dengan melakukan face-to-face mematuhi protokol kesehatan ingin juga melihat kondisi masyarakat tersebut. Serta komunikasi dengan selalu memberikan waktu untuk mahasiswa mahasiswa untuk berkomunikasi satu sama lain lewat ruang digital.

Yang tak kalah penting adalah kolaborasi saling bekerjasama dan kepercayaan diri. Sebab pada hakikatnya budaya lahir dari hasil karya cipta manusia begitu juga dengan digital. Digital diciptakan sebagai upaya dalam rangka membantu dan mempermudah tugas manusia.

Budaya digital adalah representasi dari segala keinginan manusia baik yang positif maupun yang negatif, tergantung siapa yang menggunakan dan memahami akan budaya digital itu sendiri. “Karena budaya digital adalah sebuah dimensi ruang yang digunakan untuk mencapai tujuan manusia. Budaya digital akan terus ada apabila kita manusia mampu memelihara akan hasil karya cipta kita secara arif bijaksana demi keberlangsungan hidup generasi yang akan datang,”katanya.

Webinar Literasi Digital di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, merupakan bagian dari sosialisasi Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 yang diselenggarakan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika. Hadir pula nara sumber seperti Shella Nadia, Owner/CEO Artfashion, Fajar Sidik, Zinester & Pdcaster 30 Degree dan Fitriyani sebagai Key Opinion Leader.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*