Peduli Lingkungan Efektif Ketika Ditanamkan Sejak Dini

0

Kabardenpasar -Pandemi Covid-19 mengajarkan kita semua bahwa ada banyak hikmah yang bisa dipetik dari setiap kesulitan hidup.

Kesulitan hidup saat pandemi memaksa orang untuk dapat bertahan dengan apa yang kita miliki.

Contohnya adalah bermunculannya upaya upaya ketahanan pangan di sejumlah wilayah, komunitas hingga keluarga.

Banyak orang semakin sadar bahwa dengan kesadaran kita untuk peduli lingkungan dan memanfaatkan lingkungan dengan benar, hal ini bisa menjadi tempat bergantung di saat sulit.

Gagasan peduli lingkungan dan ketahanan pangan ini juga yang mencetuskan ide dalam benak Kelian Adat Banjar Tegeh Sari, Gede Mantrayasa.

Ia mengatakan awalnya, saat itu ia berusaha berbagi pengalaman tentang ketahanan pangan di wilayahnya untuk bertahan hidup di masa sulit.

“Saya pikir perlu adanya ketahanan pangan pada setiap keluarga dengan menanam di rumah masing-masing. Jika tidak ada lahan, maka kita bisa manfaatkan apa yang ada misalnya plastik bungkus minyak bimoli atau apa saja,” ujar Gede Mantrayasa dalam acara media gathering di kantor FIF beberapa waktu lalu.

Gede bersama timnya terlebih dahulu melaksanakan survei online tentang ketahanan sosial-ekonomi menghadapi Covid-19.

Dari sejumlah yang mengisi survei, didapat bahwa pangan merupakan kebutuhan mendesak mereka selama pandemi.

Sehingga Gede Mantrayasa tergerak hatinya untuk membentuk Satgas Banjar Berdaya Covid-19 Tegeh Sari-Tonja, saat itu.

“Setelah program ketahanan pangan
Kemudian kami juga mempergunakan sosial media terutama instagram yang kami beri nama kebun berdaya. Semua ada informasinya di sosmed kebun berdaya,” imbuhnya.

Gagasan inilah yang menarik perhatian Astra Indonesia menjadi salah satu Kampung Berseri Astra (KBA) 2021 di Banjar Tegeh Sari Tonja.

Banyak yang tak punya lahan luas, kami pergunakan planter bag yang ditanami jenis-jenis tanaman yang menjadi kebutuhan utama warga seperti sayur-sayuran, empon-empon, dan bumbu dapur.

Planter bag yang sudah diisi ini kemudian dibagikan kepada masyarakat sekitar. Harapannya planter bag tersebut bisa dikembangkan sendiri oleh warga, sehingga mereka bisa memenuhi kebutuhannya secara mandiri.

“Kebun yang dikembangkan ini dimanfaatkan pula oleh anak-anak sebagai tempat rekreasi, sekaligus ruang kreatif bagi komunitas. Mereka kerap menggelar acara pemutaran film, talkshow, edukasi urban farming,” terangnya.

Seiring dengan semakin banyaknya keluarga yang memanfaatkan lahan di rumah atau menanam di lahan terbatas agar tercipta “kebun-kebun keluarga” maka kegiatan melebar untuk bagaimana memilah sampah dari sumbernya atau di rumah.

“Kita tambah lagi programnya pengolahan sampah berbasis sumber. Memang sulit tapi ini masalah yang harus diselesaikan. Walaupun susah tapi kita harus coba kita ajak teman-teman yang lain yang konsen dengan lingkungan hidup,” bebernya.

Kemudian ia juga membuat program “sumur-sumur” tempat penampungan sampah-sampah di pinggir jalan sehingga bisa dipakai 5 atau 6 keluarga untuk menghasilkan kompos yang bisa dipakai untuk kebun keluarga.

Hal ini akan berimbas menjadi pembuatan makanan sehat untuk keluarga. Semisal.membuat nugget untuk anak anak dari daun kelor hasil kebun rumah.

Pengolahan sampah berbasis sumber ini juga butuh sosialisasi untuk seluruh anggota keluarga.

Sehingga ia merasa perlu membawa anak anak ke TPA. Anak-anak dilibatkan karena ketika ngomong lingkungan, tidak bisa diskusi saja.

Menurutnya mengajak anak anak ke TPA menjadi hal yang penting agar mereka tahu seperti apa TPA itu dan kita harus menggerakkan anak-anak supaya anak-anak terbiasa bergerak di lingkungan sejak dini.

“Anak anak harus diedukasi tentang kepedulian terhadap lingkungan sejak dini agar mereka punya pemahaman kenapa penting peduli terhadap lingkungan,” tuturnya.

Dan setelah banyak program, ia mengatakan perlunya sebuah lembaga berupa perkumpulan yang programnya hingga ke Nusa Penida.

Semisal mengadakan pentas atau workshop hingga podcast di tengah kebun.

Juga tengah dirancang sebuah aplikasi bagaimana menghitung tanaman yang ada di rumah-rumah, sebarannya seperti apa dan kapan panennya akan bisa diketahui.

Sementara itu Corcom Astra Motor Bali, AA. Raka Sri Mayuni menjelaskan, Ajang kompetisi Penghargaan SATU Indonesia ini, berupaya menjaring anak bangsa yang senantiasa memberi manfaat bagi masyarakat melalui lima bidang yaitu kesehatan, pendidikan, lingkungan, kewirausahaan, dan teknologi.

“Tahun 2022 ini merupakan tahun ke-13 penyelenggaraan SATU Indonesia Awards oleh Astra,” tuturnya.

Tema diusung Semangat Bergerak dan Tumbuh Bersama, Astra mengajak masyarakat khususnya para generasi muda untuk semangat bergerak melakukan perubahan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *