Kolaborasi TNI-Polri dan Dunia Usaha Tanam Mangrove di Pulau Pudut Tanjung Benoa untuk Perkuat Ketahanan Nasional

0

KABARDENPASAR — Dalam rangka memperkuat ekosistem pesisir sekaligus menjaga ketahanan maritim, jajaran TNI Angkatan Udara (Lanud I Gusti Ngurah Rai) berkolaborasi dengan elemen TNI-Polri, pemerintah, dunia usaha, dan organisasi kemasyarakatan menggelar aksi penanaman bibit mangrove serta bersih-bersih pesisir pada Minggu (30/8/2026).

Aksi lingkungan yang mengusung tema “Konservasi sebagai Pilar Ketahanan Nasional” ini dipusatkan di Pulau Pudut, Kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Ngurah Rai, Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Bali. Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian peringatan Bulan Kemerdekaan Republik Indonesia dan Hari Konservasi Alam Nasional Tahun 2026.

​Kegiatan tersebut diinisiasi bersama oleh Lanud I Gusti Ngurah Rai, UPTD Tahura Ngurah Rai, Asosiasi Galangan Samudra Indonesia (AGSI), dan Kawan Alam Indonesia. Sejumlah instansi penting turut menerjunkan personelnya, termasuk perwakilan dari TNI Angkatan Laut (AL), Ditpolairud Polda Bali, pelaku industri, LSM lingkungan, hingga kelompok nelayan lokal seperti Kelompok Nelayan Balaram.

​Komandan Lanud I Gusti Ngurah Rai, Kolonel PNB David Dwi Martin W., S.M., menegaskan bahwa upaya menjaga kelestarian lingkungan pesisir bukan sekadar aksi seremonial, melainkan bagian nyata dari pengabdian dan ketahanan nasional.

​”Hutan mangrove di kawasan Bali Selatan memiliki peran vital sebagai benteng alami dalam menghalau abrasi serta menjaga keseimbangan ekosistem pariwisata Bali,” tegas Danlanud.

​Selain melakukan penanaman bibit baru, seluruh pihak yang hadir berkomitmen untuk melakukan monitoring dan perawatan berkala guna memastikan bibit mangrove yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan memberikan dampak ekologis yang berkelanjutan bagi masa depan maritim Indonesia.

Dunia Usaha Dorong Keseimbangan Ekologi dan Ekonomi

​Ketua Umum Asosiasi Galangan Samudera Indonesia (AGSI), Alif Fian Nurcahyamto, menyatakan bahwa dunia usaha memiliki tanggung jawab moral dan sosial terhadap keberlanjutan lingkungan.

​“Konservasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas lingkungan. Dunia usaha juga harus mengambil bagian. Yang kita lakukan hari ini adalah bagaimana kepedulian itu diwujudkan dalam aksi nyata,” ujar Alif.

​Ia menilai kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti bahwa setiap elemen masyarakat dapat mengambil peran sesuai kapasitas masing-masing. Harapannya, kegiatan ini tidak berhenti pada seremoni penanaman semata, melainkan berlanjut pada komitmen merawat kawasan secara konsisten.

​“Prinsip yang harus kita jaga adalah keseimbangan antara ekologi dan ekonomi. Ekonomi butuh lingkungan sehat, dan lingkungan sehat butuh aktivitas ekonomi yang ramah lingkungan. Kalau kita hanya mengejar pertumbuhan ekonomi tanpa memperhatikan lingkungan, maka keberlanjutan akan menjadi persoalan di kemudian hari,” tambahnya.

​Senada dengan hal tersebut, Sekjen AGSI yang juga Legal Consultant PT Dirman Fiberglass Pratama dan PT Galangan Perkasa Pratama, Febri Hantari, S.H., menyebut aksi ini sebagai batu pijakan awal untuk membangun sinergi yang lebih solid.

​”Kami memastikan bahwa gerakan penanaman mangrove ini memiliki dampak jangka panjang melalui keberlanjutan program dan pengembangan kawasan secara berkesinambungan,” jelas Febri.

Pentingnya Koordinasi dengan Desa Adat dan Perawatan Berkala

​Dukungan juga datang dari Bendesa Adat Tanjung Benoa, I Made Wijaya, S.E. (yang akrab disapa Yonda). Ia menyambut baik gerakan pelestarian ini, namun mengingatkan pentingnya koordinasi dengan pihak Desa Adat Tanjung Benoa bagi siapa saja yang hendak melakukan penanaman di wilayah Pulau Pudut.

​”Kalau untuk penanaman mangrove harus berkoordinasi dengan pihak desa adat supaya bisa menunjukkan lokasi atau jalur mana yang bisa ditanami dan mana jalur yang tidak boleh ditanami, karena ada agenda lain seperti penataan untuk tempat wisata,” urai pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Badung tersebut.

​Sementara itu, Kepala UPTD Tahura Ngurah Rai, I Putu Agus Juliartawan, mengapresiasi keterlibatan penuh TNI-Polri dan elemen masyarakat. Menurutnya, Tahura Ngurah Rai memiliki fungsi ekologis yang sangat luas sehingga tidak bisa dikelola sendirian oleh pemerintah.

​“Tahura Ngurah Rai merupakan kawasan yang harus kita jaga bersama. Penanaman mangrove harus berjalan bersama dengan pemeliharaan kawasan. Kalau kita menanam tetapi kawasan tidak dijaga, hasilnya tentu tidak akan maksimal,” terangnya.

​Penutup rangkaian aksi diisi dengan aksi bersih-bersih sampah pesisir. Founder Kawan Alam Indonesia, Henny Paula Sitohang, menekankan bahwa Pulau Pudut menjadi ruang nyata untuk menerjemahkan konsep ketahanan nasional melalui aksi lingkungan.

​“Menanam adalah awal. Setelah itu ada tanggung jawab untuk merawat, menjaga, dan memastikan ekosistemnya tetap hidup,” pungkas Henny.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *