Pakar Ingatkan Pentingnya Sopan Santun di Media Sosial

Ambon – Media sosial telah menjadi wahana yang mewarnai wacana di ruang-ruang publik. Pengajar Universitas Pattimura – Falantino Eryk Latupapua mengatakan saat ini media sosial telah menjalankan fungsi ‘kontrol’ terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Banyak juga kebijakan publik ditentukan berdasarkan apa yang menjadi tren di media sosial,” kata Falantino saat berbicara dalam acara Gerakan Nasional Literasi Digital 2021, wilayah Kota Ambon, Maluku, Selasa (29/6/2021).

Saat ini media sosial juga telah memiliki peran dalam melatih kesigapan dan keterampilan masyarakat untuk menukar informasi seperti fakta atau opini.

Hanya saja, Falantino juga memiliki catatan penting bagi warganet Indonesia dalam bermedia sosial, khususnya terkait kecakapan literasi digital.

Warganet Indonesia, kata Falantino, kerap salah kaprah memaknai demokrasi semata-semata hanya sebagai kebebasan berpendapat.

“Ini terjadi karena arus informasi, arus bicara di media sosial hampir tanpa kendali dan menghela hampir semua keterampilan komunikasi yang buruk,” tambahnya.

Faktanya, kebebasan berbicara tersebut telah menjadi bumerang dan membuat warganet Indonesia sebagai netizen paling tidak sopan se-Asia Tenggara. “Demokrasi bukan kebebasan mutlak. Jadi jangan asal tulis, jangan asal posting.”

Selain itu, warganet Indonesia juga cenderung mengenali fakta-fakta teks berisi intoleransi sebagai bagian dari kebebasan berpendapat.

Mereka dianggap kesulitan mengenali fakta teks dan menganggap semua kebebasan berpendapat sebagai wujud demokrasi. “Itu tentu tidak seperti itu.”

Untuk itu Falantino menekankan pentingnya menyadari media sosial sebagai sebuah saluran, dan tidak selalu menjadi wadah yang tepat untuk menyelesaikan masalah.

Warganet Indonesia juga perlu memahami bahwa konsep demokrasi bukan kebebasan mutlak dan bahwa toleransi merupakan bentuk masyarakat yang beradab.

Tak kalah penting, ia juga menekankan pentingnya memperbanyak kosa kata baik guna memiliki kemampuan mengkritik dengan bahasa yang sopan, berbasis data dan fakta, serta memiliki kemampuan sensor mandiri.

“Perbanyak kosa kata baik dan menghindari istilah penggunaan kata hewan dalam konteks umum digunakan untuk memaki,” tutupnya.

Hal serupa juga disorot oleh CEO Tunai Kita – Anggie Ariningsih. Kata Anggie, sangat penting untuk bergaul dan membagikan hal-hal positif di media sosial. Ia juga mengimbau warganet Indonesia untuk setop mengikuti akun-akun yang menyebarkan hal negatif di internet. “Ikuti akun-akun yang membagikan hal-hal positif,” tambahnya.

Selain Anggie dan Falantino, hadir juga dalam acara webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 wilayah Kota Ambon, Maluku adalah Fadly Arihsan,  Sri Rahma Dani dan Zen Anwar.

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. 

Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Please follow and like us:

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*