Waspadai Perangkap Hoaks di Ruang Digital

Buleleng Bali -Salah satu yang harus diwaspadai dari semakin tingginya pengguna internet saat ini adalah penyebaran berita bohong atau hoaks di tengah masyarakat. Sebab tak sedikit masyarakat yang mudah percaya tanpa melakukan cek dan recek apakah berita itu benar dari sumber yang dipercaya.
Hal itu dikatakan oleh Kardian Narayana, Jurnalis Daerah Kompas TV dalam Webinar Literasi Digital wilayah Kabupaten Buleleng, Bali, Senin 4 Oktober 2021. Menurutnya setiap pengguna ruang digital harus mewaspadai perangkap hoaks.
“Seiring dengan cepatnya intensitas pemakaian internet makan hoaks pun beredar dengan cepat lewat media sosial hingga ke grup aplikasi chat. Hoaks yang beredar di grup aplikasi chat tidak dapat dikontrol,” ujar Kardian dalam Webinar yang dipandu oleh Jhoni Chandra ini.
Lebih lanjut dikatakannya bahwa hoaks muncul dan berkembangnya karena dibuat oleh seseorang atau kelompok dengan beragam tujuan. Mulai dari sekadar main-main, tujuan ekonomi, penipuan, dan politik propaganda atau pembentukan opini publik.
Untuk menghindari perangkap hoaks terlebih dahulu kita harus mengetahui apa itu hoaks. Hoaks adalah kabar informasi berita palsu atau bohong. Seperti yang bisa dibaca dalam KBBI hoaks merupakan akses negatif kebebasan berbicara dan berpendapat di internet.
“Hoaks bertujuan membuat opini publik menggiring opini membentuk persepsi juga untuk bersenang-senang yang menguji kecerdasan dan kecermatan pengguna internet dan media sosial,” imbuhnya.
Setelah itu barulah kita mulai mengidentifikasi ciri-ciri berita hoaks agar bisa menghindarinya. Yaitu hoaks biasanya merupakan informasi yang didapatkan dengan menimbulkan kecemasan kebencian atau permusuhan. Berita hoaks juga tidak memiliki sumber yang jelas dan informasinya bersifat menyerang berat sebelah dan tidak netral.
“Selain itu hoaks juga judul beritanya propagative yang tidak sesuai dengan isi memaksa untuk membagikan konten agar viral dan menggunakan data dan foto fiktif agar berita yang ditulis dapat dipercaya. Juga beritanya kerap memanipulasi fakta yang sebenarnya,” katanya.
Ada beberapa langkah untuk menghindari berita hoaks yaitu terlebih dahulu kita harus melakukan verifikasi. Untuk mengantisipasi hoaks kita harus double cek verifikasi dengan melihat juga media mainstream atau media arus utama.
“Ketika menerima berita atau suatu informasi ini yang harus dilakukan coba dicek di kolom-kolom berita yang benar apakah mereka memuat atau tidak. Verifikasi ini juga kita bisa lakukan dengan penelusuran gambar di Google,” katanya.
Selain Kardiyan sejumlah pembicara lainnya yang turut berbagi wawasan tentang literasi digital adalah Adji Srihandoyo, Business Development Director Jasa Tri Capital Investama (TV Invest), Fendi, Founder Superstar Community Indonesia dan Bayu Eka Sari sebagai Key Opinion Leader.
Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.
Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*