Mempertahankan Eksistensi UMKM di Masa Pandemi

Jayapura Papua  – memberikan dampak yang cukup besar bagi pelaku UMKM. Agus Jamiatul, seorang General Manager TC Invest mengatakan, pandemi membuat UMKM perlu mengambil langkah strategis guna menjaga eksistensi serta bersaing.

UMKM sendiri merupakan usaha produktif yang dimiliki perorangan atau badan hukum usaha yang telah memenuhi kriteria sebagai usaha mikro, kecil, dan menengah. 

“Pandemi memberi dampak yang cukup besar bagi para pelaku UMKM, seperti penurunan pendapatan dan turunnya daya beli masyarakat. Dan keterbatasan aktivitas masyarakat itu sendiri,” jelas Agus saat mengisi Webinar Literasi Digital di Kota Jayapura, Papua, Senin (6/9/2021).

Menurut Agus, di kondisi seperti ini cara agar pelaku UMKM bisa bertahan dengan memaksimalkan penjualan secara online atau go digital. Pertama, pelaku UMKM harus mengubah pola pikir dari konvensional menjadi virtual. Kedua, menekankan penjualan pada produk yang paling dibutuhkan masyarakat di tengah kondisi pandemi. Ia mengatakan, orang lebih memilih alat-alat kesehatan atau sesuatu yang bisa mencegah mereka terkena virus.

“Para pelaku UMKM ini menjadi pejuang ekomoni. Apalagi pada masa pandemi covid-19, keberadaannya menjadi sangat penting sebab UMKM telah berkontribusi besar terhadap PBD nasional dan menyerap tenaga kerja nasional hingga 97 persen,” paparnya.

Namun, permasalahan terbesar UMKM di masa pandemi yaitu menurunnya pendapatan dikarenakan turunnya daya beli masyarakat dan adanya pembatasan aktivitas sebagai upaya penurunan risiko covid-19. Keterbatasan tersebut terkait dengan modal usaha. Agus menyatakan, modal usaha ini harus diperhatikan karena berpengaruh terhadap eksistensi produksi suatu UMKM. 

Pada penjualan, pelaku UMKM harus mengubah pola pikir mereka bahwa di masa ini ada cara mudah di mana mereka bisa menjaga eksistensi dan meningkakan produktifitasnya dengan go digital. Kemudian, yang terjadi ialah semangat yang menurun atau berkurang. Menurut Agus, ini terjadi pada banyak pelaku UMKM karena pendapatan menurun dan biaya kebutuhan hidup yang semakin tinggi. Lalu, beralih profesi untuk mendapat pekerjaan tetap. Ia menjelaskan, hal yang paling fatal bisa terjadi ialah kebankrutan di masa pandemi yang memaksa pelaku UMKM untuk menutup usahanya.

Agus memaparkan, dalam membertahankan eksistensi para pelaku UMKM harus siap untuk berubah. Pertama, memanfaatkan bakat tersembunyi, terutama bakat pemasaran. Kedua, berkolaborasi dengan para UMKM lain, pihak pemerintah, atau pihak swasta. Ketiga, mampu beradaptasi dengan kebiasaan baru, salah satunya dengan memanfaatkan digital sebagai media berjualan. Keempat, kreatif dan inovatif terhadap kebutuhan para konsumen.

Selain itu, motivasi diri untuk berubah merupakan modal awal yang harus dimiliki pelaku UMKM untuk perubahan ke arah yang lebih baik. Memupuk growth mindset yang juga berguna untuk menghindari rasa pesimis. Dengan growth mindset pemikiran pelaku UMKM akan mencoba berbagai cara agar usahanya terus bertumbuh.

Agus mengimbau, UMKM juga perlu mempertimbangkan diri untuk meningkatkan kecakapan digital sebagai media untuk mengembangkan usahanya. Agar bisa berdampak baik terhadap meningkatnya pendapatan dari UMKM tersebut.

Webinar Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital diselenggarakan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) bersama Siberkreasi. Webinar wilayah Kota Jayapura, Papua, Senin (6/9/2021) juga menghadirkan pembicara, Nico Oliver (Penggiat Digital dan Content Creator), Ulin Epa (Pengusaha), Reza Aditya (Key Opinion Leader). 

Gerakan Nasional Literasi Digital 2021 – untuk Indonesia #MakinCakapDigital merupakan rangkaian panjang kegiatan webinar di seluruh penjuru Indonesia. Kegiatan ini menargetkan 10.000.000 orang terliterasi digital pada tahun 2021, hingga tercapai 50 juta orang terliterasi digital pada 2024.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Literasi Digital di 34 Provinsi dan 514 Kabupaten dengan 4 pilar utama. Di antaranya Budaya Bermedia Digital (Digital Culture), Aman Bermedia (Digital Safety), Etis Bermedia Digital (Digital Ethics), dan Cakap Bermedia Digital (Digital Skills) untuk membuat masyarakat Indonesia semakin cakap digital.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*